Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 122


"Kenapa Tio bisa tertembak, apa yang tengah dia lakukan, tolong katakan yang sebenarnya?" Arin tak percaya adiknya bisa terlibat masalah yang serius, yang Arin tahu Tio adalah anak yang baik.


"Entahlah aku tak tahu kejadian nya seperti apa yang jelas aku cuma di beritahu Bimo kejadian di sana. Kalau ada orang yang akan menembak Bimo dan Tio menghalangi peluru yang akan menembus tubuh Bimo dengan mengorbankan dirinya, kamu tahu kan dunia bisnis itu kejam. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya," jelas Abraham panjang lebar.


"Lebih baik Tio ikut bersama dengan Rio mengembangkan usaha toko kue ku, aku takut terjadi apa-apa dengan nya," lirih Arin.


"Sayang dengarkan aku, apapun pekerjaan kita kalau ada orang yang berniat jahat dengan kita toh kita tak bisa melarang, kita hanya bisa berjaga-jaga. Seperti yang ku lakukan dengan menempatkan bodyguard di mana-mana, kalau bukan Tio yang ikut membantuku siapa lagi," Abraham ingin Arin berfikir terbuka.


"Tio sudah dewasa, dia bisa berfikir apa yang baik dan buruk buat dirinya, sudahlah biarkan dia memilih apa yang dia inginkan," kata Abraham.


"Tetapi sayang," Arin masih mau protes.


"Sudahlah anggap ini sebagai pembelajaran untuk Tio, mungkin inilah harus di alami Tio agar dia lebih dewasa dalam mengambil keputusan dan tidak gegabah lagi," bujuk Abraham agar sang istri tidak mencercanya dengan berbagai pertanyaan lagi.


Arin mengangguk, dia berfikir bijak tak ingin emosi.


"Ayo tidur...." Ajak Abraham.


Keduanya pun merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu, mereka memejamkan matanya. Abraham memeluk sang istri untuk memberikan kedamaian dan kehangatan.


****


Keesokan harinya...


Jam 07.00


Perawat membawakan makanan kedalam ruang rawat Tio.


Tio sudah bangun namun dia masih bermain game untuk menghilangkan kejenuhan.


Setelah menaruh makanan itu, perawat pun pergi.


Sedangkan Rio masih mandi di sana, dia hari ini memilih libur kuliah untuk menjaga Tio. Rio berfikir tak mungkin bunda nya di beritahu kondisi Tio saat ini, Rio takut bundanya akan terkejut dan berimbas kepada kesehatannya.


"Ah segarnya," kata Rio yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian baru yang tadi pagi di kirimkan anak buah Abraham.


Abraham tadi malam mengirimkan pesan, Abraham bertanya apa saja yang di butuhkan keduanya, Abraham tak ingin mereka kerepotan bolak-balik kerumah untuk mengambil sesuatu.


"Kamu gak kuliah?" Tanya Tio dengan kening mengkerut pasalnya Rio begitu terlihat santai.


"He he he he he he, tenang saja aku sudah ijin ke dosen. Sekarang waktunya pak Bagas yang ngajar jadi aku bisa bolos dengan alasan jaga kamu di rumah sakit," jawab Rio tersenyum lebar.


"Dasar..." Umpat Tio melemparkan satu bungkus roti ke arah Rio.


Hap.... Bungkus roti itu berhasil di tangkap Rio.


"Ha ha ha ha ha, tahu saja kalau aku sedang lapar," Rio seakan meledek.


Pandangan Rio tertuju ke arah meja di dekat ranjang Tio.


"Eh makanan mu sudah datang, mau ku suapi?" Tunjuk Rio ke arah meja tak lupa Rio juga menawarkan bantuan karena tangan Tio masih terpasang selang infus.


"Kamu saja yang makan, aku gak mau pasti rasanya hambar," tolak Tio tak ingin memakan makanan itu.


