Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 96


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja jadi tak perlu khawatir berlebihan," kata Arin meyakinkan Abraham.


Arin tahu Abraham pasti menghawatirkan dirinya saat tanpa sengaja Veli menemui dirinya, Arin paham mungkin sang suami takut dirinya bersedih mengingat semua kenangan pahit yang telah Veli berikan.


Arin maupun Abraham masuk ke dalam mobil, keduanya tersenyum melihat si kembar yang sudah tertidur pulas.


"He he he he he," Abraham terkekeh melihat betapa lucunya mereka saat tertidur.


"Pasti mereka terlalu lama menunggu jadi kelelahan," kata Arin.


"Atau mungkin karena kekenyangan," kata Abraham.


Mobil pun melaju menuju ke arah mension.


"Lho katanya kita mau ke EO mas?" Tanya Arin.


"Pasti kamu lelah, jadi biarlah semua Bimo yang mengurusnya nanti dengan adikmu," jawab Abraham, Arin pun menyetujui usulan sang suami.


☘️☘️☘️☘️


Setelah kejadian itu Arin tak pernah lagi bertemu dengan Veli, ya hanya Abraham saja yang bertemu seorang diri dengan Andi.


Mengingat kandung Arin yang sudah cukup besar membuat Abraham takut sesuatu terjadi dengan Arin, karena Abraham takut Arin berpikir macam-macam sehingga berdampak ke anak yang ada di dalam kandungannya.


Arin pun menurut dengan kata sang suami, terlebih lagi kandung yang besar membuat dirinya tak leluasa berpergian kemana pun, Arin lebih suka berdiam diri di rumah, karena semua yang dia butuhkan pun sudah tersedia di rumah.


Dokter kandungan akan, pelatih senam kehamilan pun Abraham akan datangkan demi istri dan anaknya.


Tak menutup kemungkinan terjadi sesuatu terlebih lagi Abraham beberapa kali mengajak Arin menemui rekan bisnisnya, membuat Abraham sedikit takut karena pesaingnya bisa saja mengancam nya melalui anak dan istrinya.


☘️☘️☘️


Hari yang di tunggu Abraham pun tiba, hari ini paviliun depan tengah di sulap dengan dekorasi megah untuk acara 7 bulan Arin. Tamu yang hadir pun hanya keluarga dan kerabat maupun rekan bisnis Abraham.


Tamu sudah berdatangan, ada Hendra yang tengah duduk manis di samping perempuan cantik dengan malu-malu. Sedangkan Tio masih memangku Aurel, Bimo pun menjaga Abrian. Dokter Rian pun datang bersama wanita cantik yang pernah menjadi pasiennya, ya pasien yang selalu mengejar cinta nya tanpa henti sehingga membuat dokter Rian luluh.


Doni pun hadir bersama mbak Tina, pemandangan itu tak luput dari Tio.


Abraham mengandeng tangan sang istri dengan pelan menuju paviliun, Arin maupun Abraham ikut memalui serangkaian proses 7 yang di tentukan.


Tak lupa pengajian dan doa untuk bayi yang ada di kandungan Arin, serta meminta kelancaran proses persalinan nanti.


Setelah semua selesai tinggallah acara makan-makan. Semua mengambil makanan sambil bercengkrama.


"Wah selama ya tuan, nyonya," sapa Hendra.


"Terimakasih ya Hendra," jawab Arin dan Abraham setempak.


"Ehemm siapa tuh hen, lengket banget seperti perangko," ejek dokter Rian yang muncul dari belakang.


"Kenalkan ini Wanda, calon istri saya," ucapannya malu-malu.


"Cie kapan nikah," tanya dokter Rian.


"Mungkin 5 bulan lagi, menunggu kuliah Wanda selesai," jawabnya enteng.


"Ehemmm...." Abraham berdehem membuat keempat orang di depannya canggung. Jangan lupakan tatapan matanya.


"Kalian mau ngobrol di sini atau memberi ucapan selamat, kasihan istriku. Kalau ngobrol kita semua duduk di sana," kata Abraham.


Kedua sahabatnya itu pun mengangguk setuju.


"Hati-hati sayang," Abraham menuntun Arin.


"Ck ngumbar kemesraan, untung sudah ada yang di gandeng,' celetuk dokter Rian tanpa sadar.


