Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 147


Tio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Tio bernafas lega karena perjalanan menuju kediaman Amanda tidak membutuhkan waktu yang lama, tak sampai satu jam dirinya sudah sampai di depan rumah milik sang kekasih.


Tio sengaja memilih jalan pintas agar dia tidak terjebak macet di pagi hari. Ya siapa yang tak tahu kalau pagi hari jalan kota akan terlihat sibuk, banyak orang berangkat bekerja dan bersekolah membuat jalanan sedikit melambat. Tio tak mau ambil resiko telat mengantar kekasih hatinya itu, dia memilih jalan pintas meskipun jalan yang dia pilih jarang di lalui karena sepi.


Tit...


Tit...


Tit...


Tio menyembunyikan klakson agar pak satpam membuka pintu pagar, dia tak mungkin membiarkan mobilnya bertengger cantik di depan sana, pasti akan merepotkan orang lain terlebih lagi jalan di komplek itu cukup hanya bisa di lalui 2 mobil saja.


"Eh mas Tio," sapa pak satpam dengan ramah karena mengetahui kalau Tio adalah tunangan dari nona mereka. Pak satpam itu tahu karena saat dirinya membuka sedikit pintu pagar mendapati wajah Tio muncul di balik kaca mobil.


Pak satpam semakin membuka lebar pintu pagar agar memudahkan mobil Tio masuk ke dalam halaman rumah Amanda.


"Iya mang, maaf merepotkan," kata Tio dengan ramah.


Tio akan bersikap ramah dengan orang yang memperlakukan dirinya baik, meskipun hanya art, satpam maupun supir. Tio seperti Arin yang ramah namun berbeda kalau dia berada di perusahaan. Tio akan datar dan berwibawa.


Setelah memarkirkan mobilnya, Tio pun segera turun dari mobil, dia tak sabar ingin bertemu dengan sang kekasih.


Tok


Tok


Tok


Ceklek....


"Maaf ya sayang, aku baru datang," lirih Tio saat mengetahui yang membuka pintu adalah Amanda.


"Iya mas tidak apa-apa, lagian masih ada waktu satu jam lebih kok," jawab Amanda tersenyum manis.


Setelah acara kemarin, Amanda di minta oleh bunda untuk memanggil Tio dengan sebutan mas Tio. Kata bunda itu sebagai tanda hormat kita kepada calon suami dan nanti agar Amanda terbiasa dan tidak kaku. Memang sih awalnya Amanda agak sedikit kaku, lidahnya terasa keluh untuk mengucapkan sekedar kata mas Tio.


"Lho bukannya kamu 30 menit lagi ada jam ya?" Tanya Tio dengan menyergit heran.


"He he he he he he, maaf aku lupa kalau pak Leo tadi pagi bilang di grup kalau dia ada kepentingan mendadak," jawab Amanda cengengesan menutupi rasa tak enak di hatinya karena lupa memberitahu kepada Tio tadi.


Tio melotot mendengar ucapan sang kekasih.


'Huuu padahal aku sampai bela-belain tidak sarapan, ngebut di jalan pintas ternyata....! Untung sayang kalau tidak,' gerutu Tio menahan kesal di dalam hati.


Ya Tio hanya berani membatin dalam hati.


"Iya tidak apa-apa, apapun aku lakukan demi calon istriku," kata Tio mengedipkan matanya dengan genit ke arah Amanda tak lupa senyum semanis madu.


Amanda yang melihat itupun di buat tersipu malu, namun dengan cepat dia menormalkan hatinya.


'Tahan Amanda jangan sampai kamu baper dan meluk dia, bisa-bisa nya dia tersenyum manis begitu,' batin Amanda ketar-ketir melihat wajah Tio yang terlihat begitu tampan dengan senyuman manis itu.


"Ayo masuk," Amanda menarik tangan Tio masuk ke dalam ruang makan.


"Lho kok tarik aku sampai sini?" Tanya Tio menatap ke arah sang kekasih heran. Karena sang kekasih menarik ke meja makan.


