Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 154


"Bukan hal itu yang membuat ku marah," jawab Abraham memangku salah satu kakinya.


Tatapan matanya menatap lurus ke depan, Abraham menerawang jauh memory otaknya memutar kembali kejadian yang sudah membuat darahnya mendidih sampai sekarang.


"Terus kak Abraham tahu dari mana kalau Denis membuat ulah dengan ku?" Tanya Tio sedikit penasaran meskipun Tio sendiri sudah tahu jawabannya.


Abraham menoleh saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Tio. Abraham terkekeh kecil membuat bulu kuduk Tio berdiri.


Ya Tio berfikir kalau sang kakak ipar pasti dapat info dari Bodyguard bayangan yang di tempatkan Abraham untuk mengawasi seluruh anggota keluarga termasuk dirinya juga.


"Ck kamu pasti sudah tahu jawabannya jangan berlagak polos," kata Abraham dengan santainya.


"He he he he he he he," Tio tertawa canggung.


"Terus apa yang membuat kak Abraham begitu ingin menghancurkan perusahaan itu dalam waktu sekejap?" Tanya Tio dengan serius, entahlah Tio begitu penasaran saat melihat reaksi sang kakak ipar begitu tegas dengan tatapan mata begitu tajam tanpa ada bantahan sedikit pun.


"Dia telah berani...." Abraham menjeda ucapannya, dia mengatur nafasnya yang terasa sesak di penuhi amarah.


Tio pun masih terdiam, dia tak menyela ucapan dari Abraham. Tio menjadi pendengar yang baik karena dirinya begitu penasaran kejadian apa yang membuat sang kakak ipar murka.


"Bukan berani tetapi dia sudah lancang berfikir untuk mengusik apa yang menjadi milikku," grutu Abraham membayangkan kejadian tadi yang dia saksikan dari kejauhan.


'Apa yang di lakukan orang itu sebenarnya,' batin Tio masih di penuhi tanda tanya besar.


"Jangan berputar-putar kak, aku pusing," grutu Tio.


"Ck," Abraham berdecak kesal menatap adik iparnya.


"Pak tua bangkotan itu dengan berani memandang kakak mu dengan tatapan busuknya itu," Abraham meluapkan rasa emosi yang sedari tadi dia pendam.


Kreeerrkkk....


Tanpa sadar saat berbicara seperti itu, tangan Abraham meremas bolpoin yang tergeletak di atas meja itu sampai patah menjadi 2.


Awalnya Tio melotot mendengar cerita dari Abraham namun itu hanya sesaat setelah itu Tio bergidik ngeri buatnya karena menyaksikan nasib bolpoin yang hancur itu, meskipun dia sering melihat sang kakak ipar marah dan menghajar orang di depannya, namun Tio masih saja tak bisa mengurangi rasa terkejutnya.


'Dasar pak tua, bukannya semakin tua ingat umur, ehhh malah semakin jelalatan. Ck selamat menikmati kemarahan kakak ipar ku yang terkenal kejam tanpa ampun,' batin Tio tersenyum miring merutuki kebodohan yang di lakukan oleh Pak Rangga.


"Bagaimana kalau kita buat keluarganya malu terlebih dahulu," Tio tersenyum miring.


Abraham menoleh, dia ikut menyeringai mendengar ucapan dari Tio.


"Ha ha ha ha ha ha, itu ide yang bagus," Abraham tertawa senang.


"Aku ingin anak dan ayah itu hancur, aku sudah geram karena tingkah laku busuk dari mereka berdua yang banyak menelan korban," jelas Tio memegang kartu as yang siap dia lemparkan.


"Kamu atur saja semuanya, bila perlu kamu bisa minta bantuan Hendra dan Bimo juga," kata Abraham.


"Tidak perlu kak, aku sendiri bisa melakukan nya. Kak Abraham santai saja karena aku sudah memasang boom yang siap meledak kapan saja tinggal melempar api dan dooooorrrrr..... Semua rata tak tersisa," ucap Tio menyeringai lebar karena Tio sudah merencanakan semuanya sebelum Abraham meminta bantuan nya.


