Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 144


Arin pun mengajak Amanda dan Renata untuk berbincang hangat, sedangkan para lelaki membahas tentang pekerjaan.


Abraham berkali-kali meminta sang adik yang tak lain adalah Rio untuk bergabung dengan nya mengelola perusahaan namun Rio menolak, dia lebih suka mengelola toko kue sang kakak yang telah buka cabang di berbagai kota.


Abraham pun pasrah, dirinya tak bisa memaksakan kehendak nya kepada Rio, Abraham menghela nafas panjang tetapi dia tetep mendukung usaha Rio sang adik iparnya itu. Abraham bahkan tak segan-segan untuk menawarkan bantuan kalau Rio membutuhkan bantuannya.


Acara barbeque itu berjalan lancar, dengan pengenalan Renata sebagai calon dari Rio.


Tio juga mengenalkan nya kepada bunda, dia ingin Renata bisa dekat dengan sang bunda meskipun untuk melangkah ke jenjang yang lebih seperti pernikahan masih lama, namun Rio berharap kedua wanita yang di cintai nya itu bisa akrab saling menyayangi.


Keesokan harinya semua bersiap untuk pulang ke mansion Abraham.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Tak terasa 2 Minggu pun sudah berlalu. Acara pertunangan Amanda dan Tio pun akan di gelar hari ini. Pertunangan itu akan dilangsungkan di kediaman Amanda. Semua itu atas permintaan dari kedua orang tua Amanda yang ingin melihat anaknya bertunangan. Sebenarnya keluarga dari pihak Tio yaitu Abraham pun sudah memberi usulan agar acaranya di adakan di hotel miliknya namun pak Rendi menolak, meskipun akan merepotkan namun pak Rendi begitu bahagia.


Sedangkan di tempat Abraham...


Di kediaman Abraham semua sudah bersiap, mereka semua memakai baju dengan warna senada sesuai permintaan Arin.


Ya Arin begitu antusias dalam mengurus semuanya, hal itu membuat Tio maupun Abraham geleng-geleng kepala. Apalagi barang yang mereka bawa nanti cukup banyak sesuai pilihan Tio dan Arin juga tentunya.


Arin cukup terharu karena sang adik dapat menemukan wanita yang tepat.


Semuanya Arin lakukan sebaik mungkin mengingat sang ayah telah tiada tinggallah dirinya sebagai kakak tertua, jadi secara tidak langsung Arin harus mengurus semua.


Arin hari ini sangat bahagia, senyum selalu terbit di wajah cantiknya apalagi melihat sang adik bahagia, adik yang selalu menemani dirinya dalam suka suka duka di masa lalu. Menemani dia merintis usaha kue bersama.


"Eh semua sudah siap kan," tanya Arin kepada semuanya yang sedang berkumpul di ruang tamu.


"Sudah sepertinya," jawab Abraham menatap semuanya sudah lengkap.


"Eh Tio awas cincin kamu ketinggalan," kata Rio memperingatkan karena dia ingat peristiwa temannya dulu yang kehilangan cincin.


"Tenang aman kok, nih ada di saku celana ku," jawab Tio percaya diri seraya merogoh saku celananya.


Tio melotot saat tak menemukan keberadaan cincin di sakunya, dengan gusar Tio merogoh saku celana satu nya lagi.


"Haaa kok gak ada," Tio dilanda kepanikan.


"Jangan prank kamu," kata Rio takutnya saudaranya itu cuma membohongi mereka.


"Benar tidak ada," kata Tio mengeluarkan kantong celananya.


Semua terbelalak melihat nya.


"Ha kok bisa," Arin kaget mendengarnya.


"Aduh kamu itu teledor sekali," bunda kesal melihat anaknya itu.


"Bimo, Doni, cepat perintahkan anak buah mu cari cincin di sekitar sini takutnya Tio menaruh sembarangan," dengan cepat Abraham memerintahkan mereka takutnya Tio lupa menaruh nya.


