
'Tenang Arin masih ada dua orang lagi, pasti salah satunya adalah kamu,' batin Arin.
Arin begitu ingin mendengar namanya keluar dari mulut Abraham, entah sejak kapan Arin pun sendiri tak tahu. Dia selalu ingin Abraham memperhatikan dirinya, apalagi kalau ada wanita yang menatap Abraham penuh kekaguman membuat Arin begitu kesal.
"Yang ke tiga Aurel," jawab Abraham. Tetapi Abraham mengulum senyum tanpa Arin ketahui.
'Aku ingin tahu bagaimana reaksi nya kalau bukan nama dia yang ku sebut, ah pasti begitu mengemaskan,' batin Abraham. Dia tengah menyusun kata untuk mengerjai wanita di sampingnya.
Arin langsung lesu saat yang di sebut adalah nama anaknya.
'Tenang Arin, pasti kamu yang ke empat,' batin Arin menguatkan.
'Ha ha ha ha.... Kamu jangan terlalu percaya diri Arin apalagi percaya omongan dia, pasti nama yang akan di sebutkan nanti salah satu wanita yang pernah menghangatkan ranjang nya,' batin Arin.
'Dia pernah bilang tidak ada wanita lain selain istrinya, pasti itu adik atau saudara nya. Bisa saja itu neneknya,' batin Arin lagi.
Arin berperang dengan dirinya, satu sisi dia mencoba menenangkan Arin dan satu sisi dia mencoba memprovokasi dirinya, dia seakan takut kalau ada wanita lain di hati Abraham.
Arin sudah lesu tak bersemangat, dia sudah tak ingin mendengar siapa wanita ke empat itu.
"Yang ke empat adalah Ninda wanita yang membuat duniaku jungkir balik karena ulahnya, wanita polos yang terlalu gengsi untuk mengakui dia telah jatuh cinta kepadaku," kata Abraham menyeringai.
Arin tak menghiraukan ucapan Abraham lagi, dia sudah terlanjur kecewa.
Abraham heran melihat Arin yang murung, apa dia tidak sadar kalau Abraham menyebut nama nya.
"Heii..... Kamu tidak mendengar kata ku," kesal Abraham mengoyakkan tangan Arin.
"Apa...." Arin mendongak tersadar dalam lamunan nya.
"Kamu tidak dengar ucapan ku tadi, siapa wanita itu," kata Abraham menatap intens Arin.
Arin mengeleng sebagai tanda dia tak fokus kepada kata yang keluar dari mulut Abraham.
Abraham mendengus kesal.
"Dasar cewek tidak peka," kesal Abraham.
Arin menyergit heran mendengar ucapan Abraham.
"Siapa??" Tanya Arin masih dengan wajah polosnya.
"Yang ke empat tuh kamu, perempuan yang sudah membuat hari-hari ku tak karuan. Dasar perempuan tidak peka, aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak kejadian malam itu," sungut Abraham meluapkan uneg-uneg nya karena Arin masih saja menjaga jarak dengan nya sehingga membuat Abraham sulit menembus pertahanan cinta Arin, Abraham tidak ingin memilki tubuh Arin saja tetapi dengan cinta Arin juga.
Arin kaget mendengar semua pernyataan Abraham, dia menutup mulutnya masih tak percaya.
"Apa kamu tidak ada sedikitpun rasa cinta atau suka untukku," lirih Abraham.
Abraham tak ingin memaksa kehendaknya.
Arin terdiam sesaat sebelum mengangguk mantap.
"Jadi kamu juga cinta sama aku," kata Abraham memastikan dengan wajah berbinar.
"Cinta? Aku tak tahu apa itu cinta karena aku tak pernah sekalipun jatuh cinta, aku suka melihat mu tersenyum tetapi aku benci melihat wanita lain mental mu dengan pandangan kagum," lirih Arin mengungkapkan segala yang ada di pikirannya saat ini.
Abraham mencubit gemas pipi Arin.
"Itu tandanya kamu juga suka sama aku," kata Abraham dengan terkekeh melihat wajah Arin yang binggung.
Cup... Abraham mengecup pipi itu membuat Arin terbelalak. Melihat reaksi Arin membuat Abraham gemas ingin mengulanginya lagi.
Cup... Pipi Arin merona di buatnya.
Arin pun menghindari Abraham, dia memalingkan wajahnya ke samping karena malu.
He he he he he.... Sedangkan Abraham terkekeh di buatnya.
Setengah jam berlalu.....
