
"Hei tampan, kita tadi hanya bercanda. Iya kan pa?" Kata Miranda mencoba mendekat ke arah Tio tak lupa melirik ke arah sang papa.
Pria tua itu paham maksud dari anaknya, dia hanya bisa mengangguk saja.
"He he he he he he he he, bercanda?" Tanya Tio dengan terkekeh mendengar ucapan dari wanita di depan nya.
Tio hanya yang bisa mengelengkan kepalanya, dia menatap sinis wanita di depan nya itu dengan tatapan sinis cenderung muak, ingin rasanya Tio mencincangnya memotongnya berapa bagian setelah itu memberikannya kepada hewan peliharaan yang di markas.
"I-ya," jawabnya sedikit ketakutan saat melihat raut wajah Tio yang masih datar penuh penekanan saat ini.
"Ha ha ha ha ha ha ha, kamu kira bisa menipuku dengan kata-kata mu itu, ck aku akal licik mu itu, aku tidak tertarik dengan mu karena kekasihku lebih cantik baik daripada kamu, ck jangan memasang muka seperti itu tentu saja aku sudah tahu kamu hanya berpura-pura saja ," ucap Tio yang sudah tahu liciknya wanita di depan nya itu.
Tio berbicara terus terang karena saat berbicara tadi wajah wanita itu seolah-olah Tio sedang teraniaya. Ck sungguh menyebalkan itulah yang ada di pikiran Tio saat ini.
"Tetapi...." Kata Miranda terpotong oleh seseorang yang baru saja muncul di sana.
"Kalian pikir setelah membuat anakku menangis, kalian bisa lolos seenaknya," suara begitu familiar membuat Tio menjadi begitu tegang.
"Kak Abraham," kata Tio saat menoleh dan sudah mendapati Abraham tengah berjalan mendekat ke arah mereka. Tio melotot ke arah Hendra, sungguh Tio tak menyangka kalau hendra membawa Abraham kakak iparnya itu ke sini. Bisa-bisa Tio kena hukuman karena lalai menjaga putri kesayangannya.
"Papa...." Teriak Aurel berlari ke arah Abraham.
Abraham menyambut sang anak dengan penuh kasih sayang. Dia berjongkok dan mengendong Aurel.
"Cup cup jangan menangis, papa ada di sini," kata Abraham menghibur hati anaknya karena Abraham bisa lihat terdapat jejak air mata di mata anaknya saat ini.
Pria tua itu seakan tertampar oleh kenyataan yang sudah terpampang nyata di depan nya.
"Tu-tuan Abraham," jawab pria tua itu terbata.
'Tamat sudah riwayatku, kenapa putriku harus menyinggung orang besar seperti tuan Abraham terlebih lagi aku malah membantunya, siaaaallllllll...' Batin papa Miranda merutuki dirinya dan anaknya.
"Jangan sebut nama ku dengan mulut kotor mu itu pak tua," kata Abraham dengan nada tinggi namun begitu dingin.
Abraham sungguh marah melihat anak kesayangan menangis dan di hina oleh orang yang tak lain adalah bawahnya.
Pria itu langsung lemas seketika, seakan nyawanya berada di ujung tanduk. Keringat dingin membasahi tubuh nya kala melihat sorot mata Abraham yang begitu mengintimidasi dirinya saat ini.
Abraham mengertakan giginya, rahangnya mengeras saat mengingat isi video tadi yang di berikan oleh Hendra tadi.
Semua orang di sana membeku saat terdengar suara dengan aura yang begitu dingin namun penuh penekanan dari arah belakang.
"Pa.." Miranda melirik ke arah sang papa dengan nada begitu cemas. Pria itu mengelengkan kepalanya meminta sang anak untuk berdiam diri agar tak memperkeruh suasana.
"Diam kamu," bentak Abraham dengan keras membuat Miranda langsung terdiam membeku.
Glekk....
Miranda langsung pucat pasi di buatnya, begitupun dengan pria tua yang tak lain adalah papa Miranda pun di buat takut karena karir yang dia rintis dari awal akan melayang dalam sekejap. Yang lebih buruknya lagi dia bisa langsung jatuh miskin karena berani mengusik keluarga ini.
Andai mulutnya tadi tidak meremehkan tampilan anak kecil di depan nya saat ini.
Sungguh penyesalan itu datangnya terlambat, inilah yang Miranda rasakan saat ini, menyesal pun tak berguna.
'Andai aku tadi tak kesini, mungkin pekerjaan ku masih bisa di selamatkan. Aku harus bagaimana? Aku belum siap menjadi karyawan biasa atau lebih parahnya mungkin aku bisa di pecat tidak terhormat,' batin papa Miranda ketakutan.
Sedangkan Tio sedikit cemas melihat wajah datar sang kakak ipar.
'Ck alamat kena hukuman lagi,' batin Tio pasrah.
Miranda menatap pria itu dengan raut wajah pucat apalagi melihat papa nya sudah menunduk ketakutan, wajahnya pucat.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, pa...! Tante jelek itu jahat hiks hiks hiks hiks hiks, dia tadi bentak Aurel sampai dorong Aurel hingga jatuh," adu sang anak memeluk sang papa begitu erat.
"Hendra urus pak tua itu dan pastikan besok namanya sudah tak terdaftar lagi di sini, aku tak ingin melihat dia untuk kedepannya di semua tempat/perusahaan yang ku miliki," kata Abraham itu tidak langsung ke intinya tetapi orang lain yang mendengarnya tentu tahu makna kata-kata dari Abraham tadi.
"Tuan Hendra maafkan saya," pinta pria tua itu memelas mencoba mendekati Abraham namun di tahan oleh beberapa bodyguard milik Abraham.
"Tio urusan mu dengan ku belum selesai, aku tunggu penjelasan mu," kata Abraham melirik Tio dengan tajam.
"Cepat pulang, biarkan Hendra yang mengurus semuanya," perintah Abraham ke arah Tio.
Tio hanya mampu mengangguk saja tak berani membantah karena dia sadar, kalau yang bersalah.
"Oh ya Hendra, pastikan aku tidak melihat dia dan keluarganya masih berkeliaran di kota ini," perintah Abraham menunjuk ke arah Miranda dan papanya.
Deg...
Miranda pucat pasi di buatnya mendengar ucapan Abraham saat ini. Ya ucapan itu mampu membuat baik Miranda maupun Papa nya tertunduk lemas, sudah begini dia harus terima karena tidak ada pilihan lain karena mereka berdua sering mendengar rumor tentang Abraham.
"Tuan maafkan saya," pria itu berlari menghampiri Abraham namun dia di hadang oleh beberapa bodyguard yang sedari tadi berada di sana.
"Jangan pernah meremehkan seseorang, belum tentu kamu lebih baik darinya," kata Abraham begitu sederhana namun mampu membuat pria itu menyesal.
"Hendra pastikan tidak ada yang merekam saat anakku di hina mereka, aku tidak ingin istriku sedih kalau sampai melihat putri kesayangannya menangis dan mendapatkan perlakuan buruk,"
"Pastikan, anak dan ayah ini tidak akan di terima bekerja di perusahaan mana pun, masukkan nama keduanya ke dalam daftar hitam,"
Setelah mengucapkan kata itu, Abraham pun mengendong Aurel pergi meninggalkan tempat itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks," sedangkan sang anak Miranda hanya mampir menangis, tetapi semua percuma, karena kesalahannya sekarang keluarganya juga harus terkena imbasnya.
Tio mengikuti langkah Abraham keluar dari tempat ini.
"
B E R S A M B U N G.....