Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 148


Tio pun melakukan hal yang sama dengan kekasih, dia juga mengambil sedikit daging ayam itu dan mencoleknya ke sambal setelah itu dia mengarahkan nya ke mulut Amanda.


Awalnya Amanda tertegun melihat apa yang di lakukan oleh Tio namun setelah itu justru Amanda di buat tersenyum dan membuka mulutnya dengan cepat, Amanda memastikan suapan dari Tio itu masuk ke mulutnya. Dia sering menanti momen-momen yang romantis yang Tio lakukan.


"Aku baru tahu kamu bisa romantis," ledek Amanda seraya menggoda sang pujaan hati.


"Iya aku cuma melakukan itu padamu saja," jawab Tio mantap.


Namun jawaban itu mampu membuat hati Amanda berbunga-bunga di buatnya. Sungguh Amanda merasa begitu bahagia.


Keduanya pun makan dengan lahap, di selingi adegan romantis yang membuat orang lain melihatnya di buat baper seketika.


Si mbok sang art yang sudah lama bekerja di sana pun langsung berbalik badan merasa tak enak menganggu, apalagi saat tak sengaja melihat anak majikannya itu sedang makan sesekali saling menyuapi satu sama lain.


'Hi hi hi... Aduh si non meni romantis pisan ei. Kayak film-film di tv yang sering mbok lihat,' batin si mbok cekikikan melihat kelakuan dua anak manusia yang sedang mabuk cinta.


"Alhamdulillah..." Ucap Amanda dan Tio berbarengan saat piring mereka berdua sudah bersih tak ada sisa makanan sedikit pun.


Tio pun berdiri hendak menuju dapur membawa piring.


"Eh mau kemana?" Tanya Amanda saat melihat aksi Tio.


"Mau ke dapur untuk cuci nih piring," jelas Tio.


"Eh.... Jangan," cegah Amanda saat Tio mau ke dapur mencuci piring itu. Amanda memegang lengan Tio agar Tio berhenti.


Amanda kaget, dia kira Tio tak akan mau masuk ke dapur bahkan saat kata mencuci piring keluar dari mulut Tio sedikitnya membuat Amanda tertegun, Amanda kira Tio bersikap arogan tidak hangat seperti ini. Jujur Amanda baru tahu semua tentang Tio saat dia resmi di klaim Tio sebagai kekasihnya.


"Kenapa?" Tanya Tio mengerutkan keningnya.


"Ish masa cowok masuk dapur, apalagi cuci piring. Nanti bisa-bisa aku di marahi sama bunda," kata Amanda merebut piring kotor itu dari tangan Tio dan membawanya ke dapur untuk dia cuci.


Tio pun menggaruk kepalanya binggung. Setelah itu dia memilih duduk memainkan ponselnya untuk melihat apakah ada pesan masuk dari anak buahnya.


Saat Amanda sedang mencuci piring, dia baru ingat kalau Tio membawa 2 kotak bekal.


"Mas Tio tolong ambilkan kotak bekal tadi biar Manda cuci sekalian," teriak Amanda dari arah dapur.


Mendengar ucapan Amanda, Tio pun bergegas mengambil kotak makan tadi dan membawanya ke dapur.


"Terima kasih, mas Tio tunggu di ruang tamu saja," pinta Amanda.


Tio menurut, dia berpindah tempat ke ruang tamu.


Tak berselang lama muncullah Amanda dengan pakaian rapi dan rambut di kuncir seperti ekor kuda.


"Ayo sayang," ajak Amanda mengandeng tangan Tio.


Sejak keduanya resmi bertunangan, Amanda tak segan memanggil Tio dengan sebutan mas ataupun sayang.


"Bunda belum pulang ya?" Tanya Tio celingak-celinguk mencari keberadaan bunda Amanda.


"Bunda kalau ke pasar lama, entahlah bunda suka nawar ini itu," grutu Amanda mengingat saat dia pernah di ajak ke pasar.


"Ayo," Amanda menarik tangan Tio menuju ke arah luar.


"Cie gandengan takut ilang ya non mas ganteng nya," ceplos si mbok yang baru saja keluar dari tempat dia bersembunyi tadi.