Yang di maksud Tio boom bukannya boom sungguhan, itu hanya perumpamaan.


"Pantas kamu begitu tenang ternyata kamu sudah mempunyai rencana yang matang," Abraham begitu puas mendengar ucapan dari Tio.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan semua yang kak Abraham ajarkan," jawab Tio dengan bangga.


"Kalau tidak ada yang di sampaikan lagi, aku pamit karena tangan ku sudah gatal ingin bermain-main dulu dengan mereka," kata Tio tersenyum misterius.


"Kalau mereka tidak ada yang buka mulut, kamu lempar saja mereka ke tempat Mo," kata Abraham.


Tio pun berdiri, dia segera berpamitan kepada Abraham karena dia harus mengurus semuanya secepatnya.


Abraham menatap punggung Tio yang sudah menjauh menuju pintu.


"Aku tak salah mengajarkan mu banyak hal, aku tak ingin orang menindas mu karena keluarga Prayudha tidak pernah tunduk kepada siapa pun," guman Abraham dengan suara pelan.


****


Di sinilah Tio saat ini, di markas besar.


Tio melangkah dengan santai tangannya membawa rantai yang cukup panjang. Di ikuti 5 orang kepercayaan nya di belakang.


Sreeegggggg triinggg.... ( Anggap saja suara rantai yang di seret oleh Tio)


Entahlah apa yang dilakukan Tio saat ini.


Tap tap tap tap tap.... Langkah nya begitu mantap namun siapapun yang melihatnya pasti ketakutan.


Ceklek.....


"Halo tuan Lee bagaimana tidur anda apakah nyenyak?" Tanya Tio menyeringai lebar menatap pria paru baya yang duduk di kursi kayu itu dengan kedua tangan terikat.


Pria itu melebarkan matanya melihat sosok pemuda yang terlihat biasa saja namun itu bagi orang awam yang belum mengenalnya.


"Lepaskan aku," teriak nya.


"Ha ha ha ha ha ha, apa kamu bilang? Lepaskan?" Tio mengelengkan kepalanya, namun nada bicaranya terlihat mengejek.


"Aku akan melepaskan mu asal kamu mau bicara jujur, siapa yang menyuruh mu untuk menipu membuat kerjasama palsu dengan perusahaan ku?" Tio mencengkeram tangan kanan tuan Lee dengan begitu kuat.


"Aaahhhh...." Tuan Lee mengeram kesakitan.


"Ti-dak ada yang menyuruh ku," teriak nya.


"Cih.... Kamu kira aku bodoh, bisa dengan mudah percaya kepada mu," Tio menatap pria tua itu dengan garang.


Pria tua itu bungkam seribu bahasa, entah apa yang akan terjadi dengan nya kalau sampai dia tak kunjung berbicara jujur.


"Blue, black cepat kalian lepaskan dia," kata Tio menyeringai dan melemparkan rantai yang sedari tadi dia pegang.


Tuan Lee tersenyum lebar mendengar ucapan dari Tio, tuan Lee berfikir Tio akan melepaskan nya dengan mudah.


"Terimakasih," kata tuan Lee berbinar mengucapkan kata itu dengan begitu senang.


Namun ekspresi dari 5 orang di belang nya itu mengelengkan kepalanya, melihat tuan Lee begitu percaya diri.


Black dan blue pun berjalan menghampiri tuan Lee, keduanya melepaskan tangan tuan Lee.


Tuan Lee menggosok pelan pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat ikatan tadi.


Tio menjentikkan jari nya tanda black dan blue harus melakukan tugasnya.


"Gre, Blo, Joe kalian bantu black dan blue," titah Tio membuat tuan Lee menyergit heran menatap ke arah Tio.


'Apa yang akan mereka lakukan, bukannya dia menyuruh mereka melepaskan ku,' batin tuan Lee begitu heran.


B E R S A M B U N G.....