
"Aku hanya ingin bernegosiasi dengan mu itu saja," jawab Abraham.
"Apa yang kamu tawarkan, cepat katakan?" Bentak Arin kesal.
"Ha ha ha ha ternyata kucing liarku bisa galak juga," kata Abraham sambil memegang dagu Arin.
"Jauhkan tangan kotor mu dari wajahku," sungut Arin menepis kasar tangan Abraham.
"Hemmm..... Turuti perintahku atau aku akan mencium mu lagi," kata Abraham menggoda Arin.
Entah kenapa Abraham begitu senang menggoda Arin, apalagi bibir tipis itu selalu menari-nari di pikirannya meminta di kecup.
Mobil melaju kencang meninggalkan mobil Tio di tengah ramainya kota di malam hari. Hendra seakan menulikan telinganya, dia enggan ikut campur dengan urusan tuan nya.
Sedangkan Tio......
"Aaahhhh....." Tio kesal, dia memukul stir dengan tangannya.
"Si**l.... Bre***"k siapa dia dan kenapa dia menculik kak Arin??" Kata Tio mengumpat orang itu.
Tio menepikan mobilnya kala melihat panggilan masuk dari sang bunda.
Tio mengambil nafas panjang, mencoba mengendalikan diri karena tak ingin sang bunda ikut cemas.
"Halo bunda...." Jawab Tio.
"Om Tio kapan sampainya? Aurel sudah haus ingin minum susu strawberry, hmmm..... Pasti enak," suara gadis kecil itu membuat Tio semakin bersalah.
'Apa yang harus ku bilang kepada Aurel,' batin Tio.
"Ini lagi macet, ini om sudah belikan buanyaaak buat Aurel," bohong Tio.
'Maaf om harus berbohong sayang,' batin Tio merasa bersalah.
"Wah beneran om.... Om cepat pulang ya, di sini ada om William," kata Aurel berceloteh. Setelah itu panggilan terputus sepihak.
'Apa aku harus minta tolong kak William,' batin Tio.
Tio pun memutar kemudinya menuju ke arah rumah tak lupa dia membeli susu kesukaan Aurel.
Sesampainya di rumah.....
Tio memasuki rumah dengan lesu menenteng kantong plastik besar berisi susu dan cemilan kesukaan Aurel dan Abrian.
"Lho nak kenapa muka kamu lesu begitu, mana kakak mu?" Tanya bunda menengok ke belakang mencari keberadaan putrinya.
"Kak Arin....." Belum selesai berbicara, muncul Aurel dan Abrian menyambut sang paman.
"Om mana susu Aurel," gadis kecil itu berlari, bergelayut manja di kaki Tio.
"Mama sedang ada urusan, pulangnya besok jadi kalian jangan rewel ya," jelas Tio.
Sedangkan sang bunda melirik, curiga saat mendengar ucapan anaknya yang terasa aneh.
"Mbak Tina tolong urus Aurel sama Abrian dulu," teriak bunda saat melihat Mbak Tina mengambil belanjaan dari tangan Tio.
Tio pun duduk di kursi bergabung dengan Rio maupun William.
"Kak William...." Sapa Tio dengan tos ala-ala mereka tiap kali bertemu.
"Kenapa wajahmu lesu?" Tanya Rio penasaran.
Tio melirik ke arah kedua bocah kecil yang tak jauh dari tempat mereka.
"Mbak Tina, ajak mereka tidur sudah malam," perintah Tio.
"Om Tio tak asyik, baru juga jam 8," Rajuk Aurel.
Sedangkan Abrian memilih masuk ke dalam kamar. Mbak Tina pun membujuk Aurel memasuki kamarnya.
Setelah di rasa aman. Tio bersiap memulai pembicaraan. Sang bunda pun mendekati mereka.
"Nak cepat katakan di mana Arin?" Tanya bunda sekali lagi.
"Kak Arin di culik?" Lirih Tio.
"Apa.... Arin di culik? Kamu pasti bercanda kan," bunda terlihat kaget mendengar kabar putrinya.
"Hah.... Bagaimana bisa?" Tanya William, tangannya terkepal kuat.