"Astaghfirullah mbok, kaget aku," kata Amanda mengelus dadanya.


"He he he he he he, maaf non," jawab si mbok menunjukkan gigi nya yang sudah ompong di depan tinggal beberapa buah saja.


Tio mengelengkan kepalanya melihat art sang kekasih yang lucu itu.


"Hayo si mbok ngintip ya dari tadi?" Tanya Amanda penuh selidik menatap ke arah si mbok.


"Eh... Ah si non ada-ada saja," elak si mbok.


"Hayo loh ketahuan, ketahuan juga kan," ceplos si mbok dengan gaya latah apalagi kalau di kaget kan.


"Sttt.... Ayo kok, malah kamu usil sama di mbok," tegur Tio kepada Amanda membuat Amanda mengerucutkan bibirnya.


"Maaf ya mbok atas kelakuan Amanda yang suka buat mbok kaget," Tio menatap wanita tua itu dengan begitu sopan.


"Aduh den ganteng, manis banget sih. Di mbok mah sudah biasa bercanda begini dengan non Manda jadi den Tio jangan ambil hati," jelas si mbok dengan tersenyum.


"Ya sudah mbok, aku berangkat dulu nanti tolong kasih tahu bunda ya kalau aku sudah berangkat ke kampus di antar Tio," pamit Amanda kepada art itu yang sudah dianggap seperti neneknya sendiri.


"Iya non hati-hati,"


Setelah itu Amanda dan Tio masuk ke dalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tio tak ingin ugal-ugalan karena dia membawa kekasih hatinya, dia tak ingin Amanda merasa tak nyaman.


Setengah jam berlalu, mobil Tio memasuki halaman kampus. Namun kejadian tak terduga terjadi.


Tiba-tiba baru sampai beberapa meter dari gerbang kampus, mobil Tio mengalami hal yang aneh.


"Eh ini kenapa?" Tanya Amanda karena jalan mobil terasa aneh.


"Entahlah," jawab Tio juga merasa binggung, karena ini adalah mobil yang masih baru baru setahun dia dapatkan. Mobil itu juga mendapat perawatan rutin setiap bulannya.


Dengan cepat dia menginjak rem untuk memberhentikan mobilnya. Kaca mobil dia turunkan dan Tio melihat ke arah ban depan dan belakang ternyata ban depan miliknya kempes.


"Cih.... Siapa yang melakukan perbuatan pengecut seperti ini," sungut Tio dengan kesal.


"Kenapa sayang?" Tanya Amanda yang masih binggung karena dia tak mengetahui sebab kemarahan sang kekasih.


"Ada orang yang sepertinya sengaja membuat ban depan kempes," jelas Tio menahan rasa kesal dan marah nya.


"Sabar sayang, kita turun dulu kita lihat. Aku mohon mas Tio jangan terbawa emosi dulu," pinta Amanda mengelus lengan Tio dengan lembut untuk meredakan emosi Tio saat ini.


Siap yang tidak emosi kalau ini terjadi kepada nya.


Tio pun merogoh ponsel mahal miliknya, dia menekan beberapa nomor.


Tut..... Panggilan itu pun tersambung.


"Aku ada di depan, tepatnya tak jauh dari gerbang masuk. Tolong kamu ke sini bawa ban serep karena tiba-tiba ban mobilku kempes," perintah Tio kepada salah seorang anak buah nya.


"Siap bos,"


Setelah itu panggilan pun terputus karena Tio mematikan sepihak.


Tio dengan cepat membuka pintu mobil itu, dia ingin rasanya mengumpat namun dia harus menahan semua amarah di dirinya, tak ingin membuat Amanda ketakutan.


Prok


Prok


Prok


Prok


Tepukan tangan terdengar dari belakang Tio membuat Tio harus memutar tubuhnya.


"Cih kamu..." Sinis Tio menatap orang di depannya dengan tatapan remeh.


Amanda yang melihat itu pun segera turun dari mobil.


Pemandangan itu tak luput dari pandangan beberapa mahasiswa dan mahasiswi namun mereka memilih tak ikut campur.


B E R S A M B U N G....