Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 81


'Apa yang membuat dia sampai berada di tempat ini? Terus apa yang terjadi kepadanya sehingga penampilan nya begitu memprihatinkan,' batin pria itu penasaran.


'Aku sungguh bersyukur bertemu dengan nya di sini, entahlah hari ini aku begitu senang melihatnya. Ku berharap semoga dia bisa menyelamatkan ku dari pria-pria yang menyeramkan itu. Oh ya kenapa dia bisa berada di sini? Apa dia pindah ke daerah ini? Aku harus meminta bantuan nya untuk bisa keluar dari sini,' batin Veli.


Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


"Ha ha ha ha ha akhirnya kamu menyerah juga ya wanita cantik, ayo ke sini cantik jangan takut datang lah ke Abang," kata pria berkepala plontos itu tertawa senang saat melihat buruannya sudah ada di depan mata.


Veli menoleh ke arah sumber suara, matanya melotot kaget, tubuhnya tiba-tiba menggigil ketakutan. Veli tak bisa bayangkan jika mereka menangkap dirinya.


Veli pun langsung berdiri, dia berlari bersembunyi di balik punggung lelaki itu.


"Hiks hiks hiks hiks hiks tolong aku," lirih Veli ketakutan.


Veli mengeratkan genggaman tangannya ke lengan lelaki tampan itu.


Tiba-tiba pikiran Veli melayang ke beberapa tahun silam, saat melihat Arin yang di usir dari kampung nya. Sekarang dia sadar ternyata dia tidak bisa hidup di luar sendirian tanpa ada sosok yang melindungi, sedangkan Arin dulu. Veli pun merasa bersalah atas semua yang dia lakukan ke Arin.


Mungkin benar kata orang penyesalan datang di akhir, itulah yang Veli rasakan saat ini. Dia merasakan hidup sendirian.


Sedangkan pria itu merasakan tubuh Veli yang bergetar ketakutan, cengkraman tangan Veli begitu erat seakan meminta perlindungan.


Dia menghela nafas panjang, niatnya ke sini untuk mengantarkan barang tetapi dia justru bertemu Veli dengan kondisi seperti ini.


"Hei kamu siapa? cepat pergi jangan ganggu kesenangan kita," ancam pria berbadan gemuk.


"Iya pergi kamu jangan ikut campur urusan kita," bentak pria kurus.


"Tolong aku, jangan tinggalkan aku," lirih Veli yang masih bersembunyi di belakang punggung kokoh itu.


"Pergi kalian jangan ganggu dia," teriak Jo dengan tegas.


Ya pria itu tak lain adalah Jo, dia sedang berada di sekitar sini karena mengantar barang pesanan konsumen.


Jo mencari alamat sedari tadi namun dia malah nyasar ke tempat kumuh ini, yang membuat nya kaget adalah Veli.


"Ha ha ha ha kamu jangan ganggu kesenangan kita," ucap pria berkepala plontos dengan garang.


Jo memandang ke semua orang itu.


'Apa aku bisa melawan semua orang itu,' batin Jo sedikit gentar saat melihat semua pria yang ada di depannya.


"Jangan ganggu dia, pergi kalian semua," teriak Jo menampakan wajah garangnya.


Jo sebenarnya ketakutan, kalau dia melawan 3 orang tentu Jo tak takut tetapi melihat 5 orang itu tentu bukan lawan seimbang untuk dirinya.


Jo menoleh ke arah Veli yang ketakutan.


"Sttt... Jangan takut, kamu harus bantu aku. Kamu ikuti saja semua ucap ku," kata Jo berbisik kepada Veli.


Veli mengangguk setuju, yang penting dia bisa selamat itulah pikir nya.


"Pergi kalian jangan ganggu istriku," teriak Jo menunjuk ke arah mereka semua.


"Ha ha ha ha ha ha ha... Kamu jangan berbohong dengan mengatakan dia adalah istri mu," teriak pria berbadan gemuk yang tak percaya ucapan Jo.


'Aduh bagaimana ini?' batin Veli.


'Ha sialan mereka, apa yang harus ku lakukan,' batin Jo mengumpat kesal.


Tiba-tiba Jo teringat sesuatu.


Jo pun mengeluarkan dompet nya.


Pria di depannya memandang penasaran.


"Ha ha ha ha dia mau ngeluarin duit buat kita mungkin," kata pria kurus itu saat melihat Jo membuka dompetnya.


"Ini kalian bisa lihat kalau dia istriku," teriak Jo mengeluarkan foto pernikahan nya dengan Veli.


Mereka pun menarik foto itu dari tangan Jo, mereka mengamati wajah keduanya.


"Benar mereka itu suami istri," bisik temannya.


"Halah paling ini foto editan, kenapa sampai istrinya penampilan nya begitu,"


"Iya jangan percaya dengan foto ini,"


Mereka pun berbisik berunding, tatapan mereka tak lepas dari Jo dan Veli.


