Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 189


Keesokan harinya...


Bocah kecil itu menghela nafas panjang dia teringat perkataan dokter Rian yang begitu menyinggung perasaan nya, kata penolakan itu memang masih terbayang di benak bocah tampan itu sampai saat ini.


"Huu dasar om jelek, akan ku buktikan kalau aku akan menjadi lebih hebat, ayo kita buktikan saja... Aku atau anakmu ya ke tertarik kepadaku," itulah janji yang Abrian yakini di dalam hatinya.


Puk...


Tepukan kecil itu membuat Abrian kecil itu menoleh, untuk melihat siapa yang sudah menganggu nya.


"Oh papa," kata Abrian saat melihat sang papa sudah berada di belakang nya.


"Hai sayang sedang memikirkan apa?" Tanya sang papa penuh perhatian.


"Tidak pa, cuma lagi menatap awan itu ternyata indah ya," jawab Abrian mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk ke arah awan yang bergelantungan di langit.


Abraham mengelengkan kepalanya, entahlah meskipun masih kecil putranya itu berfikir dewasa. Abraham sedikit menyayangkan karena akhir-akhir ini sang anak sering terdiam melamun sendiri semenjak kejadian itu.


"Anak papa yang tampan ini sedang mikirin apa?" Tanya Abraham penasaran.


Abrian hanya menjawab dengan mengelengkan kepalanya. Abrian engan untuk berbicara dengan sang papa.


"Papa tahu pasti Abrian masih memikirkan ucapan om Rian kemarin, jangan di masukan ke hati. Jadikan itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik di masa depan nanti. Jadi anak papa di jangan bersedih. Ayo kita berdua buktikan kalau Abrian nanti akan jadi laki-laki yang hebat," nasihat Abraham kepada sang anak.


"Iya pa... Tentu Abrian akan buktikan hal itu, biar om jelek itu menyesal telah menolak ku pa," jawab Abrian seraya mengepalkan tangannya dengan penuh keyakinan.


"Ayo kita jalan-jalan, mumpung hari ini kalian berdua libur dan papa juga libur, ayo kita ke pantai main pasir," ajak Abraham.


Abrian mengangguk setuju. Abraham berjalan menuju ke dalam rumah kecil Abrian di belakangnya.


"Sayang ayo sini, mama punya kue kesukaan Abrian,"


Arin melambaikan tangan ke arah dua laki-laki tampan kesayangannya.


Abrian pun langsung menghampiri sang Mama yang duduk di karpet sambil memangku Andra dan jangan lupa Aurel yang sudah duduk manis di sana sedari tadi sambil mencicipi kue dan tak henti-hentinya tangan Aurel memasukkan kue itu ke dalam mulutnya.


"Hei jangan makan terus nanti kamu gendut seperti bola," tegur Abrian kepada sang adik karena melihat adiknya makan tanpa henti.


"Ish kak Abriaaaaannn....." Teriak Aurel begitu kesal saat pipinya dicubit oleh sang kakak.


"Maaa... Tuh kak Abrian nakal, pipi Aurel jadi sakit nih," gadis kecil itu merajuk mengadu kepada sang mama sambil menunjukkan pipi nya yang sakit akibat ulah sang kembaran.


"Sudah jangan ribut," kata Arin memperingati keduanya.


Sedangkan Abraham tak menghiraukan pertengkaran mereka, dia sibuk menggoda Andra yang tertawa lepas.


Abraham lalu beralih menatap mereka semua, istri dan ketiga anaknya. Sungguh Abraham bersyukur hidupnya yang dulu sunyi sepi sekarang lebih berwarna dengan kehadiran mereka.


Abraham tersenyum lembut menatap ke arah keluarga kecilnya itu.


"Ayo kita berangkat," ajak Abraham mengendong Andra.


"Ha....! Kemana??" Tanya Arin yang binggung tak mengerti apapun.