"Aku tidak tahu, aku di suruh menunggu di mobil yang terparkir di depan minimarket itu. Aku mendengar kak Arin berteriak memanggil namaku jadi aku menoleh. Tahu-tahu kak Arin di bopong seorang pria masuk ke dalam mobilnya, aku sudah berusaha mengejarnya dan aku gagal," jelas Tio dengan wajah frustasi.
"Hiks hiks hiks hiks hiks aku gagal menjaga kak Arin," kata Tio penuh penyesalan.
"Ini semua bukan salahmu nak," bujuk bunda menenangkan putranya.
"Kamu kenal dengan orang itu?" Tanya William.
Tio mengeleng kepada William.
"Siapa orang yang berani menculik Arin," kata William berfikir.
"Apa Arin punya musuh?" Tanya William lagi.
"Setahu saya, kak Arin tak pernah punya musuh kecuali dua sahabat yang mengkhianati dia," kata Rio.
"Lalu siapa orang itu nak? Apa kita pernah menyinggung orang besar nak?" Tanya bunda.
"Aku rasa kita tidak pernah menyinggung seseorang, bunda tahu kan bagaimana baiknya kak Arin," jelas Rio.
Semua mengangguk membenarkan ucapan dari Rio.
"Kamu kasih tahu alamat nya biar nanti kakak yang selidiki," pinta William.
"Kalau tidak salah jalan cendrawasih di sekitar sana ada minimarket," jawab Tio.
"Bagaimana kalau kak William coba minta rekaman cctv di sana," usul Rio.
"Kenapa aku tidak kepikiran," protes Tio.
"Ya mana ada orang yang sedang binggung berfikir sempat berfikir nak," jawab bunda.
"Jadi bagaimana Bun, apa kita laporkan saja ke polisi?" Tanya Tio.
"Semuanya saya pamit dulu, kalian jangan khawatir biar Arin saya yang urus," kata William meyakinkan semuanya.
"Terimakasih nak William," jawab bunda berkaca-kaca.
"Iya bunda urus saja Aurel dan Abrian, takut mereka menanyakan Arin," pinta William.
"Terimakasih kak, aku tidak tahu harus minta bantuan siapa," kata Tio dengan tulus.
"Sudahlah jangan merasa sungkan denganku," jawab William.
'Andai kak Arin menikah dengan nak William pasti bunda senang, karena nak William baik dan pasti menjaga Arin serta menyayangi kedua anaknya,' batin bunda.
"Kalian di rumah saja tunggu perintah dariku, jangan kemana-mana. Aku akan meminta tolong kepada sahabatku untuk mencarinya," bujuk William kepada ketiga orang yang berada di hadapannya.
William pun pamit pergi meninggalkan rumah Arin dengan pikiran gusar.
'Nak semoga kamu baik-baik saja,' batin bunda.
'Semoga kak Arin tidak kenapa-kenapa, aku tidak bisa bayangkan kalau sesuatu terjadi kepada kak Arin,' batin Tio.
'Di mana pun kak Arin berada, semoga kak Arin baik-baik saja dan segera pulang dengan selamat. Kamu tak bisa bayangkan kalau kami kehilangan kak Arin atau sesuatu terjadi kepada kak Arin,' batin Rio.
'Semoga kamu di sana baik-baik saja Arin karena kami di sini semua membutuhkan dirimu terutama si kembar,' batin William.
Semua yang berada di sana, berdoa dalam hati untuk keselamatan Arin.
William pun masuk ke dalam mobilnya, di dalam mobil Wiliam teringat dirinya tak mempunyai foto Arin, cuma ada satu di ponselnya itupun foto mereka berempat.
William pun turun dari mobil menuju ke dalam rumah Arin lagi.
Tok tok tok tok tok....
"Lho nak William kenapa kembali lagi, apa ada yang tertinggal?" tanya bunda.
"Maaf bunda, bolehkah saya minta foto Arin untuk memudahkan mencarinya," jawab William.
"Sebentar ya nak," pamit bunda.
Lima menit bunda kembali membawa foto Arin dan memberikannya kepada William.
"Terimakasih bunda, saya pamit dulu,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....
Kangen gak ya🤣.....
Update sedikit...😅😅
Jangan lupa:
~Like
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.