
Di dalam mobil Abraham....
"Tuan sepertinya, tuan William akan menghalangi anda menikah dengan nona Arin," kata Hendra yang duduk di samping supir.
"Kita lihat dan tunggu.... Apa yang akan dia lakukan, kamu harus pantau dia terus jangan pernah lengah sekalipun," jawab Abraham.
"William mungkin tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Arin, kamu siapkan semua anak buah kita jangan lupa untuk menjaga Arin, entahlah aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi....." Jelas Abraham, Hendra pun mengangguk terdiam.
Kedua orang itu pun terdiam dalam pikiran nya masing-masing.
Setelah itu keheningan melanda di dalam mobil.
Abraham merebahkan kepalanya, pikirannya jauh menerawang. Bagaimana dulu dia dan William adalah teman satu kampus sampai akhirnya keduanya jatuh cinta dengan wanita yang sama. William memilih mengalah karena wanita itu tak mencintainya dan hanya menganggap dirinya hanya sebagai sahabat. Akankah tuh kali ini akan sama atau berbeda.
Abraham berfikir dia harus meluluhkan hati Arin, tetapi dengan cara apa itulah yang Abraham pikirkan karena dia bukanlah tipe pria yang romantis.
Abraham berkali-kali menghela nafas panjang, dulu Laura lah yang mencintainya dan mengejarnya, meskipun belum mencintainya Abraham dan Laura pun akhirnya menikah. Meskipun pernikahan itu tak bertahan lama karena Laura meninggalkannya saat melahirkan sedangkan calon anak mereka harus tiada. Berbeda dengan Arin meskipun dia sudah mempunyai anak akibat kesalahan satu malam itu, dia justru menghindari Abraham sampai melarikan diri dari nya.
'Apa yang harus aku lakukan untuk meluluhkan hati wanita itu, aku tak rela melihat anak-anak memanggil pria lain sebagai Papa suatu saat nanti, setelah nanti dia menikah dengan ku. Apakah dia akan semakin membenciku dan mencoba kabur seperti dulu-dulu,"batin Abraham.
"Hendra bagaimana cara menaklukkan hati wanita?" Tanya Abraham, entahlah tiba-tiba kata itu terlintas di pikirannya.
Hendra melotot kaget tak percaya ucapan Tuan nya itu , bagaimana kata-kata itu muncul dari mulut tuannya yang begitu dingin tak pernah mengenal kata cinta.
'Apakah tuan Abraham jatuh cinta,' batin Hendra.
'Aduh bagaimana aku harus menjawabnya sedangkan aku saja belum pernah pacaran maupun dekat dengan wanita karena setiap hari harus mengurus masalah kantor dan mengurus kehidupan Tuan,' batin Hendra dengan wajah lesu.
Melihat Hendra yang hanya diam saja membuat Abraham kesal.
"Coba kamu kasih solusi bukan hanya diam saja," sinis Abraham menatap asisten nya itu dengan wajah datarnya.
"Bagaimana saya bisa kasih solusi sedangkan saya saja tak punya waktu untuk punya kekasih, dekat wanita saja tidak pernah karena kesibukan saya, yang setiap hari menatap layar laptop memantau semua pekerjaan," ceplos Hendra.
Abraham melotot mendengar jawaban dari sang asisten.
"He he he he he he he he.... Aduh maaf Tuan, saya keceplosan," ralat Hendra menampakkan wajah memelas.
"Besok kamu harus punya kekasih, biar setiap ku tanya tentang pacar kamu bisa menjawabnya," perintah Abraham.
Sedangkan sang supir yang menyimak obrolan keduanya, memilih diam. Hati nya tertawa menertawakan nasib Hendra yang di suruh mencari kekasih.
Glek glek glek glek glek....
Hendra benar-benar ketakutan.
'Bagaimana ini, aku harus cari pacar di mana? Enteng banget Tuan bicara, aku ini milih kekasih bukan seperti milih jajan tinggal asal comot saja,' grutu Hendra di dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam saja, cepat katakan?" Bentak Abraham kesal.
