
Seminggu berlalu, Denis memantapkan hati nya untuk menentukan pilihan yang terbaik saat ini, dia sadar kalau dia tidak sendirian, ada sang mama yang harus di jaga dan tentunya masih membutuhkan dirinya untuk menguatkan setelah penghianatan yang dilakukan sang papa.
Denis masih setia melamun sampai saat sadar ada petugas membuka sel miliknya.
"Ada yang ingin bertemu dengan mu!" Kata petugas itu.
Denis mengerutkan keningnya. "Siapa yang ingin bertemu dengan nya lagi kali ini?" Guman Denis menerka-nerka dalam diam.
Dengan langkah pelan, dia mengikuti petugas itu ke ruang di mana biasanya untuk berkunjung. Denis tersenyum sinis, ternyata pria itu masih tak menyerah untuk membujuknya.
"Mau apalagi anda datang ke sini?" Tanya Denis terus terang tanpa berbelit-belit.
Pria itu masih terdiam mengamati sosok di depannya, pria itu masih menghela nafas panjang karena Denis seperti nya sulit untuk di bujuk.
"Saya ke sini dengan tujuan yang masih sama seperti kemarin," jawabnya dengan tenang. Wilson masih menahan ego nya untuk tidak membentak ataupun mencari masalah, Wilson sadar ini bukan tempat yang aman untuk membongkar semua ide jahat yang ada di otaknya saat ini agar Denis mau membantunya untuk membalaskan dendam.
"Maaf saya menolak, saya tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga mereka," jawab Denis dengan cepat.
"Ternyata anda tak ingin melihat papa anda bisa bebas dan berkumpul dengan mama anda," kata Wilson dengan sinis mencoba memancing reaksi dari pria muda di depannya itu.
Wilson dengan raut wajah yang di buat setenang mungkin menekan ucapannya agar tak meninggikan suaranya di depan Denis saat ini.
"Aku tak butuh bantuan mu," jawab Denis acuh membuat Wilson meradang tentunya. Otak licik Wilson berkerja dengan cepat untuk menemukan ide yang bagus, ide yang bisa membuat Denis melakukan semua yang dia inginkan.
Wilson menundukkan kepalanya, mencondongkan wajah nya ke telinga Denis.
"Apa kamu tidak ingin melihat mama tercinta kamu tersenyum saat suami tercintanya bebas atau kamu ingin mama kamu menangis saat ku lempar dia jalanan," ancam Wilson dengan suara berbisik, ekor mata nya melirik ke arah petugas yang berjaga.
Brakkkkk.....
Denis mendengar itupun menjadi marah, sontak tangannya dengan cepat mengebrak meja di depannya.
"Apa maksud kamu," bentak Denis di liputi amarah. Perasaan nya sudah tak karuan.
Mendengar keributan, petugas yang berjaga itu pun menghampiri Denis. Petugas itu mencekal tangan Denis dengan keras agar Denis bisa menahan emosinya.
"Sebaiknya anda pulang karena pak Denis harus kembali," petugas itu mengusir Wilson karena melihat Denis sudah marah dan meronta mencoba meraih kerah baju Wilson.
Wilson pun berdiri, menatap Denis dengan tatapan sinis.
"Jangan pernah kamu mengusik mama ku," Denis berteriak cukup keras penuh amarah ke arah Wilson karena mama tercintanya di bawa-bawa oleh pria itu. Denis begitu takut pria itu nekad dan menyakiti mama nya.
Petugas itu pun menarik Denis paksa ke dalam sel.
"Tenang pak, kami mohon jangan buat keributan di sini," kata petugas dengan tegas membuat Denis sadar kalau dia sedang berada di tempat ini.
Setelah itu Denis di bawa kembali ke sel. Nafas Denis naik turun masih di liputi emosi.
Brukkk....
Tubuh Denis begitu lemas, dia langsung tertunduk di lantai dingin itu.
Dari arah lain, pria paru baya itu menghampiri Denis yang seperti emosi menahan beban berat di hatinya saat ini.
"Apa yang membuat mu marah nak?" Tanya pria paru baya bernama pak Razak yang selama ini memberi nasihat-nasihat kebaikan untuk Denis.
"Orang itu datang lagi, dia ingin menjadikan mama ku sebagai alasan supaya aku mau bekerja sama dengan dia, dia ingin menjadikan ku sebagai boneka untuk membalaskan dendam nya padahal mengenalnya saja aku baru kemarin," jawabnya tertunduk lesu.
Pria paru baya itu tersenyum, mengusap pundak Denis dengan penuh perhatian. Pria yang bernama pak Razak itu membesarkan hati Denis dengan nasihat untuk kebaikan tentunya.
"Inilah nak, jalan menuju kebaikan itu sulit dan kamu harus bisa melaluinya," cuma itu yang di ucapkan pak Razak setelah itu dia berdiri melangkahkan kakinya menuju tempat dia biasanya bersantai di sana.