"Aku lagi makan," tunjuk Amanda ke arah meja makan, di mana ada piring yang baru berkurang separuh nasi dan lauk nya.


"Eh ada nak Tio, ayo ikut makan sekalian," ajak bunda yang baru datang dari arah dapur.


"Iya Bun," jawab Tio sedikit canggung.


Melihat calon menantunya itu merasa canggung, bunda pun berniat pergi ke keluar.


"Iya Bun hati-hati," kata Tio dan Amanda bersamaan.


Tio pun duduk saat Amanda menarik kursi di sebelahnya untuknya.


Tio pun teringat kalau tadi sang bunda membawakan dia 2 bekal makanan. Tio pun membuka tas miliknya dan mengeluarkan 2 kotak makanan dan di taruh di tas meja.


"Lho ini apa?" Tanya Amanda dengan binggung melihat pujaannya mengeluarkan seperti bekal makanan.


"Ini tadi aku terburu-buru tidak sempat makan jadi bunda memaksa ku membawa ini," jelas Tio membuka isi dari kotak makan yang dia bawa.


Amanda berbinar melihat ayam bakar itu dengan sambal yang menggugah selera. Bau nya menjalar sampai di hidung membuat Amanda tak sabar ingin mencicipinya.


"Ini buat kamu," ucap Tio menyodorkan satu kotak bekal itu ke arah Amanda.


"Ha ...." Amanda menatap binggung ke arah kotak bekal yang di arahkan Tio tepat di depan nya.


"Iya ini sengaja bunda titip buat calon menantunya yang paling cantik," kata Tio di sertai gombalan membuat Amanda merona di buatnya.


"Wahhh.... Bilang sama bunda terima kasih," jawab Amanda dengan gembira.


"Ini ayam bakar kesukaan ku, pasti kamu juga suka. Cobalah," kata Tio membuka kotak makan milik Amanda itu, menu sama ayam bakar namun dengan sambal yang berbeda.


"Eh ini sambal kesukaan aku," jawab Amanda terkejut saat melihat sambal pelengkapnya.


Dengan cepat Amanda memindahkan ayam itu ke dalam piring miliknya tak lupa sambal.


"Emmm.... Maaf aku cuma ambil ayam nya saja karena nasi ku masih banyak," kata Amanda merasa tak enak hati pasalnya dia hanya mengambil lauknya sedangkan nasi nya di biarkan masih di sana.


"Tidak apa-apa, biar aku makan saja nasinya," jawab Tio tahu perasaan sang kekasih.


"Terima kasih sayang," kata Amanda tersenyum manis, senyum yang mampu membuat Tio semakin terpanah.


"Ayo kita makan," ajak Amanda memberikan piring.


"Ini buat apa?" Tanya Tio penasaran.


"Nasi sama ayam bakar itu pindahkan saja ke sini, biar makan nya enak," jelas Amanda membuat Tio akhirnya mengerti.


"Nanti merepotkan kamu harus cuci piring lagi," kata Tio tak enak hati.


"Tidak apa-apa, hitung-hitungan belajar jadi istri yang baik," kata Amanda mantap membuat Tio tersenyum tipis.


Tio pun menurut, dia menuang nasi dan ayam yang ada di kota bekal itu ke piring. Keduanya makan dengan lahap.


"Kalau makan yang benar, jangan seperti anak kecil belepotan," tangan Tio menyeka nasi yang ada di sudut bibirnya.


Amanda gelagapan, dia sungguh malu atas keteledorannya.


"Coba ini," Amanda menyodorkan tangannya yang berisi ayam dengan sambal miliknya ke mulut Tio untuk mengalihkan keadaan yang memalukan itu.


Tio membuka mulutnya menerima suapan dari sang kekasih.


"Bagaimana? Enak?" Tanya Amanda.


"Tentu dong enak, masakan siapa dulu dong bunda aku," jawab Tio dengan bangga.


"Iya masakan bunda memang enak, jadi tak sabar ingin belajar masak lagi dengan bunda," kata Amanda penuh harap.


B E R S A M B U N G.....