"Tuan... Memilih kekasih bukan langsung asal ambil saja, baju saja kalau kita beli harus kita pilih dulu, dari warna dan ukuran," grutu Abraham.
"Cih....." sinis Abraham.
"Terserah kamu, itu urusan kamu. Kamu mau coba kekasihmu itu tak masalah buatku. Yang penting kamu harus punya kekasih besok, titik....." lanjut Abraham dengan entengnya.
Hendra menjambak rambut nya frustasi, tak mungkin dia akan mencoba mencicipi wanita, bisa di usir dari KK oleh emaknya yang ada di kampung.
"Ingat kata ku, besok kamu harus punya kekasih," kata Abraham penuh penekanan.
Hendra memilih dia tak menanggapi ucapan dari tuan nya itu.
"Sabar mas," bisik sang supir yang berada di dekat Hendra.
"Perhatikan jalan, jangan bergosip atau kamu mau ku suruh pulang jalan kaki," suara Abraham membuat keduanya langsung diam.
"Maaf Tuan," pinta sang supir dengan memelas.
Setelah itu semua terdiam dalam keheningan, tengelam dalam keramaian jalan ibu kota.
*****
Sedangkan di tempat berbeda, di kediaman Arin.
Bunda dan Rio sedang duduk di ruang tamu, keduanya memikirkan sesuatu yang sama. Sedangkan Tio mengantar si kembar dan Mbak Tina ke sekolah.
"Bunda apa yang akan kita lakukan nanti? Kita juga tak tahu siapa dia yang sebenarnya, " kata Rio menatap ke arah sang bunda.
"Entahlah bunda juga tak tahu harus bagaimana," jawab bunda binggung.
"Apa dia tahu kalau kak Arin sudah mempunyai dua orang anak," lanjut Rio. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya.
"Coba kamu tanya sama nak William, siapa dia? Kenapa dia juga menculik Arin dan meminta kita datang untuk merestui pernikahan Arin dan dia," kata bunda.
"Aku coba hubungi kak William dulu," kata Rio mengambil ponsel dari saku nya dan mencari nomor milik William.
Tut... Tut.... Tut.... Tut... Tut... Tut.
Panggilan itu tak diangkat oleh pemiliknya.
"Tidak diangkat Bun, mungkin dia sedang sibuk. Apa aku coba ulangi lagi ya," tanya Tio kepada sang bunda.
"Jangan nak, takutnya nak William sedang sibuk," larang bunda.
"Apa mungkin lelaki itu adalah ayah kandung dari si kembar," tiba-tiba nek Ijah muncul di belakang mereka membuat kedua nya kaget mendengar ucapan nek Ijah.
"Apakah itu benar nek, kalau memang dia adalah ayah dari si kembar kenapa dia tidak menemui si kembar," jelas bunda dengan pemikirannya.
"Kenapa baru sekarang dia mencari kita," kata Rio yang tak terima mendengar ucapan nek Ijah, setelah semua
"Mungkin selama ini dia mencari keberadaan kita tetapi baru ketemu, kalian tahu kan kita sudah berpindah tempat berapa kali," jelas nek Ijah membuat kedua nya terdiam.
Setelah itu nek Ijah berlalu menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Tetapi aku tidak rela, dia selama ini hidup dengan tenang sedangkan kak Arin," Rio masih tak bisa menerima semua itu ternyata benar seperti yang di ucapkan nek Ijah.
"Sudahlah Rio, belum tentu yang dikatakan semua oleh nenek itu benar, itukan cuma dugaan sementara," jelas bunda menenangkan anaknya.
Rio sungguh tak rela kalau pria itu dengan entengnya ingin menikahi sang kakak, setelah semua yang di lalui oleh sang kakak.
BERSAMBUNG.....
Maaf baru update karena kesibukan.
Biasakan setelah membaca like ya.
Seperti biasa ya saya, jangan lupa.
~Like
~Komen
~Rate
~Vote
TERIMAKASIH SEMUA ATAS DUKUNGAN KALIAN SEMUA.