Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 112


Cit.... Tio memberhentikan mobilnya, Amanda pun menoleh ke arah Tio.


"Turun..." Kata Tio yang menatap wanita cantik yang sedang membrengut kesal.


"Kenapa aku harus turun," proses Amanda yang tak terima karena dia berfikir Tio menurunkan dirinya di jalan.


"Kamu gak mau turun?" Tanya Tio binggung pasalnya wanita cantik itu menolak turun padahal sudah sampai di depan rumah nya.


"Tidak..." Jawab Amanda kekeh tanpa menoleh ke luar mobil.


Ya sedari tadi Amanda sibuk melamun, dia sampai lupa memperhatikan sekeliling nya.


Tio begitu gemas dengan wanita di sampingnya itu.


"Ya sudah kita ke KUA saja mungkin masih buka," kata Tio dengan entengnya membuat Amanda menganga di buatnya.


"Karena kamu tidak mau pulang ke rumah mu jadi sebelum ku ajak ke menginap di rumah ku kamu harus ke KUA dulu buat meresmikan hubungan kita," jelas Tio seolah tahu pemikiran Amanda.


"Cepat antar aku pulang," pinta Amanda yang tak memperdulikan omongan Tio yang ngawur ke mana-mana.


"Apa kamu mau ku gendong?" Tanya Tio.


"Cepat jalankan mobilnya," pinta Amanda.


"Ke mana lagi? Katanya tadi minta di antar pulang, lha ini sudah sampai," jawab Tio.


Amanda pun menatap sekeliling nya dan benar saja, ternyata sudah sampai di depan rumahnya.


"Ha kok sudah sampai," ceplos Amanda.


"Kamu kira kita di mana?" Kata Tio menaik turunkan alisnya.


Mendengar ucapan Tio tadi membuat Amanda merona karena malu.


'Aduh malu banget, mau di sembunyikan di mana muka ku ini. Ah aku harus segera keluar dari mobil ini,' batin Amanda.


Amanda dengan cepat membuka pintu mobil dan menurunkan kaki nya, dia dengan cepat berlari menuju rumahnya.


"He he he he he he he, lucu banget sih," Tio terkekeh melihat betapa mengemaskan nya Amanda.


Di dalam rumah Amanda.


"Lho kenapa lari-lari nak, apa ada yang berniat jahat sama kamu?" Tanya sang bunda yang saat ini berada di ruang tamu menatap sang anak.


"Eh... Tidak Bun," Amanda kaget, dia tersenyum kikuk ke arah sang Bunda.


Tok tok tok tok....


"Assalamualaikum," sapa Tio yang sudah berada di depan pintu rumah Amanda.


"Ha...." Amanda menoleh mendapati Tio sudah berdiri di sana tersenyum manis semanis gula.


'Tuh orang mau ngapain juga ikut ke sini, bisa gawat kalau bunda tahu siapa dia,' batin Amanda.


'Bunda sudah tahu lagi,' batin Amanda saat tahu bunda nya melihat ke arah pintu.


Bunda pun mendekati pintu yang sudah terbuka sedari tadi.


"Waalaikumsalam wr wb," jawab Amanda dan bunda nya serempak.


"Maaf siapa ya? Eh Rio saya kira siapa. Tumben kamu sopan sekali mau masuk ke rumah menemui Amanda, biasanya juga langsung duduk di teras depan, tetapi kamu terlihat berbeda apa ya....." Kata bunda Amanda sedari tadi menatap Tio dari atas ke bawah memastikan apa yang berbeda.


"Maaf saya bukan Rio, tetapi saya Tio Tante," jawab Tio menjelaskan.


"Oalah pantas," bunda Amanda pun menjadi tidak enak.


"Ayo masuk nak," ajak bunda Amanda dengan ramah.


"Kenapa kamu ikut masuk," ketus Amanda.


"Hus kamu itu jangan begitu kepada tamu, lagian kenapa sih nak ketus banget dengan nak Tio," protes bunda.


"Tidak apa-apa Tante, Amanda mungkin masih marah sama saya karena belum bisa melamar nya sekarang padahal kami sudah setahun berpacaran," tiba-tiba Tio mengucapkan hal itu dengan wajah menunduk sedih.


