Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 169


Mobil yang di kendarai oleh Abraham akhirnya sampai di tempat tujuan, Abraham mengambil ponsel dan melihat titik keberadaan sang istri saat ini. Abraham mengecek ponselnya berkali-kali takut dia salah tempat. Abraham memastikan dia tidak salah tempat.


"Apa benar ini tempatnya?" Guman Abraham dengan lirih tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Abraham memandang sekeliling, dia masih berada di dalam mobil mengamati sekitar atau lebih tepatnya melihat bangunan di depan nya yang nampak tak terawat, belum lagi rumput tumbuh subur menjulang tinggi serta daun-daun kering berhamburan kemana-mana tertiup angin. Menandakan rumah ini sudah lama tidak berpenghuni. Kondisi tempat ini terlihat begitu sepi namun ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana.


"Iya kak, aku kemarin mengikuti Wilson sampai di sini," jawab Tio meyakinkan Abraham saat ini.


Tio seakan tahu apa yang tengah di pikirkan kakak iparnya itu.


"Apa mereka menyekap istri dan anakku di sini, aku tak bisa bayangkan bagaimana takutnya Aurel di tempat asing ini," lirih Abraham mengingat betapa manjanya Aurel saat ini.


"Kak Abraham jangan berfikir macam-macam, aku yakin mereka berdua adalah anak-anak yang pintar dan kuat jadi mereka pasti tidak akan takut," kata Tio meyakinkan Abraham lagi.


Tio tahu meskipun sang kakak ipar ini terkenal kejam bila di luaran sana namun kakak iparnya ini adalah sosok suami sempurna, suami penyayang dan apalagi kalau sudah berada di rumah Abraham akan menjadi suami dan ayah yang hangat meskipun irit berbicara, Abraham menjadi suami idaman wanita.


Tio pun turun, dia mengerutkan keningnya menatap dengan teliti tempat ini untuk sekian kalinya namun Tio masih memakai kaca mata hitam untuk menghadang silaunya sinar matahari. Tio begitu mempesona bagi wanita yang melihatnya.


Abraham pun turun dari mobil, dia segera bergegas untuk menyelamatkan istri dan anaknya.


"Bagaimana kak, apa rencana kita kali ini?" Tanya Tio menatap sang kakak ipar dengan pandangan sulit diartikan.


"Kita tunggu yang lain datang, baru aku akan menjelaskan semuanya," jawab Abraham di sertai senyum yang mengerikan, senyum yang akan dia tampilkan sebelum menghancurkan seseorang.


Tio tersenyum tipis, Tio tahu pasti kakaknya ini sudah tak sabar ingin bermain-main dengan tikus kecil yang tak tahu diri. Mereka dengan beraninya mengusik macan yang sedang tertidur.


Brum...


Brum...


Brum...


5 mobil menghampiri ke arah Abraham dan Tio saat ini.


"Tuan..." Sapa mereka serempak kepada Abraham.


"Bos..." Tak lupa mereka menyapa Tio.


Keduanya bagaikan pinang dibelah dua, keduanya hanya mengangguk.


Bimo pun maju ke arah Abraham dan Tio saat ini.


"Tuan, kami siap menunggu perintah anda," Bimo menunduk hormat menunggu mulut Abraham mengucapkan sepatah kata.


"Eheeemmm...." Abraham menatap mereka semua dan berdehem.


"Kalian parkir mobil ke tempat aman, aku ingin masuk sedangkan kamu, Bimo dan Tio mengikuti ku dari belakang namun jangan sampai ketahuan sedangkan yang lain menyebar jadi 2, tim 1 ku serahkan ke Doni sedangkan tim 2 biar Danu yang pimpin dan tugas kalian adalah untuk mengepung tempat ini jangan biarkan mereka lolos satu pun karena kalau sampai itu terjadi kalian akan mendapatkan hukuman," jelas Abraham membuat semua anak buahnya bergidik ngeri mendengar kalimat Abraham yang terakhir kali nya.


Glekkk...


Glekkk...


Semua hanya bisa menelan ludah kasar.


"Baik tuan," jawab mereka serempak dengan patuh.


Abraham pun mulai berjalan dulu mengendap-endap menuju ke dalam di ikuti Tio dan Bimo yang berada tak jauh dari Abraham.


Mereka beruntung suasana di sini sepi, mungkin mereka sedang berkumpul di suatu ruangan.


Abraham melirik ke arah Tio untuk mengamankan satu orang yang tengah duduk bersantai menyesap rokok di sela-sela jarinya. Pria itu tak menyadari keberadaan Tio dan Bimo saat ini.


Melihat kode yang di berikan oleh kakak iparnya, Tio pun bergerak cepat.


