
Arin pun melirik ke arah jam di pergelangan tangan nya, tiba-tiba dirinya teringat dengan baby Andra meskipun ada baby sister dan bunda namun Arin tak ingin meninggalkan baby Andra terlalu lama dia takut bunda kerepotan.
"Eh kakak pulang dulu ya, kasihan baby Andra kalau kelamaan di tinggal takutnya dia rewel," jelas Arin berdiri, dia pun menuju meja dan merapikan tempat makanan tadi.
"Aku ikut kak, kangen bunda," pinta Rio karena dia sudah lama tak bertemu dengan sang bunda sejak baby Andra lahir karena sang bunda menemani cucu-cucu nya.
"Kamu sih di suruh tinggal di mansion tidak mau, lagian kamu tidak kesepian apa di sana sendirian," kesal Arin karena sang adik begitu sulit di suruh tinggal bersama mereka.
"Nanti rumah bagaimana kak?" Jawab Rio.
"Benar tuh kata kak Arin, apa kamu tidak kasihan lihat bunda tiap hari harus menghubungi mu karena kangen," saut Tio.
Tio sering melihat sang bunda setiap pagi menghubungi Rio sekedar menanyakan kabar ataupun makan.
"Kamu tinggal bersama kita saja," kata Arin menatap Rio.
Rio pun menimbang semuanya, dia pun mengangguk karena dia tak ingin sang bunda khawatir terus kepada dirinya.
"Kamu pulang, terus bereskan semuanya. Rumah di sana nanti bisa kita sewakan saja setelah semua barang milik bunda dan kalian berdua di bereskan.
Sedangkan Amanda hanya diam memperhatikan interaksi semuanya. Dia pun memainkan ponsel nya sekedar membalas chat dari beberapa teman yang menanyakan keberadaan dirinya saat ini.
"Bimo kamu hubungin Doni suruh datang ke sini untuk menemani mereka," pinta Arin.
"Maaf sepertinya Doni tidak bisa karena dia sedang ijin beberapa hari, karena istrinya sedang sakit," jelas Bimo memberitahu alasan kalau Doni tidak akan bisa datang ke sini.
"Aduh bagaimana ini?" Arin binggung karena Tio tidak ada yang menjaga.
"Kak ijinkan saya yang akan menjaga Tio di sini," pinta Amanda karena melihat Arin kebingungan.
"Eiiittsss.... No no no. Aku tambah tidak tenang kalau kamu sendirian di sini," tolak Arin membuat Rio, Tio dan Amanda menatap ke arahnya.
Sedangkan Bimo masih setia di sana namun Bimo memilih duduk menunggu, Bimo tak ingin ikut perdebatan keluarga itu.
"Lha kenapa kak kalau Amanda di sini?" Tanya Tio heran.
"Iya kak, harusnya kita senang ada yang menunggu Tio di sini," Rio ikut setuju kalau Amanda berada di sini.
"Aku sih percaya dengan Amanda tetapi aku tak percaya dengan mu, nanti Amanda kamu peluk terus," sinis Arin menatap tajam sang adik yang cengengesan.
"He he he he he he, tahu saja kak. Padahal aku mau lanjutin pelukan tadi, enak..." Tio cengengesan melihat ke arah sang kakak.
Amanda mendelik ke arah Tio. Namun bukannya minta maaf tetapi Amanda justru dapat lirikan genit dari pria tampan itu.
'Kenapa Tio justru bicara seperti itu, buat aku malu saja,' guman Amanda di dalam hati, ingin rasanya Amanda menyembunyikan kan wajahnya agar mereka tak ada yang melihat wajah Amanda yang saat ini memerah karena menahan malu.
Rio geleng-geleng kepala melihat kembarannya yang ternyata berfikiran demikian.
"Bimo ..." Arin memanggil Bimo yang tengah asyik duduk di luar berbalas pesan dokter Esta.
Bimo yang mendengar itu pun memasukkan ponselnya dengan cepat, dia berdiri dan melangkahkan menuju ke arah Arin.
