
"Maafkan mama, selama ini memisahkan kalian," lirih Arin.
Pukkk .... Seseorang menepuk pundak Arin, membuat dirinya menoleh ke belakang.
"Kak....." Lirih Tio melihat Kakak nya tengah menatap ke tiga orang yang ada di dalam.
"Kakak lihat kan kebahagiaan mereka, apa kakak tega merampas semua itu dari si kembar? Kakak bisa lihat Abrian yang biasanya selalu bersikap cuek kepada kak William, sekarang lihatlah bagaimana manja nya dia kepada tuan Abraham," jelas Tio mengutarakan semua yang ada di pikirannya.
"Tetapi aku merasa tidak enak dengan William, selama ini dia selalu ada di dekatku kalau aku membutuhkan bantuan. Aku binggung Tio," lirih Arin.
"Apapun keputusan kakak aku dukung, tetapi lihatlah kebahagiaan si kembar," kata Tio.
Arin terdiam termenung. " Pikirkan semua ini dengan baik-baik kak,"
Setelah itu Tio berbalik melangkahkan kakinya berniat pergi menuju taman belakang. Tio menyusuri setiap ruangan dengan takjub, pandangan nya terhenti saat berada di ruang fitness. Binar mata itu memperlihatkan rasa takjub bercampur senang.
'Ingin rasanya aku memainkan semua alat itu,' batin Tio.
"Ehemmm......" Deheman pak nan membuat lamunan Tio buyar, Tio pun merasa kikuk seperti seorang yang telah ketahuan mencuri.
Tio menoleh, dia segera membalikkan badannya dengan senyum canggung nya.
"Silahkan jika anda ingin memakai ruangan ini," kata pak nan. Ya.... Kepala pelayan itu seolah bisa membaca pikiran Tio.
"Benar pak?" Tanya Tio memastikan, dia tidak akan berpura-pura sungkan atau apapun karena inilah sifat Tio berterus-terang.
"Silahkan...... Di sana juga ada kamar mandi, setelah anda selesai berolahraga nanti akan ada pelayan yang membawakan handuk maupun pakaian ganti untuk anda. Kalau membutuhkan sesuatu panggil pelayan saja," Jawab pak nan, setelah itu dia pergi meninggalkan Tio yang masih mematung tak percaya mendengar semuanya.
"Ha.... Benar, aku kira dia marah karena aku lancang memasuki tiap ruangan. Ah sudahlah.... Aku mau coba semua alat ini, he he he he mumpung gratis," Tio bersorak kesenangan.
Dengan cepat dia masuk kedalam ruangan fitness itu.
"Wah kalau kak Arin benar menikah dengan kak Abraham, aku bisa setiap hari nih olahraga membentuk otot tubuhku seperti tuan Abraham. Si Vio pasti klepek-klepek," guman Tio membayangkan semuanya.
*****
Sedangkan di dalam ruang bermain...
"Papa .... Ayo kita beli es krim," rengek manja Aurel.
"Jangan nanti di marahi mama," jawab Abraham.
Setelah menemukan Arin, Abraham langsung meminta Hendra mencari tahu semuanya, tak terkecuali semua kesukaan ke dua anaknya.
"Papa gak asyik, mama kan tidak tahu pa," rengek Aurel.
"Iya pa, aku juga ingin beli," saut Abrian yang masih setia di gendongan Abraham, sedangkan Aurel sudah bermain prosotan.
"Emmm....." Abraham berpura-pura berfikir.
"Ayolah pa...." Rengek ke dua anak tersebut.
Abraham pun menurunkan Abrian, dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan si kecil. Abraham tersenyum mengusap kepala keduanya dengan sayang.
"Ya sudah, tetapi jangan bilang sama mama. Ok ....." Akhir nya Abraham pun setuju karena tak tega melihat wajah mengemaskan putri dan putra kecilnya itu.
Yeye... Yeye.... Yeye.... Kedua anak itu bersorak gembira.
Kebahagiaan kecil itu membuat Abraham tersenyum, entah perasaan nya begitu bahagia.
"Ehemmmm ......" Arin berdehem, dia berpura-pura memasang wajah galak. Arin berkacak pinggang.
