
Sedangkan Hendra memilih pergi meninggalkan ruangan itu, bukan kapasitasnya terlibat obrolan dengan kedua sahabat itu.
" Jangan bilang kalau tebakan ku itu benar?" Tanya dokter Rian memastikan.
Abraham hanya terdiam, lidahnya terasa keluh.... Abraham teringat tentang Arin.
"Parah, masa keduluan lagi. Lo sudah 2 kali menikah sedangkan aku satu saja belum, kapan ya aku laku," ceplos dokter Rian.
Sedangkan Abraham mengeleng mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Kapan Lo nikah? Kenapa gak undang gue?" Tak henti-hentinya dokter Rian memberikan pertanyaan.
"Parah loh sahabat sendiri gak di undang," asumsi dokter Rian.
"Kalau sampai wanita itu ketemu, Lo yang pertama ku undang," jawab Abraham kesal mendengar dokter Rian.
" Tunggu.... Tinggu.... Jadi Lo belum nikah, maksud Lo kalau wanita itu ketemu, jangan bilang no nanam saham di mana-mana," kata dokter Rian mencerna jawaban dari Abraham.
"Masa bibit emas ku buang di sembarang tempat," jawab Abraham.
"Atau Lo......" Mata dokter Rian melotot kaget, apa sahabatnya lakukan itu sama dengan pemikirannya.
"Iya tetapi itu bukan salah ku, semua salah Hendra," sungut Abraham.
"Ha apa benar kamu per**sa anak gadis orang?" Tanya dokter Rian memastikan.
Abraham pun terdiam dengan pemikiran nya sendiri...
"Wah parah Lo, segitu gak lakunya sampai Lo maksa nyalurin hasrat Lo secara paksa... Parah ...... Parah....." Kata dokter Rian mengelengkan kepala nya tak percaya kelakuan sahabatnya.
"Kan sudah ku bilang, itu bukan salah ku. Salah Hendra," kata Abraham tak mau di salahkan.
"Tetapi kan sama saja, Lo yang nanam tuh bibit," jawab dokter Rian telak.
"Diam.... Atau tuh mulut , ku jahit," ancam Abraham kesal.
"Duh takut......" Ledek dokter Rian.
"Wah hebat juga tuh senjata, berapa kali kau tembak," ledek dokter Rian.
"Sampai pagi, puas Lo," sungut Abraham kesal.
"Ha ha ha ha ha kelamaan nganggur, lihat bunga baru kuncup saja sudah di semprot," tak henti-hentinya dokter Rian tertawa meledek temannya yang terkenal dingin dan kaku ke pada wanita.
"Tetapi aku penasaran kok bisa lelaki kaku macam kulkas sepertimu cepat move on," kata dokter Rian penasaran.
"Coba ceritakan bagaimana kejadiannya," pinta dokter Rian.
"Asal jangan bocor ke siapapun," ancam Abraham.
Dokter Rian pun memberi isyarat tangan mengunci mulutnya.
"Lo kunci ruangan dulu, jangan lupa nyalakan peredam. Di luar sekertaris baru itu terlihat menjengkelkan," perintah Abraham.
Dokter Rian pun menurut, karena dirinya sudah tak sabar untuk mendengarkan cerita langsung dari mulut Abraham.
Abraham pun menarik nafas panjang....
Dokter Rian pun duduk manis menunggu Abraham membuka mulutnya.
Abraham pun menceritakan semuanya tanpa di tutupi. Tak lupa sekarang keberadaan Arin yang tak tahu entah di mana.
"Kasihan tuh nasib perempuan malang itu?" Kata dokter Rian.
"Mana foto perempuan itu," pinta dokter Rian.
"Hei buat apa?" Tanya Abraham melotot.
"Buat ku jadikan istri," jawab dokter Rian asal.
Abraham pun melotot kesal...
"He he he he bercanda, pisss ....." Kata dokter Rian menunjukkan 2 jarinya sebagai permintaan maaf.
"Kali saja aku bertemu dia di salah satu rumah sakit, nanti ku sebar foto nya ke semua temanku," jelas dokter Rian.
"Thank bro, gak sia-sia Lo jadi sahabat gue.... Ha ha ha ha ha," kata Abraham membuat dokter Rian kesal.
"Terus apa yang akan kamu lakukan dengan kedua sumber masalah itu," tanyanya memastikan.
"Oh maksudmu dua temannya itu,"
"Hmmm....."
"Bagaimana dengan keluarganya?"
"Aku sudah menyuruh Hendra menyelidiki dan keluarganya sudah pindah setelah kejadian itu, tetapi perempuan itu tidak ada di sana," jawab Abraham lesu.
"Bagaimana kalau aku yang akan kerjain tuh dua manusia itu,"
"Terserah, karena aku tahu otak licik Lo sedang mencari mangsa, ha ha ha," ledek Abraham.
Abraham tahu bagaimana kekejaman temannya itu.
Di tempat berbeda....
Arin beserta nenek Ijah berhenti di pinggir jalan raya, menunggu angkot yang membawanya menuju rumah sakit di kota.
"Nek kita naik angkot yang mana?" Tanya Arin binggung.
"Itu," tunjuk sang nenek pada angkot berwarna merah yang akan menghampiri nya.
"Angkot neng," tawar nya.
" Iya pak," jawab Arin.
Angkot pun berhenti, nenek membantu Arin naik mengingat perut Arin yang sudah memasuki usia 5 bulan.
Selama di dalam angkot, tak henti-hentinya sang supir melirik ke arah Arin.
Arin memakai pakaian longgar, sehingga kehamilan Arin tak terlihat.
Meskipun sedang hamil tetapi aura kecantikan Arin begitu terpancar, ada beberapa penumpang yang memandang ke arah Arin.
"Nek itu cucunya?" Tanya pemuda di dekat sang nenek.
Merasa Arin telah menarik perhatian para penumpang laki-laki, nenek pun terpaksa berbicara.
"Iya ini cucu nenek, kita mau ke kota periksa kandungan. Karena suaminya sibuk kerja jadi nenek yang mengantar," jelas nek Ijah yang sudah sering kali berbohong untuk membela Arin.
"Oh sudah menikah, saya kira belum nek," kata pemuda itu tersenyum kecut.
"Saya kira masih SMA, eh ternyata calon ibu muda. Mukanya masih imut banget neng," jawab ibu di depannya terkekeh.
"Iya Bu, cucu saya menikah muda," jawab nenek sedangkan Arin hanya tersenyum.
"Neng hamil berapa bulan?" Tanya ibu-ibu yang duduk di samping Arin.
"5 bulan Bu,"
"Semoga lancar ya neng sampai persalinan nanti,"
"Terimakasih Bu atas doanya,"
Akhirnya angkot berhenti di terminal terdekat. Arin maupun nenek Ijah pun turun dan berjalan sebentar.
Keduanya berjalan menyusuri trotoar.
Dari kejauhan seseorang melihat Arin, antara yakin dan ragu apakah itu benar Arin.
"Arin....."
"Arin......"
Arin pun menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Akhirnya setelah lama mencari, aku bisa menemukanmu ......"
Bersambung....
Arin ketemu siapa??
Terimakasih dukungan kalian semua.
Ikuti perjalanan Arin ya....
Tetap ya jangan lupa🤭
Like
Komen
Rate komen bintang 5
Biar semangat update.