Arin pun bergantian menatap Abraham dan Abrian, seolah meminta penjelasan dari dua orang itu.


Abrian menepuk kening nya, "Papa belum bilang ke mama kalau kita mau ke pantai?" Tanya Abrian memastikan.


"He he he he he he, belum. Kan tadi papa spontan bicara sama Abrian saja, lupa belum bilang mama," jelas Abraham di sertai tawa canggung, membuat Arin mengelengkan kepalanya.


"Biasa papa sudah tua jadi sering lupa," ledek Arin yang kesal kepada sang suami. Mendengar ucapan dari sang istri, Abraham pun melotot kesal ke arah sang istri.


Naluri bocah kecil itu, mengikuti saudaranya yang tertawa.


"Tua-tua begini papa masih tampan dan gagah. Banyak wanita yang masih terpesona sama ketampanan papa," kata Abraham dengan narsis karena tak suka di sebut tua oleh sang istri tercintanya itu.


Arin yang mendengar itu pun menjadi kesal, dia langsung melotot ke arah suaminya itu.


"Awas saja kalau berani tuh mata lirik-lirik cewek lain," ancam Arin kepada Abraham dengan wajah melotot penuh ancaman.


G L E E K.....


Rasanya tenggorokan Abraham langsung kering seketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang istri.


Niat hati ingin bercanda kepada sang istri, justru membuat singa betina nya itu kesal dan marah kepada nya.


"He he he he he he, canda sayang," Abraham meringis melihat wajah horor sang istri.


"Ayo ma, pa kita ke pantai sekarang kau siang nanti panas," kata Abrian mengalihkan perhatian mereka.


"Iya ma, ayo Aurel sudah tak sabar untuk bermain air," kata si cantik itu dengan wajah berbinar.


"Siap Sayang," jawab Arin.


Setelah itu dia mengatur art dan baby sister anaknya untuk menyiapkan kebutuhan mereka nanti.


20 menit kemudian semua sudah siap di dalam mobil.


Aurel, Arin dan Abrian bernyanyi sedangkan Abraham mengemudikan mobil nya sendiri. Para bodyguard setia mengikuti mereka di belakang.


Akhirnya mereka pun sampai di pantai. Pantai cukup sepi mungkin karena cuaca sedikit mendung.


Mereka semua pun turun, Aurel langsung berlari menuju ke arah pantai, Aurel tak sabar ingin bermain pasir basah.


Bimo dan Doni berserta para pengasuh mereka sudah bersiap menjaga Aurel dan Abrian.


Abraham dan Arin memilih duduk mengelar tempat di bawah pepohonan yang teduh.


"Kita seperti piknik ya sayang," kata Abraham terkekeh lucu.


"Terimakasih telah hadir di hidup ku, memberiku anak-anak yang lucu dan menemaniku sampai tua," kata Abraham dengan lembut mengengam tangan sang istri.


Sedangkan Arin juga membalas tersenyum ke arah sang suami. "Terimakasih juga telah menjadi suami yang baik untuk ku," jawab Arin dengan tulus.


"Papa...."


"Mama...."


Terdengar suara kecil yang begitu mengemaskan.


Keduanya menoleh saat mendengar kata yang keluar dari Andra pertama kali nya.


"Ha ha ha ha ha ha ha, pintar nya anak mama," kata Arin terkekeh begitu senang.


"Duh gemas banget sih anak papa," kata Abraham dengan senyum mengembang menatap anak-anak nya itu.


Kebahagiaan itu sederhana, bukan dengan materi semata karena kebahagiaan itu melihat senyum orang yang kita cintai. Seperti kebahagiaan keluarga Abraham adalah cinta tulus Abraham untuk Arin dan sebaliknya keikhlasan Arin menjadi istri Abraham untuk selamanya sampai akhir, kisah yang diawali dengan kepahitan itupun berakhir dengan indah.


~END~


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...