"Ada yang nakal nih, minta es krim... Tidak ingat kalau sakit gigi nangis-nangis," kata Arin berpura-pura berfikir.
"Pa....." Rengek ke duanya meminta pertolongan sang papa.
"Kalian turun ke bawah, minta es krim kepada pak nan, biar mama jadi urusan papa," kata Abraham.
Kedua bocah itu berbinar, ke duanya segera meninggalkan ruang bermain itu. Mencari sosok pak nan.
"Apa maksud kamu, kamu tidak tahu bagaimana rewel nya anak-anak setelah makan es krim," sungut kesal Arin menatap tajam Abraham.
Abraham tersenyum mengerikan bagaikan singa yang siap memangsa buruannya. Abraham melangkahkan kakinya mendekat ke Arin.
"Ma-mau apa kamu, jangan mendekat," kata Arin terbata tiba-tiba bulu kuduk nya berdiri.
Arin menyadari alarm berbahaya itu, dia segera membalikkan badannya untuk berlari.
Tap tap tap tap tap tap tap.....
Hap.... Abraham menangkap tubuh Arin, Abraham merangkul posesif pinggang ramping Arin.
"Apa kamu sudah memikirkan kita sayang?" Bisik Abraham.
"A-apa maksud kamu," katanya Arin.
"Aku tidak ingin mendengar kan penolakan dari bibir manis mu ini, aku ingin kau bersiap-siap besok kita akan menikah dan besok keluargamu sudah berada di sini," kata Abraham membuat bulu kuduk Arin merinding.
Abraham merapatkan pelukannya kepada Arin. Ingin rasanya Abraham menerkam tubuh Arin dan membawanya ke ranjang, entah setiap kali berdekatan dengan Arin tubuhnya selalu bergairah.
"Tetapi aku belum bilang iya," Arin berusaha memberontak.
"Kalau kau berani menolak, kan ku pastikan kau akan berakhir di ranjang kamarku, dan aku tidak akan membiarkan mu beristirahat sampai pagi," jawab Abraham penuh ancaman.
Tubuh Arin seketika menegang, Abraham dengan santainya menyesap leher Arin, meninggalkan tanda kemerahan di leher wanita cantik itu.
"Pikirkan baik-baik kucing nakal....." Bisik Abraham.
Setelah itu dia pergi meninggalkan Arin yang masih terpaku di tempatnya.
Arin pun tersadar, dia menepuk pipi nya beberapa kali.
Arin mengeram kesal karena merasa di permainkan oleh Abraham.
"Apa-apa dia, selalu saja bertindak semaunya," kesal Arin menghentakkan kakinya di lantai dengan kesal.
"Dasar pak tua tukang paksa," umpat Arin kesal.
Arin pun berniat turun menemui ke dua anak nya, Arin menyusuri tiap ruangan tersebut tak menemukan keberadaan anaknya.
"Tuan sudah menunggu anda di luar, tuan menunggu di dalam mobil bersama ke dua anak anda," kata pak nan dengan hormat.
Setelah itu Arin pun keluar, dan benar saja pria itu sudah duduk manis di depan kemudi sedangkan si kembar duduk di belakang.
"Mama ayo cepat masuk, Papa mau mengajak kita pergi ke mal," teriak Aurel dengan senang.
"Ayo ma cepat," kata Abrian memanggil Arin.
"Ck pintar banget dia ambil hati anak-anak, dasar pak tua," grutu Arin.
Arin pun masuk hendak duduk di belakang bersama ke dua anak nya.
"Ck masuk di depan, aku bukan supir," sewot Abraham melirik Arin tajam.
Dengan terpaksa Arin pun masuk ke dalam mobil, duduk di samping dengan Abraham. Meskipun dalam hati menggerutu kesal.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah itu.
Dari kejauhan seseorang memandang dengan senyum mengembang, melihat pemandangan yang baru dia lihat.
"Semoga tuan dan keluarga kecil tuan berbahagia terus," lirih pak nan, menyeka sudut matanya yang tiba-tiba berair.
.
.
B E R S A M B U N G......
Update lebih dari satu ya hari ini.
Pagi, siang, malam...
Selamat membaca
Hari ini update lebih dari satu, jadi semangat LIKE maupun KOMEN ya ....