Sedangkan wanita cantik di samping dokter Rian tersenyum, dia baru mengetahui sifat asli dokter Rian. Ya dokter Rian terkenal dengan sikap dingin nya kepada siapapun jadi dia sedikit kaget melihat dokter Rian bicara panjang lebar.


Sedangkan di tempat berbeda....


Mbak Tina tanpa sengaja bertemu dengan Tio saat dia baru kembali dari toilet.


"Maaf," mbak Tina meminta maaf dengan menunduk tanpa melihat orang yang di tabrak nya tadi.


Mendengar orang itu diam saja, mbak Tia pun mendongak.


Deg....


Betapa kagetnya mbak Tina melihat sosok tampan yang dia tabrak tadi.


"Ti-o...." Mulutnya terasa keluh untuk menyebutkan nama pemuda tampan itu.


"Kenapa kamu pergi tanpa meninggalkan pesan kepada ku?" Tanya Tio dengan geram.


"A-aku....." Sulit sekali mbak Tina untuk berbicara, dia juga tak mungkin menjelaskan semua kebenarannya.


"Cepat katakan, sungguh aku kecewa dengan mu," kata Tio.


"Aku harus pulang karena ibuku sakit," jawab mbak Tina menunduk.


'Maaf Bu, aku harus memakai nama mu untuk berbohong karena jujur aku binggung harus menjawab apa,' batin mbak Tina.


"Kenapa kamu tak menghubungiku?" Tio masih mencerca mbak Tina dengan berbagai pertanyaan.


"Kenapa juga hari ini kamu datang bersama Doni dan mengandeng tangan dia dengan mesra," kata Tio dengan sinis.


"A a-akuu....." Belum sempat mbak Tina menjawab muncullah seorang berperawakan tinggi besar mendekati mereka.


"Sayang," teriak Doni dengan keras, saat dia melihat Tio dan istrinya tengah mengobrol.


Tio menoleh ke sumber suara, tangan nya terkepal kuat menahan gejolak emosi di dalam hatinya.


"Selamat berbahagia," setelah mengucapkan itu Tio pergi membawa luka di hatinya.


Hari ini tahu semuanya, alasan wanita itu pergi tanpa pamit.


Doni berfikir kalau Tio dan istrinya hanya bertegur sapa karena dulu mbak Tina sempat bekerja dengan nyonya Arin otomatis dia juga akrab dengan Tio.


Doni berpapasan dengan Tio sedikit menunduk untuk menyapanya nya, Tio pun hanya mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua. Hatinya terlalu sakit sampai mulutnya tak mampu berbicara.


Mbak Tina memandang kepergian Tio dengan penuh penyesalan.


'Maaf dan semoga kamu bisa menemukan wanita yang baik dan pantas bersanding dengan mu,' batin mbak Tina sedih.


Mbak Tina berdoa untuk Tio.


"Dari tadi aku cariin," kata Doni membuat mbak Tina merasa bersalah.


"Maaf tadi aku ingin buang air kecil dan karena terburu-buru aku tidak sempat berpamitan dengan mu," jelas mbak Tina menunduk.


Doni menghela nafas panjang, dia begitu menghawatirkan sang istri.


"Ya sudah tidak apa-apa, lain kali mau kemana pun kamu harus bilang sama aku," pinta Doni. Sang istri awalnya engan untuk menemui Arin karena dia begitu malu namun dia juga tidak mau membuat suaminya kecewa.


Meski ragu namun mbak Tina pun akhirnya mengangguk setuju.


"Ayo kita mengucapkan selamat kepada tuan Abraham dan nyonya Arin," ajak Doni.


Melihat raut wajah sang istri yang terlihat ragu, Doni pun penasaran.


"Kalau kamu ragu, kita bisa langsung pulang saja," bujuk Doni.


"Aku hanya malu atas semua perbuatan ku di masa lalu," jelas mbak Tina.


"Ayo kita bertemu nyonya Arin, dia wanita yang baik pasti memaafkan semua kesalahanmu waktu itu," jelas Doni membuat mbak Tina mendongak menatap mata pria itu.


Mbak Tina pun tersenyum tulus membenarkan ucapan sang suami. Keduanya pun jalan bergandengan tangan.


B E R S A M B U N G....


LIKE LIKE LIKE