
Kring kring kring...
Bunyi ponsel Tio berkali-kali berdering namun Bimo maupun Doni tak menghiraukan, keduanya fokus ke Tio karena mereka berdua begitu panik melihat kondisi Tio yang sudah tak sadarkan diri.
"Tio buka mata mu," teriak Bimo menggoyangkan tubuh Tio.
Melihat tak ada reaksi dari Tio membuat Doni semakin kalut.
"Tio bangun, hei cepat bangun sialan.... Jangan buat kita takut, cepaaat buka mata mu," Doni berteriak matanya memerah menahan tangis, Doni menepuk pipi Tio berkali-kali namun nihil pemuda itu seakan tak mendengar perkataan dari Doni.
"Aaahh siaaaal..... Bagaimana ini, kalau sampai tuan Abraham tahu bisa habis kita," kata Bimo begitu frustasi.
"Aaahhh aku gagal melindungi dia, hiks hiks hiks hiks hiks..." Bimo benar-benar tak tahu harus bagaimana, dia terisak melihat Tio yang tak sadarkan diri karena melindunginya.
Andai waktu bisa di ulang, Bimo ingin dirinya saja yang mengalaminya setidaknya dia tak merasa bersalah seperti ini. Bagaimana nanti dia akan menyampaikan nya kepada tuan nya.
"Kenapa kamu begitu bodoh, harusnya biarkan saja aku yang terluka," Bimo semakin frustasi melihat kondisi Tio, dia membentak Tio karena kesal, Bimo menyalahkan dirinya sendiri karena semua itu terjadi seolah-olah kesalahan dirinya.
Kedua orang itu begitu sedih bercampur binggung, apalagi melihat darah mengalir di tubuh Tio belum berhenti.
"Diam, jangan memperkeruh suasana. Kita harus berfikir tenang," kata Doni mengingatkan.
"Kalian cepat ambil mobil cepat," perintah Bimo berteriak menyuruh anak buahnya menyiapkan mobil untuk membawa Tio ke rumah sakit.
Mobil sampai di rumah sakit terdekat, Doni berlari menuju ke dalam rumah sakit sambil menggendong Tio.
Doni sudah menghubungi dokter Rian, awalnya dokter Rian begitu kaget dengan semua ini namun dengan cepat dia mengintruksikan beberapa dokter terbaik untuk menangani Tio.
Tio sudah berada di ranjang pasien, dia di dorong menuju ke dalam ruang operasi.
"Silahkan tunggu di luar saja pak," suster melarang Doni maupun Bimo masuk.
"Akkkk..." Bimo meraup wajahnya kasar, dia dilanda kebimbangan.
"Bagaimana ini, apa kita harus menghubungi tuan Abraham atau Rio saja?" Tanya Bimo.
"Entahlah aku juga binggung," jawab Doni.
Tubuh Doni merosot ke lantai, baru kali ini terjadi hal seperti ini.
"Cepat kamu suruh Beni untuk mencari siapa yang sudah menjadi penyusup di markas, pasti ada salah satu penghianat karena markas itu tidak banyak orang yang mengetahuinya. Markas itu kita khususkan untuk memberi pelajaran kepada para penghianat saja," jelas Doni panjang lebar memerintahkan Bimo untuk mengusut semuanya hari ini juga.
Tap tap tap tap tap....
Dokter Rian tergopoh-gopoh berlari ke arah mereka berdua, setelah dirinya selesai mengurus administrasi dan lainnya sehingga Tio dengan cepat bisa langsung di operasi.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Tanya dokter Rian penasaran.
"Ini semua salahku," jawab Bimo terpukul.
"Maksud nya?" Dokter Rian masih binggung mendengar jawaban dari mulut Bimo.
"Harusnya aku yang terkena peluruh itu tetapi Tio menghalangi nya dengan tubuhnya," kata Bimo menjelaskan kejadian semua nya.
Kring kring kring kring...
Ponsel Doni berbunyi membuat Doni menjadi pucat pasi.
Bimo maupun dokter Rian menoleh melihat Doni yang tak kunjung menerima panggilan dari ponselnya.
"Cepat angkat, berisik," perintah dokter Rian membuat Doni melotot menatap keduanya dengan memelas.