"Ha ha ha ha ha, pasti kamu kapok ya makan makanan rumah sakit," ledek Rio.


Rio ingat dulu Tio sering di suruh menghabiskan makanan rumah sakit saat Arin melahirkan si kembar.


"Sudah tahu pakai tanya," sungut Tio kesal, dia mengingat rasa makanan yang dulu sering dia makan karena terpaksa.


"Maka nya jangan sakit, sudah tahu lidah kamu gak cocok sama makanan rumah sakit masih saja cari perkara," kata Rio meledek sekaligus memperingati Tio agar dia tak melakukan hal bodoh lagi.


"Yeee siapa juga yang mau sakit," sewot Tio mendelik sebal.


Ingin rasanya Tio menjitak kepala saudaranya itu namun apa daya sekarang dia masih terbaring sakit.


"Tadi ponsel mu berdering terus bikin telingaku sakit," kata Tio menunjukkan ponsel Rio yang masih berkedip mungkin pesan masuk.


Rio pun mengambil ponselnya, tiba-tiba muncul ide untuk menjahili Tio.


"Ah ternyata Amanda sayang, pasti dia kangen aku," Rio bersikap girang seolah-olah dapat pesan dari kekasih tercinta nya.


"Bilang Amanda sayang lagi, ku gundul rambut mu," ancam Tio penuh penekanan.


"Santai bos," kata Rio mengangkat kedua tangan nya seolah meminta ampun.


"Eh bentar-bentar, kan Amanda pacar ku kenapa aku gak boleh panggil dia sayang?" Tanya Rio.


"Iya pacar bohongngan," sinis Tio menatap Rio remeh.


"Ha.... Kok tahu dari mana? Ah pasti Amanda yang kasih tahu," Rio mengira kalau Amanda yang bicara sama Tio.


"Bukan Amanda tetapi aku tahu sendiri. Kamu lupa siapa aku?" Jawab Tio menaik turunkan alisnya.


"Cih sok berkuasa," sinis Rio.


"Belikan aku nasi pecel di depan terminal," pinta Tio, namun katanya itu bukan seperti meminta namun menyuruh.


"Enak saja nyuruh orang," cebik Rio kesal.


"lha yang ada di sini cuma kamu doang," jawab Tio.


"Iya juga ya," kata Rio menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jangan banyak bicara cepat berangkat," kata Tio karena dia sudah lapar.


"Lha terus tuh makanan bagaimana?" Tanya Rio melihat makanan yang di siapkan pihak rumah sakit belum di sentuh Tio sama sekali.


"Kamu saja yang makan," jawab Tio enteng membuat Rio mendelik sebal.


"Ogah..." Jawab Rio cepat.


"Kirain mau," ledek Tio.


"Masa kamu makan nasi pecel sedangkan aku di suruh makan itu...." Protes Rio seraya menunjuk menunjuk ke arah meja.


"Aku kan ingin beli rendang he he he he he he....." Rio mengutarakan keinginannya untuk memakan makanan kesukaan nya.


"Ya sudah cepat sana pergi, aku sudah lapar," perintah Tio.


"Mana uang nya," Rio menyodorkan tangannya meminta uang kepada Tio.


"Pakai uang mu dulu, gak ada ceritanya orang sakit bawa uang," kata Tio.


"Tetapi nanti ganti 5x lipat," kata Rio tak mau rugi.


"Dih sama saudara perhitungan," Tio mendelik sebal.


"Ha ha ha ha ha ha, uang tidak mengenal saudara," kata Rio.


Ceklek....


Arin dan Abraham membuka pintu ruangan itu, membuat Tio maupun Rio menoleh bersamaan.


"Kalian berantem lagi, gak malu sampai kedengaran sampai depan," Arin geleng-geleng melihat kelakuan kedua adik nya.


"Eh kak Arin, kak Abraham," jawab keduanya bersama karena malu.


Abraham geleng-geleng melihat kedua nya yang masih seperti anak kecil.


B E R S A M B U N G.....