Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 84


Arin pun meninggalkan ketiganya yang sedang asyik bercanda di ruang tengah.


Arin berjalan menuju taman yang ada di belakang rumah, Arin memandang ke langit menatap indahnya awan dengan semburat kesedihan di wajahnya.


Andai sang ayah masih hidup tentu dia akan begitu bahagia, itulah yang ada di pikiran nya untuk saat ini.


"Sayang kenapa melamun?" Tanya Abraham yang sudah ada di belakang Arin.


"Eh...." Arin tersentak kaget, lamunan seketika buyar.


"Mas bikin kaget saja," kata Arin mengelus dada nya.


"Maaf, tetapi aku dari tadi melihatmu terdiam sendiri memandang ke arah langit, memang apa yang sedang mengganjal di pikiran mu saat ini, apakah aku boleh tahu sayang?" Tanya Abraham, tangan nya mengelus lembut pundak sang istri.


"Aku hanya berfikir, andai ayah ada di sini pasti kita akan bahagia seperti dulu," lirih Arin menatap lurus ke depan.


Abraham menghela nafas berat, dia mengerti kesedihan Arin.


"Bagaimana kalau besok kita datang ke makam ayah mertua," usul Abraham.


Arin menoleh memandang teduh ke arah sang suami, senyum di bibirnya mengembang sempurna.


"Terimakasih mas, kalau begitu mas hubungi Tio dan Rio biar mereka memberitahu bunda secepatnya," kata Arin berbinar.


"Oh ya sayang aku ingin makan buah mangga tetapi yang masih muda," kata Arin memandang ke arah Abraham.


Glek...


'Aku harus cari mangga ke mana sedangkan saat ini bukan musim nya,' batin Abraham.


Abraham terdiam, dia engan mengungkapkan isi hatinya kepada Arin, dia takut sang istri merajuk karena bawaan hamil.


"Kenapa sayang, mukanya kok begitu. Apa kamu keberatan membelikan aku mangga muda," ungkap Arin memicingkan mata nya dengan tatapan menyelidik ke arah suami.


"Em....! Tidak sayang kenapa kamu berfikir demikian, nanti biar Bimo dan yang lainnya mencari mangga untuk kamu," jawab Abraham mencoba tersenyum manis menutupi rasa sedihnya.


"Terimakasih sayang, memang suamiku ini suami idaman," rayu Arin mencubit gemas pipi milik Abraham.


Sedangkan Bimo dan Doni yang tak jauh dari sana berdecak kesal.


"Ck dasar tuan bucin," kesal Bimo.


"Ha ha ha ha tuan sudah punya pawang jadi kita harus takut kepada nyonya Arin karena dia yang berkuasa saat ini," kata Doni menertawakan wajah Abraham.


"Jangan tertawa nanti juga giliran kamu bucin," cebik Bimo menatap sinis Doni.


Sedangkan Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tidak mungkin," jawab Doni percaya diri.


"Ck lihat saja nanti kalau itu terjadi ku suruh kamu cuci baju ku sebulan," tantang Bimo penuh keyakinan.


"Ok siapa takut," jawab Doni percaya diri.


"Ku doakan, Tina segera hamil dan minta macam-macam bahkan lebih parah dari nyonya biar kamu tahu rasa," kata Bimo dengan tatapan mengejek.


"A...." Doni tak jadi mengaminkan doa dari Bimo karena Doni baru sadar kalau Bimo sengaja berdoa yang jelek untuknya.


"Eh sialan kamu, doa itu yang baik-baik bukan malah menyengsarakan temannya," kesal Doni menginjak kaki Bimo dengan cepat.


"Aduh, sakit tahu," Bimo mengaduh sambil memegang kakinya.


"Biarin...." Kesal Doni.


"Eh baik tuan," kata Bimo kaget mendengar ucapan dari tuan nya.


"Siap tuan," jawab Doni.


Keduanya segera kabur meninggalkan tempat itu.


Sampailah keduanya di garasi mobil, keduanya pun menghela nafas panjang keduanya harus di buat binggung dengan ngidam nyonya mereka. padahal ngidam ini menurut Arin adalah hal yang mudah ca mencari mangga saja.


"Don, cari dimana kita mangga muda?" Tanya Bimo.


"Entahlah, mana belum musim mangga lagi," jawab Doni binggung.


"Kalau buat pengumuman di grup kita, satu kilo mangga Rp 500.000 bagaimana?" Usul Bimo.


"Bagus juga tuh," jawab Doni setuju dengan usulan Bimo.


"Eh bilang juga sampai nanti siang, kalau lewat dari itu kita tidak bayar," jelas Doni.


"Dasar Lo, gak mau rugi banget," cibir Bimo.


"Ya iyalah takutnya kalau besok atau sore, nyonya Arin sudah tidak ingin makan tuh mangga muda," jelas Doni.


"Benar juga Lo, tumben encer otak Lo," kata Bimo manggut-manggut.


"Dari dulu gue tuh pintar, Lo aja yang lupa," jawab Doni dengan sombongnya.


"Sombong," cebik Bimo sinis.


"Sudah jangan bicara terus, ayo kita cari dulu di sekitar sini," Doni mengingatkan tujuan mereka.


4 jam berlalu.....


"Sayang mana Bimo? Kok lama," tanya Arin menghampiri Abraham yang tengah berenang bersama dengan anak-anak.


"Sabar sayang, sekarang kan tidak musim mangga jadi susah mencari nya," jelas Abraham membuat Arin sedih.


"Ma ayo berenang bersama kita," teriak Aurel.


"Ayo," jawab Arin berbinar.


"Eiiittsssss..... Jangan, ingat kamu lagi hamil," cegah Abraham saat Arin hendak pergi ke ruangan di samping kolam untuk berganti baju renang.


"Apa hubungannya sayang sama hamil," protes Arin mendelik sebal ke arah suami.


"Gak ada sih, cuma aku takut kamu masuk angin," jawab Abraham membuat Arin kesal.


Arin pun pergi meninggalkan kolam renang dengan cemberut.


"Tuh papa buat mama ngambek," ceplos Abrian.


"Papa kan takut dedek bayi di dalam perut mama kedinginan," kata Abraham.


Abrian diam memilih melanjutkan berenang di kolam khusus untuk anak-anak, Abrian tak mau pusing karena itu urusan orang dewasa.


"Pa memang bisa ya dedek bayi masuk angin, masuk dari mana pa?" Tanya Aurel dengan polosnya.


Abraham melotot mendengar ucapan dari Aurel.


'Nasib punya anak perempuan bawel, semoga nanti anakku nanti laki-laki,' batin Abraham.


B E R S A M B U N G....