Bug...


Pria itu tersungkur dan pingsan karena Tio memukul tengkuk pria itu dengan keras. Kini giliran Bimo yang mengecek ke seluruh pintu, Bimo mengendap-endap menunju ke pintu-pintu yang terdapat di sana, dia mengintip lewat celah-celah kunci. Bimo memeriksa satu persatu.


Bimo pun menghampiri Abraham untuk melapor apa yang di lihatnya.


"Tuan, di antara ke tiga pintu itu tidak ada nyonya Arin atau si kembar," lapor Bimo dengan jelas seperti yang di lihatnya.


Ketiganya pun melesat masuk semakin ke masuk dalam.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha..." Suara itu terdengar begitu ramai.


"Eh tuh cewek cantik banget ya,"


"Ha ha ha ha ha ha tahu saja kamu yang bening-bening,"


"Mimpi kamu, mana mau dia sama kamu,"


"Suaminya itu adalah Sultan, sedangkan kamu adalah jongos,"


"Ha ha ha ha ha ha ha," semua pun ikut tertawa.


Tawa itu terdengar dari ruangan tengah.


Abraham, Bimo dan Tio mengintip mereka. Tio menghitung orang-orang yang ada di sana sedangkan Abraham tangannya terkepal erat mendengar kalau istrinya sedang di bicarakan.


"Kak tahan emosi, misi utama kita adalah menyelamatkan kak Arin dan si kembar," bisik Tio mengingatkan Abraham.


Abraham mengatur nafasnya, dia berfikir ada benarnya yang di ucapkan Tio saat ini. Setelah itu dia memperhatikan situasi di sekitar sana, sorot matanya tertuju ke arah 2 pintu yang tak jauh dari sana.


"Kak, mereka semua ada 13 orang," kata Tio menunjukkan ke arah mereka.


"Tuan saya sudah melumpuhkan 8 orang di luar sedangkan Danu tadi melapor kalau dia juga sudah mengamankan 12 orang yang berjaga di samping," kata Doni di sebrang sana melalui sambungan earpiece.


"Bagus, setelah itu kalian masuk jangan sampai target utama kita kabur," perintah Abraham dengan tegas.


Setelah mendengar Abraham menyelesaikan bicaranya, Bimo pun memberanikan diri berbicara.


"Pasti Arin dan si kembar ada di salah satu pintu di sana," kata Abraham menunjuk ke arah dua ruangan yang berpintu dengan warna yang berbeda.


"Aku dan Tio akan mengecoh mereka semua dan tuan bisa mencari keberadaan nyonya," jelas Bimo memberi usulan.


Abraham mengangguk, kini giliran Tio dan Bimo yang beraksi, Abraham pun memilih sembunyi.


"Hei siapa kamu?" Teriak salah satu dari mereka yang melihat Tio dan Bimo mendatangi mereka dengan santai.


"Aku hanya ingin bermain-main dengan kalian saja," kata Tio menatap mereka remeh.


"Cih sombong banget. Ayo kita hajar saja dia," teriak salah satu pria bertubuh kurus itu.


"Ayo om Bimo, waktunya kita main-main," ajak Tio dengan sinis.


Tio pun mengerakkan kepalanya, tangan seolah dia sedang pemanasan.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha, dia pikir siapa dia berani mencari masalah dengan kita," jawab salah satu dari mereka.


"Ha ha ha ha ha, benar kata mu. Paling nih anak bau kencur itu juga menangis minta ampun setelah kita kasih dia tanda sayang, ha ha ha ha ha ha," mereka semua tertawa menatap Tio dan Bimo remeh.


"Ck banyak bacot," guman Bimo tanpa banyak bicara lagi dia langsung maju dan memberi bogem ke salah satu dari mereka.


Bughh...


Pria itu melotot tak terima.


"Ayo kita hajar," ajak mereka serempak.


Tio maupun Bimo mencoba memancing mereka semua keluar memudahkan Abraham mencari Arin dan si kembar.


Bugh


Bugh


Bugh


Sedangkan saat ini Wilson ada di dalam kamar, Wilson yang mendengar suara berisik pun terbangun dari tempat tidurnya.


"Ada apa sih? Cih kenapa mereka semua berisik banget," grutu Wilson karena tidurnya terganggu.


Dengan malas Wilson pun beranjak dari kasur dan menuju ke arah pintu.


Ceklek....


Deg


Deg


Deg


Mata Wilson melebar saat melihat Abraham ada di depannya, Abraham juga sama kagetnya saat pintu sudah di buka. Keduanya tak menyangka sesaat keduanya terdiam namun setelahnya.


B E R S A M B U N G...