'Ha ha ha ha ha ha kena kamu sayang,' batin Tio tertawa licik.


'Apa-apaan dia berbicara seperti itu kepada bunda,' batin Amanda kesal.


'Pria ini lebih tampan berbeda dari saudara kembarnya, dia terlihat rapi seperti sudah bekerja,' batin sang bunda Amanda terlihat mengagumi Tio.


"Begitu ya nak, aduh maafkan sifat Amanda yang kekanak-kanakan," jawab bunda Amanda merasa tak enak.


"Dia bohong bunda," protes Amanda.


"Eh sampai lupa, silahkan masuk nak Tio. Silahkan duduk biar Amanda ambilkan minum," bunda Amanda mempersilahkan pria tinggi nan tampan di depannya untuk masuk.


"Terimakasih Tante," jawab Tio ramah berjalan masuk menuju ruang tamu.


"Amanda buat jus 2 buat nak Tio sama bunda," titah Amanda.


"Bun...." Amanda merengek ke arah bunda, bukannya kasihan malah bunda melotot.


"Ish...." Amanda kesal menghentakkan kakinya ke lantai sebelum berlalu menuju ke arah dapur.


"Ish bunda mah tega, mana lagi nik Mimin," kesal Amanda apalagi tak menemukan art rumahnya itu. Dengan terpaksa Amanda membuat jus jeruk 2.


Sedangkan di ruang tamu.


"Nak Tio kerja atau kuliah?" Tanya bunda Amanda berbinar menatap wajah pria tampan itu yang berwajah bak opa.


"Saya kuliah dan kerja Tante," jawab Tio.


"Kamu kerja mengurus toko kue milik kakak kamu ya seperti Rio," tanya bunda Amanda lagi. Dia ingin tahu tentang pemuda tampan di depannya itu.


"Saya tidak ikut mengelola toko kue itu, saya bekerja di perusahaan milik kakak ipar saya," jelas Tio.


"Oh..."


'Ini sih paket lengkap nama nya,' batin bunda Amanda.


"Kamu sudah lama kenal dengan Amanda?"


"Sudah lama Tante, kami saling jatuh cinta dan tadi Amanda ngambek karena saya menolak melamar hari ini, saya ingin melamar nanti setelah saya lulus kuliah," jelas Tio melancarkan aksinya.


"Iya nak Tante paham,"


"Maaf Tante, saya harus pulang sudah mau gelap takutnya bunda dan kakak saya mencari saya," pamit Tio dengan sopan.


"Tetapi minumannya," kata bunda Amanda.


"Tidak apa-apa Tante," Tio pun melangkah ke arah pintu.


"Salam buat Amanda ya Tante,"


Setelah itu Tio pun pergi meninggalkan kediaman Amanda, bunda sempat melambaikan tangan ketika mobil itu melaju.


"Ah senang banget punya calon mantu tampan," guman bunda tersenyum senang.


Bunda pun masuk dan menutup pintu karena hari sudah hampir gelap.


"Lho Tio mana Bun?" Tanya Amanda karena tak melihat keberadaan Tio.


"Pulang, kamu sih lama cuma buat jus saja," protes bunda.


"Terus ini bagaimana?"


"Kamu minum saja sendiri," jawab bunda.


"Pintar kamu cari pacar, tampan," puji bunda mengacungkan 2 jempolnya.


"Dia bukan pacar aku bunda," protes Amanda yang tak terima ucapan bundanya itu.


Bunda Amanda tak menghiraukan ucapan sang anak, dia begitu bahagia ternyata anaknya bisa punya pacar tampan dan ramah.


"Oh ya berarti dia juga adik ipar tuan Abraham, tunggu tunggu... Berarti dia bekerja di perusahaan milik tuan Abraham. Wah pasti nanti dia cocok mengurus perusahaan kita nanti kalau resmi menikah dengan kamu nak, kamu tahu kan Papa kamu sudah tua," jelas bunda Amanda.


"Bunda kok mikir sampai ke sana sih, aku saja masih kuliah," kata Amanda dengan wajah di tekuk.


B E R S A M B U N G....