
Arin pun di bawa oleh anak buah William.
Sedangkan Abraham di kantor gelisah, karena Arin tak kunjung datang.
"Kemana Bimo, kenapa belum sampai," guman Abraham.
Tut.. Tut.. Tut... Tut..
Berkali-kali Abraham menghubungi ponsel milik Doni maupun Bimo tetapi nihil, ponsel keduanya tidak aktif.
"Cepat kalian cari keberadaan Bimo, kenapa istri saya belum sampai," perintah Abraham kepada seseorang.
Tak berselang lama, Abraham mendapatkan notif yang memberitahukan kalau Arin sedang di culik dan kedua bodyguard teman mereka di temukan pingsan di jalan.
Lima detik kemudian, pesan mengatakan kalau Tomi ternyata mata-mata dari William.
Abraham mengepalkan tangannya saat mengetahui ternyata dirinya tengah memelihara musuh di rumahnya selama ini.
"Sial...."
"Aaaaaa...." Abraham mengeram kesal.
Dengan cepat dia berjalan menuju ruangan Hendra.
Brak... Abraham menendang pintu masuk membuat Hendra melonjak kaget.
"Ayo kita ke markas," ajak Abraham.
Hendra pun sigap mengikuti Abraham, karena baginya Hendra, tuan nya itu tidak akan ke markas besar kalau tidak ada sesuatu yang penting.
"Tenang sayang tunggu aku, kamu jangan takut sebentar lagi aku akan menjemputmu pulang. Tak kan ku biarkan dia menyentuh mu seujung kuku," guman Abraham.
Hendra yang mendengar itu seketika mencari informasi dari anak buahnya.
Dengan cepat Hendra mengemudikan mobil itu dengan cepat menuju markas besar.
Sesampainya di sana, Abraham di sambut hangat oleh seseorang.
"Tuan...." Sapa Bisma dengan ramah.
Hanya segelintir orang yang mengetahui markas ini, Doni, Bimo Hendra dan Bisma saja.
"Bisma, kumpulan semua anak buah kita di aula," titah Abraham.
Bisma dengan cepat mengintruksikan semua anak buahnya berkumpul, Bisma yakin kalau ada hal yang penting membuat tuan nya itu mengunjunginya ke sini.
Semua pun berkumpul di aula.
Abraham menatap semuanya dengan sorot mata tajam.
"Bubar," setelah itu Bisma menuju ruangan ITE meretas semua cctv yang ada di jalan.
Sedangkan Abraham menyandarkan kepalanya di sofa, dia tak rela kalau terjadi apa-apa dengan istrinya.
Benar saja belum ada 2 jam ada anak buah yang melaporkan, kalau istri tuan mereka sedang di culik di gudang tua jauh dari pemukiman warga dan dekat dengan hutan.
Abraham pun memerintahkan seluruh anak buah nya untuk mengepung lokasi tersebut.
"Tunggu pembalasanku William, jangan harap aku berbaik hati kali ini," guman Abraham menyeringai.
****
Di gudang tua itu, Arin di ikat di kursi kayu.
"Sayang bangunlah lihatlah kekasih mu sudah datang," kata William kepada Arin.
William membelai wajah cantik itu dengan lembut.
Arin menerjabkan matanya kala merasakan sentuhan di wajahnya.
Deg....
Arin begitu kaget saat terbangun, di depan nya tengah berdiri William dan tersenyum manis.
"William," satu kata yang hanya Arin bisa katakan.
"Ha ha ha ha akhirnya kamu bangun sayang," lirih William memandang Arin sendu.
Arin melihat tubuhnya terikat di kursi, dia mencoba meronta melepaskan ikatannya.
"Ha ha ha ha ha duduk manis saja sayangku," kata Wiliam membuat Arin menatap William dengan penuh tanya.
"Kamu sekarang ada di istana ku," kata William membuat Arin tersenyum kecut.
Arin baru sadar ternyata William telah menculiknya dan membawanya entah kemana.
"Lepaskan aku Will," pinta Arin memelas.
"Oh sayang ku jangan sedih, sebentar lagi kita akan pergi ke luar negeri. Di sana hanya ada kita berdua, nanti kita akan menikah di sana," kata William membayangkan dia dan Arin hidup bahagia.
Arin melotot tak percaya William yang dia kenal dulu sekarang berbeda.
B E R S A M B U N G....
Bonus malam jangan lupa like, komen maupun vote, video ๐