"Iya, ada apa nyonya memanggil saya?" Tanya Bimo dengan sopan.
"Tolong suruh beberapa orang, emm...mm... 2 atau 3 orang buat menjaga Tio di sini," perintah Arin.
Dengan cepat Bimo mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada salah satu anak buahnya. Meskipun tanpa di suruh Arin, Bimo tetap menempatkan anak buahnya di sekitar rumah sakit.
Tok tok tok tok tok tok....
Tak berselang lama, muncul 2 orang di depan pintu. Mereka sedari tadi di sekitar sini, setelah mendapat perintah dua orang itu langsung mengetuk pintu.
"Masuk," titah Bimo.
"Mereka sedari tadi berada di sini," jawab bimo singkat.
"Kakak pulang dulu," pamit Arin memeluk sang adik.
"Hati-hati kak, tolong jangan bilang bunda karena aku tak ingin melihat bunda sedih," lirih Tio.
"Iya tenang saja, cepat sembuh,"
Setelah itu Arin beralih kepada Amanda.
"Kakak pulang dulu, kalau nih anak nakal atau iseng cepat hubungi kak Arin. Ini kartu nama ku," kata Arin menatap Tio tajam tak lupa meninggalkan kartu nama untuk Amanda.
Kini giliran Rio pamit kepada Tio.
"Aku pulang ya, nanti malam aku ke sini lagi," Rio pun memeluk Tio.
"Iya jangan lupa istirahat, dari kemarin kamu pasti kurang tidur karena jagain aku di sini," kata Tio kepada Rio penuh perhatian, Tio tak ingin saudaranya itu ikutan sakit.
Setelah itu Rio melepaskan pelukannya, dia menatap Amanda dan melambaikan tangannya.
"Bay Amanda sayang," Rio tak lupa memberikan kiss jauh untuk Amanda.
Ha ha ha ha ha ha ha .... Tawa Rio seakan meledek.
Tio melotot melihatnya, melihat itu.... Rio pun berlari menuju pintu.
"Ayo pulang, jangan buat ulah lagi," Arin menjewer telinga Rio.
"Aduh kak lepaskan, malu nanti di turun ketampanan ku di depan dokter dan suster- suster cantik itu," Tio memelas, dia melihat beberapa suster yang cekikikan melihat dia di tarik Arin.
"Dasar kak Arin, suka banget jewer telinga," grutu Rio.
"Mana malu lagi di ketawain cewek-cewek itu," Tio terus saja menggerutu kesal.
"Iya kakak lepasin, tetapi diam," kesal Arin mendengar sang adik yang mengerut dari tadi.
Ketiganya pun meninggalkan rumah sakit, Bimo memerintahkan beberapa anak buahnya untuk memperketat pengawasan. Dia tak ingin kecolongan lagi.
Sedangkan di ruangan Tio.
"Eh kalian tunggu di luar saja, kalau ada apa-apa aku panggil kalian," Tio menyuruh 2 orang yang duduk di sofa itu untuk menunggu di luar karena dia tahu pasti Amanda merasa tak nyaman.
Keduanya mengangguk dan meninggalkan ruangan. Memilih duduk di depan ruangan saja.
"Kenapa mereka di suruh keluar?" Tanya Amanda penasaran.
"Aku tahu kamu pasti tak nyaman karena ada orang yang kamu tak kenal," jawab Tio.
"Oh ya siapin aku apel dong," pinta Tio dengan manja.
"Iya," jawab Amanda tersipu.
Dengan telaten Amanda mengupas buah manis itu dan membaginya kecil-kecil di taruh di piring.
"Suapin," Rajuk Tio membuat Amanda menghela nafas panjang, dia baru tahu sifat Tio yang manja.
"Dasar manja," cibir Amanda yang baru tahu Tio yang di kenal dingin bisa berkata itu.
"Kan cuma sama kamu," jawab Tio menaik turunkan alisnya.
B E R S A M B U N G.....