Denis terdiam mencerna ucapan dari pak Razak.
Tak berselang lama petugas itu kembali memanggil Denis karena ada yang ingin bertemu dengan nya lagi.
"Saudara Denis ada yang ingin bertemu anda,"
"Maaf pak saya tidak tahu," jawab petugas itu karena dengan jujur.
Denis menghela nafas panjang sebelum melangkah lagi mengikuti petugas itu.
****
Sedangkan di tempat berbeda.
Abraham tengah duduk bersantai merangkul sang istri dengan penuh mesra.
Arin merebahkan kepalanya di bahu suami nya.
"Kenapa masalah datang sili berganti di keluarga kita seakan tak ada habisnya," lirih Arin pandangan nya lurus menatap ke depan hamparan laut.
Ya keduanya tengah berlibur ke pantai membawa anak-anak, pengasuh dan bodyguard.
Hamparan lautan luas membentang seolah menjadi pemandangan yang menyejukkan hati Arin, angin semilir menerpa keduanya.
"Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok, lusa dan seterusnya bahkan 5 menit lagi kita tidak bisa menduga nya," jawab Abraham membelai kepala sang istri dengan lembut penuh cinta. Hanya itu yang bisa Abraham jawab karena tak mungkin dia mengutarakan semua yang ada di otaknya.
'Andai kamu tahu kejam nya dunia bisnis yang ku alami sampai aku bisa seperti ini, kita tidak tahu hati orang kadang kala karena rasa iri pun bisa membuat sahabat bermusuhan. Kamu terlalu polos untuk berada di dunia ku sayang, dunia penuh persaingan, tipuan dan kekejaman bahkan untuk mempunyai sahabat saja kita harus mencari ketulusan dan ribuan kebusukan,' batin Abraham dengan sendu mengingat pengalaman hidupnya selama ini dia jalani.
Arin terdiam, membenarkan apa yang di ucapkan oleh Abraham.
"Apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian," kata Abraham dengan tulus.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, huaa huuaa ...." terdengar tangisan yang begitu keras menuju ke arah mereka berdua.
"Mama.... Kak Abrian nakal, dia ambil es krim Aurel," gadis kecil itu berlari menuju ke arah Abraham dan Arin melaporkan kenakalan yang dilakukan kakaknya. Sesekali gadis cantik itu menyeka ingus dan air mata yang membanjir wajah cantiknya.
Keduanya pun langsung menoleh mendengar suara putri mereka yang merengek sambil menangis berlari ke arah mereka.
"Ssstttt.... Sudah biarkan, biar nanti om Doni belikan lagi," bujuk Abraham karena tak ingin memarahi Abrian karena es krim saja.
"Ishhhh papa," rengek Aurel karena masih tak rela sang kakak tidak di hukum ataupun di marahi.
"Abrian...." Abraham berteriak melambaikan tangan ke arah Abrian yang tengah duduk dengan santai.
Mendengar namanya di panggil, Abrian sontak menoleh ke arah sang papa.
Abrian pun berjalan menghampiri sang papa yang tengah melambaikan tangan nya.
Kini Abrian sudah berdiri di depan kedua orang tuanya.
"Duduk,"perintah Abraham dengan tegas menatap ke arah kedua anaknya.
"Aurel, Abrian kalian duduk dan dengarkan papa kalian berbicara," pinta Arin menatap keduanya dengan tegas.
Mendengar suara sang papa yang sudah naik beberapa oktaf membuat kedua bocah itu menurut dan langsung duduk di hadapan papa dan mama nya.
"Sayang, dengarkan papa berbicara! Kalian berdua sudah besar jadi jangan bertengkar hanya karena es krim saja, kita masih bisa membelinya lagi untuk apa bertengkar. Kalian itu bersaudara jadi jangan berantem hanya karena hal-hal kecil, kalian harusnya saling menyayangi satu sama lain dan kalau ada yang menyakiti adik mu kamu kamu harus membelanya Abrian," kata Abraham menatap kedua mata anaknya mencoba memahami perasaan mereka.
Keduanya menunduk mengerti.
"Kalian tidak malu bertengkar karena rebutan es krim saja, tuh lihat dari tadi anak laki-laki itu memperhatikan Aurel yang menangis," tunjuk Arin ke arah anak laki-laki yang menatap ke arah mereka.
Aurel menoleh, dan benar saja anak itu menatap Aurel membuat Aurel malu, dengan buru-buru dia mengelap wajahnya dengan tangan.
Arin tersenyum menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya.
'Fyuuh untung saja Andra masih kecil belum mengerti es krim,' batin Abraham sambil menghela nafas kasar melihat kedua anaknya yang selalu bertengkar.
B E R S A M B U N G....