
Sedangkan bocah gendut itu meledek kepada keduanya.
Brakk....
Brakkkkkkk..... Setelah 2 kali tendangan akhirnya pintu terbuka sempurna.
Semua yang ada di ruangan itu pun terlonjak kaget, bagaimana tidak tiba-tiba pintu di tendang seseorang dari luar secara kasar.
"Hei siapa yang tidak sopan di depan kepala sekolah," murka kepala sekolah itu.
Wali murid dari anak tadi mendongak menatap ke arah pintu, sedangkan kepala sekolah kaget reflek menoleh. Keningnya mengkerut kala melihat sosok laki-laki tampan dengan di ikuti beberapa bodyguard di belakangnya.
"Hei siapa kamu? Ada urusan apa kamu sampai berlaku tidak sopan di sini," Tanya wali murid tadi menantang.
Abraham menyeringai mendengar perkata wanita paru baya di depan nya.
He he he he he he.... Abraham terkekeh melihat wajah binggung mereka semua yang seolah bertanya siapa dirinya.
Dengan santainya Abraham pun masuk ke dalam ruangan kepala sekolah itu.
"Maaf anda siapa, kenapa membuat keributan di sekolah saya," tanya kepala sekolah.
"Sekolah anda," kening Abraham menyergit dengan senyum mengejek.
" Aurel.... Abrian, sini sayang Papa jemput kalian," kata Abraham ke arah dua bocah kembar itu tanpa memperdulikan semua orang yang ada di sana. Tatapan mata hanya tertuju kepada dua bocah itu.
Kepala sekolah, wali murid tadi di buat menganga. Ya mereka tidak pernah tahu sosok ayah si kembar terlebih lagi di kembar di kenal dengan sebutan tidak mempunyai ayah.
Abrian mendongak menatap ke arah orang tersebut, antara ragu dan bimbang Abrian pun langkah kecil menghampiri Abraham.
Abraham tersenyum semakin lebar, senyum yang jarang pernah orang lihat.
Abrian semakin mempercepat langkahnya saat Abraham berjongkok merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Hiks hiks hiks hiks hiks Papa, mereka jahat... Hiks hiks hiks hiks.... Mereka bilang kita anak har*m, dia juga bilang kita tak pantas bermain.... Hiks hiks hiks hiks...." Abrian mengadu dengan tangis. Abrian
Tangan Abraham terkepal erat, dadanya bergemuruh hebat. Mendengar semua penuturan putra kecilnya.
"Cup cup cup cup cup.... Sayang jangan sedih, bagaimana kalau kita ratakan sekolah ini," Rayu Abraham dengan senyum miring.
"Terus nanti kita sekolah di mana?" Pertanyaan lucu itu keluar dari bibir polos Abrian.
Abraham justru terkekeh di buatnya. Sedangkan Aurel masih berada di pelukan mbak Tina karena sedikit takut bertemu Abraham.
"Oh jadi anda Papa dari mereka," tanya wali murid dari dengan senyum mengejek.
Abraham tak menanggapi omongan wanita itu dan mengabaikannya membuat wanita itu semakin kesal.
Abraham tersenyum menakutkan bagi yang melihatnya.
"Jeon, cari tahu semua tentang wanita cerewet tadi dan ibu anak gendut itu?" Titah Abraham kepada Jeong salah satu bodyguard yang setia menemani dirinya.
"Siap tuan," jawab jeon.
Setelah itu jeon menghubungi seseorang. Kepala sekolah terdiam, pikirannya seketika menjadi kacau.
Tak Jeon menyerahkan data yang dia terima di ponselnya tentang dua orang di depannya.
"Bagus, aku suka hasil kerjamu cepat," kata Abraham tersenyum semakin mengerikan.
'Siapa pria ini? Dari penampilan terlihat dia itu orang kaya. Apa benar dia ayah dari mereka. Bisa gawat kalau dia tak terima dengan perlakuan kami kepada anaknya tadi,' batin kepala sekolah ketakutan.
"Tuan apa perlu saya bertindak," kata jeon menunduk hormat.
"Biarkan saja, aku ingin lihat bagaimana mereka bertindak," tolak Abraham.
"Bu, pokonya saya mau ke dua anak itu di hukum karena membuat anak saya terjatuh sampai menangis," tunjuk wali murid ke pada Abraham.
Abrahah terlihat cuek sedangkan Abrian dengan erat memeluk dirinya dalam gendongan.
Abraham tak menggubris omongan dua wanita di depannya.
"Kamu... Kemasi semua barang Aurel maupun Abrian jangan sampai ada yang tertinggal, setelah itu kamu ajak Aurel masuk ke dalam mobil saya biar saya antar pulang," perintah Abraham menunjuk ke arah mbak Tina.
Perempuan itu semakin murka karena dirinya merasa tak di hargai sebagai donatur di sini.
"Hei kami belum selesai, kenapa kalian sudah ingin pergi. Kalian tidak tahu siapa saya? kalau begitu biar saya lapor kepada suami saya biar 2 bocah itu di keluarkan dari sekolah ini," teriak wanita itu dengan pongahnya.
"Ck saya tidak takut, laporkan saja. Dasar cerewet," jawab Abraham santai.
"Maaf pak, sebaiknya bapak mewakili anak anda untuk meminta maaf karena suami Bu Gea adalah Donatur terbesar di sini," kata kepala sekolah.