"Hei kenapa wajah mu begitu seperti melihat hantu," tanya Bimo melihat wajah temannya itu seakan meminta tolong.
"Tu-tu-an Abraham," jawab Doni terbata.
"Ha apa...." Keduanya berteriak kaget mendengar nama itu.
"Kamu saja yang angkat,"
Doni menyodorkan ponselnya ke arah Bimo, namun karena takut Bimo pun mengoper ponselnya ke dokter Rian.
"Kamu saja yang angkat, aku saja tak tahu kejadian sebenarnya takutnya aku salah berbicara nanti aku yang kena," tolak dokter Rian mengembalikan ponsel milik Doni.
"Nih..."
Doni menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum dia menjawab panggilan itu.
"Ha-lo tuan?" Doni begitu gugup.
"Hei kenapa suaramu tergagap begitu, apa ada masalah?" Tanya Abraham menyergit heran karena tak biasanya suara Doni terdengar seperti menyembuhkan sesuatu.
"Emmm...." Doni binggung harus memulainya dari mana.
"Sudahlah kamu jangan banyak bicara, dimana kamu?" Tanya Abraham karena sedari tadi mencari keduanya namun tak menemukan keberadaan mereka berdua di mansion.
"A-aku..." Doni
"Ah kamu mau bicara apa sih dari tadi aaku aku terus," grutu Abraham kesal.
"Aku menghubungi mu untuk menayangkan keberadaan Tio bukan mendengarkan ucapan mu yang aneh itu," kata Abraham menjelaskan karena sedari tadi berbicara yang tak jelas.
Glek...
'Sebaiknya aku jujur saja,' batin Doni.
"Tuan ampuni aku karena telah lalai menjaga Tio," akhirnya Doni pun berkata sebenarnya.
'Apa yang terjadi dengan Tio,' batin Abraham di landa kecemasan mendengar nama adik iparnya itu di sebut.
"Ha apa maksud mu?" Bentak Abraham.
"Sebenarnya tadi markas B tiba-tiba di serang tuan, sebenarnya kamu tadi ingin memberitahu tuan namun Tio melarang kami karena tuan dalam kondisi yang kurang baik. Jadi kita bertiga datang ke sana dan meminta bantuan markas utama. Sesampainya di sana sudah terjadi adegan tembakan, tadi Tio menghalau peluru yang mengarah ke Bimo dengan tubuhnya," jelas Doni panjang lebar.
Sedangkan Abraham di sana syok mendengar berita itu.
"Terus bagaimana kondisi nya sekarang?" bentak Abraham.
"Emmm..... Tio masih di tangani dokter di ruang operasi," jawab Doni dengan suara kecil.
"Kalian tunggu di sana, pastikan keadaan tio di sana. Kasih tahu alamat rumah sakitnya. Lima belas menit aku akan tiba di sana," kata Abraham tegas.
"Kita membawa nya ke rumah sakit milik tuan," jelas Abraham.
Di sebrang sana Abraham lega karena pasti Tio di tangani dengan baik.
"Kalian di sana tunggu aku dan jangan sampai kalian beranjak dari sana," titah Abraham.
"Iya tuan.."
Klik panggilan telepon itu terputus.
Sedangkan di mansion milik Abraham.
"Sayang apa kamu sudah tahu di mana Tio?"
Arin yang sedari tadi menunggu jawaban dari Abraham dengan tak sabar. Sedari tadi dia sudah menghubungi teman-teman Tio namun tak ada yang mengetahui keberadaan sang adik.
Arin begitu cemas, mobil dan motor Tio masih terparkir cantik di garasi, tetapi pemilik kendaraan itu hilang tak di jumpai di area mansion.
"Tio sedang bersama Doni dan Bimo," jawab Abraham.
'Maafkan sayang aku harus berbohong karena aku tak mungkin berbicara terus terang,' batin Abraham sedih.
Arin bernafas lega mendengar ucapan dari Abraham, entahlah sedari tadi pikirannya tidak karuan dan pikirannya tertuju kepada sang adik.
"Ah aku bernafas lega karena sedari tadi hati ku tak tenang memikirkan Tio, biasanya tuh anak sudah berisik di dalam kamar si kembar," kata Arin.
B E R S A M B U N G....