Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 177


Mobil yang di kendarai Tio melaju dengan cepat menyusul mobil milik Abraham yang sudah melesat jauh meninggalkan mobil Tio. Jujur Abraham merasa merasa kecewa karena Tio tidak menjaga Aurel sang putri kesayangannya dengan baik.


Melihat Aurel yang ketakutan membuat sudut hati Abraham pun ikut merasakan sakit.


Abraham mendekap Aurel erat karena Abraham bisa melihat kalau anaknya itu sedang terpukul dan ketakutan.


"Aurel sayang, tenang saja wanita jahat itu sudah papa kasih hukuman jadi dia tidak akan buat nakal lagi, sudah ya jangan takut," bujuk Abraham menenangkan hati Aurel saat ini.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, benar pa?" Tanya si kecil itu memastikan.


"Iya sayang, sudah jangan menangis nanti kalau mama melihat Aurel menangis pasti mama akan sedih," kata Abraham mengingatkan anaknya untuk tidak bersedih.


Abraham menghapus air mata anaknya. "Begini kan cantik," kata Abraham mengelus rambut sang anak.


Abraham tak ingin Arin marah ataupun kecewa kepada sang adik karena telah gagal menjaga anaknya, biarlah masalah ini dia pendam. Abraham juga tahu kalau Tio sudah berusaha menjaga sang anak karena kejadian itu di luar bayangannya, Abraham tahu Tio hanya ingin membuat anaknya melupakan kejadian penculikan tadi dengan membelikan sang anak es krim.


"Bram katakan kepada semua anak buah mu agar masalah ini jangan sampai nyonya tahu, suruh mereka semua retas ponsel beberapa orang yang sengaja merekam tadi, aku ingin video itu hilang dari dunia maya. Kamu mengerti kan?" Perintah Abraham kepada salah satu bodyguard mereka.


"Siap tuan, saya mengerti dan saya akan pastikan semua video itu akan lenyap hari ini juga, bagi yang berniat menyebarkan atau mengunduh kita akan membuat video itu tidak bisa di akses oleh siapapun ," jawab Bram meyakinkan.


"Jangan lupa beritahu Hendra juga," kata Abraham lagi.


"Siap," jawab Bram dengan patuh.


Abraham menatap putri kesayangannya.


"Sayang jangan sedih, hapus air mata mu," pinta Abraham saat melihat masih ada sisa-sisa air mata di pipi gadis kecilnya itu.


Aurel pun menurut, dia menghapus air matanya setelah itu dia tersenyum kepada Abraham.


"Aurel sayang papa," gadis kecil itu mempererat pelukannya.


"Nanti jangan cerita sama Oma kalau tadi Aurel di culik, Aurel juga jangan bilang ke Oma, mama ataupun kepada semua orang di rumah kalau tadi ada wanita jahat yang buat Aurel sedih, ok," pinta Abraham menunjukkan jari kelingking nya kepada Aurel.


"Memang kenapa pa?" Tanya gadis itu dengan polosnya.


"Papa tidak ingin, mama, Oma dan kak Abrian ikut sedih," kata Abraham.


"Ok deh pa," jawab Aurel menunjukkan jari kelingking nya dan mengaitkannya ke jari kelingking sang papa.


Abraham tersenyum namun tangannya terkepal erat.


'Akan ku pastikan perempuan itu menderita, mata balas mata, hinaan balas dengan hinaan karena aku bukan orang yang bermurah hati,' batin Abraham tersenyum menyeringai.


Bram yang melihat dari kaca mobil pun bergidik ngeri melihat senyum tuannya itu.


'Ck kenapa tuh wanita bodoh banget, cari masalah sama tuan Abraham,' batin Bram tidak bisa membayangkan nasib perempuan itu nantinya.


'Kasihan nona kecil, baru saja di culik, eh ketemu wanita jahat itu,' batin Bram ikut bersedih.


Abraham mengambil ponselnya, dia mengetik pesan untuk Tio agar Tio tak memberitahu tentang semua ini kepada Arin dan bunda nya. Abraham juga meminta dia untuk tidak menemuinya nanti malam karena ingin menenangkan sang putri. Abraham meminta dia menemui nya besok di markas untuk membahas sesuatu.


Sedangkan di mobil Tio saat ini.


Tio memukul stir mobilnya karena kesal, dia merasa gagal melindungi gadis kecil kesayangan nya itu.


"Bagaimana kalau kak Arin tahu,"


Tio meremas rambutnya frustasi memikirkan sang kakak yang akan marah kepadanya.


Tring...


Tio mendengar suara ponsel nya berbunyi, dia mengurangi kecepatan mobil nya, Tio memilih menepikan mobilnya di tempat yang sepi. Tio takut pesan itu penting jadi dia memilih tidak mengabaikan pesan tadi.


Ternyata pesan itu dari Abraham sang kakak ipar.


Tio bernafas lega setelah membaca pesan tadi.


"Ternyata kak Abraham memikirkan semuanya, mungkin dia tak ingin kak Arin maupun bunda sedih. Aku bersyukur memilik kakak ipar seperti dia meskipun awal pertemuan mereka begitu penuh air mata dan rasa sakit namun semuanya itu jalan yang harus mereka lalui,"


"Ck benar kata orang jaman dulu, kalau harus sakit dulu baru senang kemudian," guman Tio menyeka sudut air matanya karena merasa senang mengingat Abraham begitu mencintai kakak perempuan nya itu.


Tio pun membalas pesan Abraham dengan singkat.


*****


Berbeda dengan Tio dan Abraham yang sedang kesal bercampur marah.


Di sini tepatnya di mana miranda dan papanya sedang tertunduk lemas di lantai menyesali semua kebodohan nya karena telah menyinggung orang yang tidak tepat.


"Hiks hiks hiks hiks hiks maafkan saya tuan Hendra, saya tidak tahu kalau anak kecil itu adalah anak nya tuan abraham," kata papa Miranda memohon ampunan.


"Ck itu bukan alasan kamu bisa menghina orang seenak kamu sendiri, ha ha ha ha ha ha... Sekarang kamu merasakan tajamnya mulut mu dan anak mu," kata Hendra menatap sinis keduanya, bisa-bisa nya mereka menghina anak kesayangan tuannya.


"Ampuni saya tuan, tolong jangan pecat saya," pinta papa Miranda memohon bersujud di kaki Hendra.


Namun sayangnya Hendra bukan pria yang berbaik hati, dia hanya satu mematuhi perintah tuannya saja.


"Seperti permintaan tuan Abraham tadi, kamu akan di pecat dari dari pekerjaan mu saat ini dan saya pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di manapun seperti kata tuan Abraham tadi. Mulai sekarang kamu bisa pulang dan berkemas karena kamu harus keluar dari rumah itu karena rumah itu adalah properti milik tuhan abraham, atau kami akan mendapat mau keluar dengan cara kami sendiri,'' kata Hendra dengan jelas mengusir mereka.


"Tuan tolong jangan usir kami," pinta pria tua itu.


"Ha ha ha ha ha ha ha, salah kan anak mu itu karena berani menghina putri kesayangannya tuan Abraham," kata Hendra.


"Kalian sebaiknya segera pergi dari tempat ini jangan sampai wajah kalian berdua terlihat oleh tuan abraham lagi,"


Setelah berbicara seperti itu kepada keduanya, Hendra memberi instruksi kepada beberapa bodyguard yang masih di sana untuk meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Hendra, kedua orang itu hanya bisa meratapi kesedihannya. Nasibnya yang bergelimang harta akan musnah dalam hitungan jam.


B E R S A M B U N G....