Melihat semua orang di depannya seakan tak percaya, tiba-tiba terlintas ide di pikirannya.


"Sayang kenapa kamu sampai di sini, tadi kamu bilang mau berangkat ke pesta ulang tahun teman kamu," kata Jo berpura-pura khawatir sambil memegang tangan Veli.


"Tadi aku di rampok terus aku lari sampai ke tempat ini," jawab Veli.


Jo pun memeluk tubuh Veli, dia membelai rambut Veli, sedangkan Veli langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jo.


"Ayo kita tinggalkan mereka," ajak pria berbadan gemuk itu kepada semua temannya.


Dia tak ingin menganggu istri orang terlebih lagi ada suaminya.


Mereka semua pun meninggalkan Veli dan Jo.


"Terimakasih," lirih Veli.


Jo pun mengajak Veli untuk ikut dengan dirinya. Mereka berdua berhenti di rumah makan sederhana. Jo pun berinisiatif memesan makanan untuk dia dan Veli.


"Ayo makanlah," ajak Jo saat makanan yang di pesan sudah datang.


"Terimakasih Jo, entah bagaimana nasibku kalau kamu tidak ada di sana. Maaf kan aku selama ini telah membuatmu menderita," kata Veli menunduk karena malu.


"Jangan berterimakasih terus, mungkin aku di takdirkan untuk menolong mu saat ini. Apa yang membuatmu bisa berada di sana?" pertanyaan itu pun meluncur bebas dari mulut Jo.


'Apa aku harus jujur dengan Jo,' batin Veli.


Melihat Veli yang masih terdiam membuat Jo pun mengurungkan niatnya untuk meminta jawaban.


"Kalau kamu keberatan, aku tidak memaksa mu untuk berbicara jujur saat ini," kata Jo saat melihat raut wajah Veli yang menegang.


Entah apa yang di alami mantan istrinya itu sampai dia bisa seperti ini.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, ini semua balasan atas semua kejahatan ku kepada Arin," lirih Veli terisak.


"Hah apa maksudmu," tanya Jo yang kaget mendengar ucapan Veli.


Veli pun menceritakan semua nya tanpa ada yang tertinggal satu pun, dia bersyukur saat anak buah Hendra dan dokter Rian membawa dia ke rumah tante Sarah, Veli berhasil kabur saat mobil sedang berjalan hal itu membuat dia terluka.


Jo menghela nafas kasar saat mendengar semua cerita dari Veli, Jo berharap Veli bisa berubah lebih baik dari sekarang.


"Aku harap kamu sadar dan mau bertaubat," kata Jo.


"Suami Arin bukan orang sembarangan, dia tidak akan mengusik kita kalau kita tak mengusik dia terlebih dahulu," jelas Jo saat mengetahui karakter dari Abraham.


"Iya aku tidak ingin berurusan lagi dengan suami Arin maupun sahabatnya itu, tolong bantu aku," lirih Veli.


"Apa yang harus ku bantu?" tanya Jo.


Jo merasa kasihan, bagaimana pun Veli adalah ibu dari anaknya.


"Jo bagaimana kabar anak kita, terus di mana dia sekarang?" tanya Veli.


"Dia baik, sekarang aku menitipkan dia di rumah temanku," jelas Jo membuat Veli menjadi sendu.


Veli sedih karena sifat iri nya membuat dia kehilangan semua nya termasuk anaknya.


"Apa aku bisa bertemu dengan nya?" tanya Veli menunduk. Dia sedikit takut Jo tak mengijinkan dia bertemu anaknya itu.


Jo melirik ke arah pergelangan tangan nya.


"Maaf aku harus pergi, kamu bisa pesan lagi biar aku bayar," kata Jo hendak berdiri.


Veli mengeleng sebagai tanda tidak ingin menambah lagi.


Jo pun melangkah meninggalkan Veli.


"Jo tunggu," kata Veli mencekal tangan Jo.


Jo pun menoleh ke arah Veli dengan penuh tanya, apa yang akan Veli katakan itulah isi pikiran Jo.


"Aku minta maaf tentang semuanya, bolehkah aku ikut dengan mu," lirih Veli.


Jo mendengar itu pun mengerutkan keningnya.


"Maksudku... Aku ingin menjadi istrimu lagi, berikan aku kesempatan lagi," lirih Veli menunduk.


"Maaf..." kata Jo merasa tak enak.


Jo pun mengeluarkan uang 2 juta dari dompetnya, karena hanya itu yang tunai yang dia miliki.


"Ini buat kamu, kamu bisa menyewa tempat tinggal, maaf," Setelah itu Jo pun meninggalkan Veli sendirian.


B E R S A M B U N G....


VOTE, LIKE, KOMENTAR, FAVORIT, GIFT ๐Ÿ™