"Anda seharusnya tidak membedakan kita, kita semua sama. Kita juga bayar sekolah di sini," sinis Abraham.
"Terserah kalau itu keinginan bapak, saya bisa mengeluarkan anak anda," satunya lagi.
"Silahkan kalau anda bisa, atau anda sendiri yang akan menyesali semua ini," ucap Abraham tersenyum misterius.
Dengan angkuh wanita itu yang tak lain bernama Gea itu, menghubungi sang suami untuk di suruh datang menuju ke sekolah taman kanak-kanak.
Sedangkan mbak Tina masih setia di sana menunggu pembicaraan selesai.
"Kamu ajak anak-anak membeli sesuatu yang di inginkan ke dua anak saya, biar Toni dan Bima yang akan menjaga kalian," titah Abraham.
"Sayang kalian ikut teman papa ya, beli mainan atau apapun terserah kalian," bujuk Abraham ke pada Abrian.
"Aurel juga pa?" Tanya Aurel dengan polosnya, dia pun mendekat ke arah Abraham dan Abrian.
"Tentu, kalian berdua bebas mau beli apapun," kata Abraham mengelus rambut sang putri dengan sayang.
"Bima, Toni kalian berdua jaga anak saya, turuti kemauan mereka," kata Abraham menunjuk ke arah dua bodyguard nya.
Keduanya mengangguk patuh setelah itu mereka pergi meninggalkan ruang itu. Tinggallah Abraham dengan santainya dia duduk penuh keangkuhan.
Benar saja yang berselang lama muncullah pria paruh baya dengan perut buncitnya dari arah pintu.
"Mama kenapa menyuruh papa datang ke sini, untung saja papa bisa ijin sebentar," sewot suami Bu Gea dengan nafas ngos-ngosan.
Prok prok prok prok prok prok....
Semua menoleh ke arah sofa yang di duduki Abraham dengan santai.
"Tu-t-tu-an Abraham," jawab pak Dodi yang tak lain suami Bu Gea.
Sedangkan bu Gea maupun kepala sekolah menyergit heran melihat pak Dodi yang begitu takut bertemu dengan Abraham.
"Oh jadi ini adalah istri anda," sinis Abraham.
Glekkk.... Glek...
'Apa yang telah istriku lakukan sampai menyinggung tuan Abraham yang terkenal tidak pernah mengampuni musuhnya,' batin pak Dodi ketakutan.
"Bagus pak, ternyata anda donatur terbesar di sini, sehingga istri anda yang cerewet itu bisa berlaku sesuka dia," sinis Abraham.
Pak Dodi pun melotot ke arah istrinya, sedangkan istrinya terdiam menyimak karena melihat suaminya ketakutan.
"Bu-bukan begitu pak," jawabnya. Keringat bercucuran di wajah pak Dodi karena kesalahan istrinya dia akan kehilangan semua.
"Cih..."
"Sekarang saya tanya kepada anda kepala sekolah, siapa donatur terbesarnya di sini?" Kata Abraham dengan suara keras.
"Anda bisa lihat sendiri, di sini tertulis nama bapak Dodi,"
"Prok prok prok prok prok.... Bagus," Abraham bertepuk tangan.
'Bagaimana ini,'batin pak Dodi ketakutan.
"Mulai hari ini anda tidak perlu datang ke kantor lagi, silahkan ambil pesangon anda dan saya akan memberhentikan aliran dana untuk donatur di tempat anda," saut Abraham dengan enteng nya.
"Halah donatur di sini itu adalah pak Dodi kenapa anda yang berkata seolah-olah andalan donaturnya," kata kepala sekolah.
Abraham hanya melirik sinis tanpa berbicara.
Setelah itu Abraham meninggalkan ruangan itu dengan cepat di ikuti para bodyguard nya.
"Tuan tunggu..." Teriak pak Dodi mencoba mendekat ke arah Abraham.
Para bodyguard menghalangi pak Dodi mendekati tuan nya.
Sepeninggal Abraham, pak Dodi merosot ke lantai tubuhnya terasa tak bertenaga, semua karirnya hancur karena kesombongan sang istri.
"Puas kamu, kamu tahu siapa dia, tuan Abraham... Ya dia adalah atasan ku di kantor pemilik perusahaan sekaligus donatur terbesar di sini... Ah semua karirku hancur karena kamu," marah pak Dodi kepada istrinya sedangkan kepala sekolah kaget mendengarnya.
Sesampainya di parkiran, Abraham melihat mobil yang membawa kedua anaknya telah kembali.
Para bodyguard pun membuka pintu untuk kedua anaknya.
"Kamu di sini saja dengan mereka, tenang mereka baik tidak akan berani macam-macam, biarkan kedua anakku ikut dengan mobilku," kata Abraham kepada mbak Tina.
Saat Abraham dan si kembar hendak memasuki mobil, terdengar suara yang menghentikan langkahnya.
"Tunggu....."
"Siapa kamu? Mau di bawa kemana si kembar," tanya Tio menatap Abraham.
"Kamu ikutlah denganku... Nanti akan ku jelaskan semuanya di mobil," titah Abraham.
"Bagaimana dengan mobil saya?" Tanya Tio.
"Biarkan bodyguard saya yang membawanya,"
Dengan berat hati Tio pun mengikuti Abraham masuk ke dalam mobil.
#FLASHBACK END#
B E R S A M B U N G ........
Hari ini update satu bab ya.
Seperti biasa setelah membaca tekan like say.
Terimakasih semua.