Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 37


Deg deg deg deg deg deg....


'Kenapa dia sudah ada di sini, ku kira dia berangkat kerja,' batin Arin.


Dengan segala keberanian, Arin memandang wajah tampan itu.


"Halo kucing manis, apa kamu tak merindukanku?" Tanya Abraham dengan senyum menggoda.


"Siapa juga yang rindu dengan kamu, jadi orang ke GR'an banget sih," ketus Arin.


"Kamu mau apa ke mari?" tanya Arin dengan cepat. Tersirat sedikit rasa takut di wajahnya.


"Apakah kamu senang berada di istana ku ini sayang?" Tanya Abraham.


Abraham tak menjawab pertanyaan Arin, justru dia bertanya balik kepada Arin membuat Arin sedikit kesal.


"Aku hanya ingin memberitahu sesuatu kepadamu...." Kata Abraham dengan santai mendekati Arin.


Abraham dapat mencium wangi tubuh Arin, tiba-tiba rencana yang dia sudah susun dengan rapi untuk menaklukkan Arin berubah, Abraham begitu senang melihat wanita di depannya itu ketakutan. Wajahnya justru terlihat mengemaskan di mata Abraham.


"A-apa yang akan kamu lakukan," kata Arin ketakutan saat jarak di antara mereka begitu dekat. Abraham tak menghiraukan ucapan Arin, dia mengikis jarak di antara mereka.


"Dengar baik-baik sayangku," bisik Abraham di telinga Arin membuat Arin merinding seketika, hembusan nafasnya membuat tubuh Arin menegang seketika.


Abraham semakin tersenyum licik.


"Besok kita akan menikah, jadi patuh lah kepadaku, kalau tidak aku akan.... Menghukum mu dengan hukuman yang membuatmu berteriak sampai pagi," bisik Abraham menyeringai, dia begitu menikmati wajah tegang wanita di depannya.


Abraham mendekatkan wajahnya ke leher Arin, sedangkan Arin terdiam kaku di tempatnya. Leher jenjang itu begitu menggoda apalagi wangi tubuh Arin begitu memikat Abraham. Abraham menjilat leher itu secara sensual hingga membuat Arin melotot tak percaya. Kecupan yang begitu manis itupun meninggalkan bekas berwarna kemerahan di leher Arin. Melihat itu Abraham tersenyum puas.


Tubuh Arin semakin menegang, jantungnya berdegup kencang. Dia tak bergerak karena kaget atas perlakuan Abraham.


"*****....." Abraham mengerang kesal melihat sesuatu yang terbangun karena ulah iseng nya, dia berniat hanya menggoda Arin tetapi dia sendiri yang terjebak dalam permainannya.


Abraham pun berbalik dengan cepat menuju kamarnya. Berjalan cepat meninggalkan kamar itu tanpa menoleh ke pada Arin.


Brukkkkk... Pintu tertutup.


Arin merosot ke lantai, tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga.


Dia benar-benar kaget yang sudah terjadi kepadanya.


Seketika pikiran Arin sadar, kata-kata Abraham terngiang di telinganya.


"Apa dia bilang tadi, menikah dengannya. Ha kapan dia melamar ku atau membicarakan tentang pernikahan dengan ku dan tiba-tiba sekarang dia bilang kalau besok kita menikah. Dasar g*la seenaknya saja dia berbicara seperti itu," sewot Arin.


Tok tok tok tok tok tok....


"Nyonya ini saya, tolong buka pintunya," pinta pelayan.


Arin pun berdiri, dia merapikan tampilannya di depan cermin.


Ceklek.....


"Ada apa?" Tanya Arin mencoba tersenyum ramah.


"Tuan menyuruh Nyonya untuk turun dan makan di meja makan," kata pelayan tadi.


"Sampaikan sama tuan kamu kalau aku tidak lapar," jawab Arin yang masih terlihat kesal karena kelakuan Abraham.


"Tuan ingin nyonya segera turun. Katanya tuan ada kejutan untuk nyonya," kata pelayan itu setelah itu berlalu pergi meninggalkan kamar Arin.


"Hmm.... Kejutan apa?" Gan Arin berfikir.


"Ah ya sudahlah, aku turun dulu lihat apa yang akan dia berik untuk ku," guman Arin.


