
Pagi ini Tio uring-uringan karena Rio saudaranya itu tak bisa menemaninya joging pagi, terpaksa dia sendirian.
"Ck kemana tuh anak? Pagi-pagi sudah rapi," guman Tio melihat saudaranya itu menaiki motornya malahan Rio sudah rapi, Rio pun meninggalkan Tio yang masih dilanda penasaran.
"Pasti ketemu pacarnya,"
Tiba-tiba wajah Amanda terlintas di pikiran nya. Tio berfikir kalau Rio sudah berpacaran dengan Amanda karena selama ini Rio tak pernah bilang siapa pacarnya.
"Dasar cewek labil," entahlah Tio merasa kesal karena kemarin dia melihat keduanya bersama di rumah sakit.
*****
Sesuai dengan kesepakatan Rio kemarin, kini dia sudah berada di rumah Amanda. Ya pukul 7 pagi Rio sudah duduk manis di sana di temani teh dan kue bolu.
"Ayo cepat kamu ganti baju," pinta Rio menatap Amanda yang masih santai memakan bolu kesukaan nya.
"Lho kita mau ke mana?" Tanya Amanda yang tak tahu rencana apa yang sedang Rio rencanakan.
"Ck dasar pelupa," Rio berdecak kesal.
"Hei kamu mau ngajak aku kemana? Tanya Amanda untuk kedua kalinya karena begitu penasaran dengan pikiran cowok tampan di depannya itu.
Sesekali gadis cantik itu membenarkan letak kaca matanya itu.
"Ayo buruan biar kita tidak kejebak macet dan nanti siang rencana kita bisa berjalan dengan lancar," jawab Rio tersenyum misterius.
Sedangkan Amanda mengerutkan keningnya, dia masih tak paham rencana Rio, karena dia hanya bilang akan membuat Tio mengejar Amanda dengan berpura-pura menjadi pacar Rio.
"Iya-iya bawel," setelah itu Amanda melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
"Silahkan di makan nak Rio," kata mami Amanda.
"Kapan nih nak Rio melamar Renata," goda mami Amanda.
"Doakan saja secepatnya Tante tetapi nunggu saya lulus, he he he he he," jawab Rio cengengesan.
"Iya Tante doakan karena Tante juga ingin melihat Renata ponakan Tante itu bahagia," jawab mami Amanda dengan bahagia.
Sedangkan di dalam kamar...
Amanda bergegas menuju kamar mandi, dia tak ingin berlama-lama karena merasa tak enak dengan sahabatnya itu.
Selesai mandi, Amanda memoles bedak tipis di wajahnya. Amanda tidak suka menggunakan make-up, bukan tak suka namun dia tak pernah percaya diri memakai make-up seperti kebanyakan wanita yang pantas menghias wajahnya. Sering kali Amanda merasa iri melihat teman-teman nya begitu cantik, hal itu membuat Amanda juga minder berdekatan dengan mereka.
Karena itu Amanda sering menghabiskan waktu di perpustakaan, sehingga dia sering bertemu dengan Rio dan mereka bisa bersahabat sampai sekarang. Rio tak pernah sekalipun menghina Amanda karena penampilan nya sering di bilang cupu, hanya karena memakai kacamata dan rambut panjang nya sering dia kuncir dua atau ekor kuda.
Amanda tampil dengan kaos berwarna putih di balut dengan kardigan berwarna hitam dengan bawahan rok panjang, Amanda tidak suka berpenampilan wah meskipun dia dari keluarga berkecukupan, dia lebih suka memakai pakaian sederhana. Amanda pun mengambil tas tak lupa buku nya karena setelah itu dia ada kelas pagi. Dengan senyum mengembang Amanda pun menghampiri Rio yang sedari tadi menunggu dia di teras depan.
"Ayo," ajak Amanda.
"Mi... Amanda berangkat dulu ya," Amanda pun mencium tangan sang mami sebelum dia berangkat.
"Tante saya pamit dulu," Rio pun ikut mencium tangan orang tua Amanda.
Di halaman depan...
"Ha apa aku harus ikut motor mu?" tanya Amanda yang binggung karena dia menggunakan rok panjang dan tak mungkin dia di bonceng Rio dengan motor sportnya.
"Iya supaya rencana kita berhasil, mana ada orang pdkt naik motor sendiri-sendiri," jawab Rio memutar bola matanya kesal.
"Terus aku bagaimana?" Tanya Amanda binggung.
"Cepat ganti celana saja, ribet banget sih,"
Amanda pun berbalik, dia berlari masuk ke dalam rumah.
"Lho sayang kenapa balik lagi?" Tanya mami heran karena sang anak berlari menuju kamarnya.