"Dasar anak nakal, bisa-bisanya buat ulah saat mau berangkat," kata sang bunda untuk kesekian kalinya karena merasa begitu kesal, bunda pun memukul tangan sang anak untuk meluapkan rasa emosi nya.


"Aduh bunda, mana Tio sengaja sih Bun. Inikan hari bahagia Tio masa Tio hancurkan sih,"jawab Tio mencari pembenaran.


'Kenapa sih pakai lupa taruh segala,' batin Tio merutuki kesalahannya.


Semuanya pun panik mencari di sekitar sana namun nihil.


"Tio coba cari di kamar, kamu dari kamar langsung ke sini," usul Arin karena Arin ingat Tio cuma berada di kamar dan di ruang tamu saja dari tadi. Ya tadi Tio turun dari kamar langsung menuju ruang tamu.


Mendengar ucapan sang kakak, Tio pun mengangguk membenarkan ucapan sang kakak.


Hos hos hos hos hos...


Dengan nafas Tio memburu karena berlari, akhirnya dia pun sampai di depan pintu kamar nya.


Ceklek....


Tio pun menatap ke seluruh penjuru kamar, dia menyusuri satu persatu barang miliknya.


Semua tak luput dari tangannya, Tio membuka semuanya. Bahkan kolong tempat tidur maupun lemari tak luput dari nya.


Tio mengeram kesal karena tak menemukan barang yang dia cari.


"Ahhh...." Teriak Tio frustasi.


"Di mana sih, tuh cincin," grutu Tio frustasi membuka semua laci, lemari dan bantal untuk kedua kalinya namun tak menemukan keberadaan cincin itu juga.


"Aaaahhh...." Tio kesal menarik paksa selimut yang tadi pagi belum sempat dia rapikan.


Braak....


Tio menoleh ke bawah saat sebuah kotak terjatuh.


"Ah ketemu," dengan mata berbinar Tio membuka kotak itu dan ternyata kotak berisi cincin miliknya.


"Fyuuuh syukurlah ketemu kalau tidak bisa di protes Amanda karena cincin itu pilihan dia karena model sederhana namun bagus," guman Tio merasa bersyukur karena cincin itu ketemu juga.


Tio pun keluar dari kamar menuju ruang tamu di mana semua sudah menunggu di sana dengan khawatir.


"Bagaimana?" Tanya Abraham.


"Nih ketemu, tadi nyelip.di lipatan slimut di atas kasur," jawab Tio dengan begitu kelas.


"Alhamdulillah," semua yang merasa di ruang tamu pun bergumam senang.


"Ayo kita berangkat, takutnya macet dan kira telat datang," ajak Abraham yang diangguki oleh Arin.


Sua pun masuk ke dalam mobil masing-masing menuju rumah Amanda. Tio, Rio dan bunda berada di dalam satu mobil yang di supir oleh Bimo.


Sedangkan Abraham dan ketiga anaknya berada dalam satu mobil yang di supir oleh Doni.


Tak lupa seperti biasa satu mobil juga untuk bodyguard setia Abraham yang siap menjaga keselamatan mereka nanti di sana.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Sedangkan di tempat Amanda.....


Di depan rumah Amanda sudah berdiri tenda yang di dekorasi cantik dengan nuansa putih dan pink sesuai keinginan Amanda.


Kursi-kursi pun tertata rapi di tempat dan tak lupa sebuah foto bertulisan nama Tio dan Amanda sudah terpampang di sana, menandakan sebagai pemeran utama nanti keduanya.


Saudara maupun kerabat jauh ataupun dekat keluarga Amanda datang di sana.


Di dalam kamar Amanda....


Wanita cantik sedang duduk manis di rias dengan cantik. Kebaya berwarna pink begitu cantik melekat di tubuh Amanda.


"Sayang kamu begitu cantik?" Kata bunda Manda yang sedari tadi memandang sang anak dengan berkaca-kaca.


"Benar kah bunda?" Amanda tersipu malu mendengar pujian bundanya.


B E R S A M B U N G....