Akhirnya setelah drama di dalam mobil itu, mereka pun sampai di restauran yang tak terlalu jauh dari sana.
Mobil pun berhenti di ikuti mobil yang ada di belakang.
"Aurel, Abrian ayo turun nak," kata Arin sambil menggoyangkan tubuh kecil itu yang tengah asyik dalam mimpi indahnya.
"Nanti saja ma, Aurel masih mengantuk. Hari ini libur sekolah nya," jawab Aurel dengan mata yang masih terpejam.
"Abrian bangun sayang," Arin mengusap pipi Abrian membuat Abrian menerjabkan matanya.
"Ini di mana ma?" Tanya Abrian sambil mengucek kedua matanya.
"Kita sudah sampai nak, kalian tidak lapar. Ayo turun," kata Abraham, lalu membuka pintu mobil.
Dengan wajah masih mengantuk Abrian turun di bantu Arin. Karena kasihan melihat sang anak, Abraham memberi kode salah satu bodyguard untuk mendekat.
"Kamu gendong anak saya," perintah Abraham kepada pria bertubuh gempal itu.
Arin masih berusaha membujuk sang putri yang masih enggan membuka matanya.
"Aurel masih ngantuk ma," bibir mungil itu menjawab dengan kesal dalam kondisi mata masih tertutup.
"Ya sudah kita tinggalkan saja Aurel di sini," kata Abraham berniat menggoda sang putri.
Arin melotot ke arah Abraham, di tanggapi dengan tersenyum usil. Abraham pun memberi kode untuk percaya kepada nya.
Arin pun mengerti, dia mengikuti cara Abraham.
Arin pun berpura-pura turun.
"Ya sudah biarkan saja Aurel di sini, ayo kita makan," kata Arin dengan suara sedikit keras supaya di dengan oleh Aurel.
Dan benar saja, Aurel langsung membuka matanya. Dia melonjak dari tidurnya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks tunggu Aurel ma," rengek Aurel.
"Iya mama tunggu, maka nya cepat turun atau kita tinggal," ancam Arin karena sang anak masih tak kunjung beranjak.
Dengan wajah cemberut Aurel turun dari mobil, dia merentangkan kedua tangannya meminta di gendong oleh Abraham.
Mereka semua memasuki restauran.
Arin berhenti, dia menghampiri mbak Tina dengan tersenyum manis.
"Mbak Tina...." Sapa Arin.
"Iya Bu..." Jawab mbak Tina menunduk sesekali melihat ke arah Abraham yang tengah mengendong sang anak.
"Mbak setelah ini, mbak bisa pulang ikut mobil tadi," kata Arin, mendengar hal itu sontak mbak Tina mendongak menatap Arin dengan raut wajah yang entah Arin sulit jabarkan.
"Apa ibu mengusir saya?" Tanya mbak Tina kecewa.
Arin masih tersenyum, dia melihat Mbak Tina yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Tidak saya masih membutuhkan kamu, saya dengan suami saya ingin pergi bertemu dengan kolega bisnis nya dan tidak mungkin kami mengajak banyak orang," jelas Arin tengah merangkai kata yang pas agar kebohongannya tidak di ketahui.
Arin ingin wanita muda di depannya tahu di mana posisinya.
Mbak Tina pun menunduk dia mengerti kalau dia cuma seorang pengasuh, bukan wanita yang penting di sini.
Setelah itu Arin pergi meninggalkan mbak Tina menuju ruangan yang Abraham pesan khusus untuk dia dan kedua anaknya.
Sesampainya di dalam ruangan khusus...
"Ma kenapa lama sekali," rengek Aurel yang ingin di suapi Arin.
"Ma mana mbak Tina," tanya si kecil Abrian yang sedari tadi tak melihat Mbak Tina di sekitarnya.
"Mbak Tina harus pulang sayang," jawab Arin.
"Kenapa mbak Tina pulang," sekarang giliran Aurel yang bertanya membuat Arin menghela nafas panjang. Arin menatap Abraham memelas meminta batuan.
"Kita akan pergi ke suatu tempat, karena tiketnya terbatas jadi mbak Tina tidak bisa ikut," jelas Abraham membuat keduanya mengangguk.
"Apa ma," kata Aurel membuka mulutnya lebar-lebar meminta di suapi.
Abraham tadi sudah mesan menu makanan untuk mereka, karena takut anak-anak kelaparan saat menunggu Arin berbicara dengan pengasuhnya.
B E R S A M B U N G......
LIKE SAY