"Ganti baju mi," jawab Amanda cepat sambil berlari.
Amanda pun berfikir untuk berganti celana jeans saja. Amanda membuka lemari bajunya, dia mengambil paper bag yang tersimpan rapih di sudut lemari.
"Apa aku pakai ini saja," gumamnya.
Di dalam paper bag itu ada baju atasan dan celana jeans yang di berikan sang kakak sebagai kado ulang tahun, namun karena Amanda yang tak terlalu suka jadilah paper bag itu masih tersimpan rapih di sana.
Amanda terpaksa memakainya karena dia tak memiliki celana secara Amanda lebih suka memakai rok, Amanda berganti baju nya tadi dengan pilihan kakaknya. Amanda tersenyum akhirnya kado dari sang kakak bisa bermanfaat hari ini karena Amanda tak punya pilihan lain.
Amanda kembali bercermin, sudut bibirnya terangkat.
"Nah gitu dong sayang di pakai, biar kado dari kakak mu itu tak jadi pajangan saja di lemari," kata mami saat melihat anaknya turun.
"Anak mami cantik banget," pujian maminya itu mampu membuat Amanda tersipu malu.
Amanda bergegas menemui Rio lagi.
"Ayo," ajak Amanda kepada Rio.
"Bagus juga kamu pakai baju itu terlihat lebih bergaya, tidak seperti biasanya," sindir Rio.
"Ck kamu mau ngeledek aku.... Ayo berangkat," ajak Amanda karena dia malas mendengar ocehan tidak penting dari sahabat nya itu.
"Nih..." Rio menyerahkan helm kepada Amanda.
Mereka berdua pun berangkat.
****
25 menit kemudian...
Rio berhenti di depan sebuah salon.
"Hei ngapain kita ke sini?" Tanya Amanda binggung.
"Ganti kulit," sungut Rio kesal.
"Ha..." Amanda kaget mendengar jawaban Rio.
"Sudah tahu pakai tanya? Kita ke sini buat rubah penampilan mu supaya terlihat menarik di depan kembaran ku," kata Rio menjelaskan.
Amanda pun mengangguk mengerti.
Setelah memarkirkan motornya, keduanya pun masuk. Rio ingin mengubah tampilan Amanda.
1 jam kemudian....
Amanda keluar dengan tampilan berbeda, rambut panjang nya terurai namun berganti warna yang lebih fresh tak lupa ujung rambutnya di bentuk bergelombang.
"Ayo cepat naik karena waktu kita mepet," Rio menarik Amanda naik ke motor.
"Percuma dandan sama rubah penampilan nanti juga jelek kena debu motor dan rambutku pasti kusut kena angin" cebik Amanda.
"Eh benar juga, ya sudah kamu naik taksi saja atau ku suruh temanku bawa mobil ku ke sini," kata Rio meminta pendapat.
"Eh jangan, aku naik taksi online saja. Setelah itu kita ke mana?" Tanya Amanda memastikan.
"Kita ke sini," tunjuk Rio kepada selembar kertas yang berisi alamat rumah sakit.
Amanda maupun Rio pun meluncur ke alamat itu namun dengan kendaraan berbeda.
Rio pun menemui dokter mata kenalannya, dia ingin meminta dokter untuk mengecek kondisi mata Amanda karena Rio ingin membuang jauh-jauh kacamata bulat Amanda, semua pun berjalan lancar seperti rencana Rio.
Rio terpanah saat kaca mata itu tak lagi menghiasi wajah cantik Amanda.
"Hei bagaimana bagus tidak?" tanya Amanda mengerutkan keningnya kala Rio justru terdiam.
'Nih anak cantik juga, pasti Tio nanti klepek-klepek,' batin Rio semakin bersemangat mempersatukan mereka.
"C-cantik," jawab Rio masih mengagumi kecantikan sahabatnya itu.
Amanda di buat tersipu malu.
'Andai pujian itu keluar dari mulut Tio pasti akan sangat membahagiakan,' batin Amanda penuh harap.
Karena jarak kampus cukup dekat sebuah ide muncul di benak Rio.
"Ayo kita mulai akting kita, nanti kalau kita sudah masuk kampus nanti peluk aku mesra biar heboh semuanya. Biar rencana kita berhasil," kata Tio.
"Oh ya bagaimana dengan Renata?" tanya Amanda yang lupa memberitahu sepupunya itu.
"Aman.... Dia sudah tahu dan ngedukung kita, malahan dia yang semangat ngasih ide," jawab Rio mengacungkan jempol nya tanda beres.
"Cepat naik,"
Setelah itu keduanya berboncengan menuju kampus.
B E R S A M B U N G...
Tunggu reaksi Tio...