Dia pun melangkah menuju keluar kamar tak lupa menutup pintu. Dengan langkah pelan Arin berjalan menuruni tangga, meskipun sedikit malas tetapi Arin penasaran dengan kejutan yang akan dia dapatkan.


Arin berjalan pelan menuju ruang makan, sayup-sayup terdengar suara yang begitu familiar, suara yang dia rindukan selama berada di sini.


"Apa aku tidak salah dengar, suara itu.... Suara Aurel, Abrian dan Tio. Apakah aku sedang berhalusinasi atau telingaku salah mendengar. Mana mungkin mereka berada di sini," lirih Arin dengan suara pelan.


Tap tap tap tap tap... Arin mempercepat langkah kaki nya menuju meja makan.


Deg deg deg deg deg....


Arin pun terdiam terpaku, rasa haru menyeruak di dalam hatinya. Seakan dia tak percaya apa yang dia lihat saat ini, berkali-kali Arin mengucek matanya.


Senyumnya di bibir Arin mengembang sempurna melihat yang ada di depannya.


Arin berlari kecil menuju ke arah mereka.


Abraham tersenyum memandang ke arah wanita yang berhasil mencuri hatinya.


"Mama......" Teriak 2 bocah kecil itu, mereka berlari menuju ke arah sang mama karena rasa kangen yang membuncah.


Arin berjongkok merentangkan kedua tangannya untuk memeluk dia hatinya.


"Hiks hiks hiks hiks hiks mama, Aurel kangen..." Gadis kecil itu menangis dalam pelukan Arin.


Abraham melihat itu pun sedikit merasa bersalah karena menculik Arin, secara tak sengaja menjatuhkan Arin dan sikembar meskipun hanya sehari.


"Brian kangen Mama, kenapa mama tidak ajak kita menginap di rumah Papa," tanya Abrian memandang ke arah sang mama.


"Mama sedang menyiapkan kamar kalian, supaya kalian betah tinggal di rumah Papa," Abraham menyela, memberikan jawaban untuk jagoan kecil nya.


"Benar itu ma?" Tanya ke dua bocah itu berbinar menanti jawaban dari sang bunda.


Arin memandang ke arah Abraham, Abraham pun mengangguk memberi kode Arin untuk mengiyakan ucapannya.


"Iya sayang," jawab Arin. Arin pun memeluk kedua lagi karena rasa kangen yang membuncah.


Sedangkan Tio masih menatap ke tiganya dengan senyum mengembang. Tio beralih melihat ke arah Abraham. Jujur Tio masih tak percaya semua yang di katakan Abraham saat dia menjemput si kembar di sekolah.


Para pelayan yang menyaksikan semuanya dari kejauhan pun ikut berbahagia.


"Semoga tuan Abraham bisa tersenyum seperti dulu," lirih kepala pelayan.


"Iya pak, semoga setelah ini mansion terasa lebih hangat di penuhi canda tawa dan kebahagiaan," kata pelayan yang duduk di sampingnya.


"Ayo Mama duduk di dekat Papa," ajak Aurel menarik tangan Arin.


Arin melotot tak percaya sejak kapan kedua anaknya akrab dengan Abraham dan sampai memanggil dia dengan sebutan papa.


Arin memandang ke arah Tio seolah meminta penjelasan. Tio pun menjawab dengan mendelikkan bahunya karena dia juga tak mengerti.


Arin pun duduk tetapi bukan dekat dengan Abraham melainkan Arin memilih duduk di samping Tio.


Abraham melotot, harusnya dia duduk di samping Arin. Arin tersenyum mengejek Abraham sedangkan mood Abraham langsung hilang. Wajah Abraham yang tadi tersenyum langsung hilang berganti dengan wajah dingin dengan sorot mata tajam.


Tio pun menyadari semua ini.


'Sepertinya benar laki-laki di depan ku ini suka dengan kak Arin,' batin Tio.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.....


Pagi semua....


Biasakan setelah membaca like ya.


Seperti biasa ya saya, jangan lupa.


~Like


~Komen


~Rate


~Vote


TERIMAKASIH SEMUA ATAS DUKUNGAN KALIAN SEMUA.