Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 152


Di dalam toilet.


"Ah lega nya," guman Tio dengan suara pelan di dalam toilet.


Sreek


Saat mau keluar dari toilet, baru saja tangan Tio memegang gagang pintu. Samar-samar terdengar suara orang berbicara di luar toilet. Tepatnya di depan wastafel, karena namanya di sebut Tio pun di buat penasaran, meskipun terdengar lancang menguping pembicaraan orang adalah perbuatan yang tidak sopan namun bagi Tio itu berbeda kala namanya di sebut. Tio menghela nafas pelan sebelum dia membuka sedikit pintu toilet itu memudahkan dia mendengar obrolan kedua orang itu.


Tio dapat melihat wajah kedua pemuda itu dari pantulan cermin besar di depan wastafel. Meskipun Tio tak mengenal dekat kedua pemuda itu namun Tio sempat beberapa kali berpapasan dengan mereka.


Keduanya berbicara dengan santai.


"Eh tadi kamu tidak dengar kalau ada yang ribut-ribut di dekat gerbang kampus," tanya pemuda bertubuh tinggi.


"Iya aku tahu dan sempat lihat tadi sih," jawab pria berkulit putih itu seraya membilas tangan nya.


"Jadi kamu tahu kan siapa tadi yang berantem," tanya pria bertubuh tinggi.


"Kamu tahu kan Tio dan Denis," jawab pria berkulit putih.


"Oh tahu lah, Tio yang terkenal irit bicara itu kan dan Denis tuh pria yang terkenal playboy dan sering berganti-ganti pacar," kata pria berkulit putih.


Di dalam toilet Tio mengeram kesal, ingin rasanya Tio mengumpat kedua pemuda itu karena dengan seenaknya keduanya membicarakan dirinya di belakang seperti ini.


"Ck mereka seperti perempuan suka sekali bergosip, aku ingin mendengar mereka berbicara apa lagi tentang ku," guman Tio dengan suara kecil menatap sinis ke arah mereka.


Tio pun melanjutkan menguping pembicaraan keduanya karena pembahasannya sudah mulai mendalam.


"Dengar-dengar sih karena rebutan cewek kalau tidak salah namanya Amanda," sambung pria berkulit putih tadi.


"Oh si Amanda anak fakultas sebelah, yang sekarang cantik itu kan?" Tanya pria bertubuh tinggi memastikan kalau dirinya tak salah orang.


"Dasar kamu, perempuan cantik saja tahu kalau ada tugas suka lupa," grutu pria berkulit putih.


"Ha ha ha ha ha ha ha, pastilah kan namanya cowok kalau lihat yang bening wajib di ingat dong," jawab pria tadi dengan bangga.


"Apalagi wajah Amanda sekarang hidung nya yang mancung, bibir yang tidak tipis dan tidak tebal, pokoknya bibirnya tuh seksi banget. Membayangkan bibirnya itu membuatku jadi ingin mengecupnya, ah bagaimana rasanya apakah manis?" Pria bertubuh tinggi itu membayangkan wajah cantik Amanda dengan tersenyum mesum.


"Husssttt jangan keras-keras nanti ada temannya Tio terus dia lapor ke Tio baru tahu rasa kamu," kata temannya itu memperingatkan.


"Halaaahhhhh cuma kita saja di sini," jawabnya cuek karena dia berfikir di toilet cuma ada mereka berdua.


Dada Tio bergemuruh, sorot matanya berubah tajam seperti akan mencabik mangsanya.


Tanpa mereka sadari, di dalam sana tangan Tio sudah terkepal kuat ingin melayangkan bogem mentah ke arah pria yang sudah dengan lancang membayangkan kekasihnya.


Bruaaaaakkkk.....


Pintu toilet itu di tendang Tio dengan kuat membuat 2 pemuda yang asyik bergunjing ria tadi langsung melonjak karena kaget.


Keduanya melotot saat melihat siapa yang sudah melakukan itu.


"Ti-o," guman pria berkulit putih.


Glek


Glek


Keduanya menelan ludah ludah dengan susah payah, tenggorokannya langsung kering seketika.


Sedangkan temannya tadi tak mampu berbicara, seolah tubuhnya membeku terkena tatapan dingin dari Tio.


"Jaga ucapan kalian, aku tidak ingin kata-kata tadi terdengar lagi ke telingaku. Untuk saat ini kalian aman karena aku malas untuk mengurus mulut bawel kalian tetapi tidak untuk kedepannya dan kepastian mulut kalian akan ku robek dan kalian akan menangisi kehancuran kalian. Jangan pernah berbicara macam-macam tentang kekasih ku.... INGAT ITU."


Tio hanya memperingatkan keduanya saja karena dia tak ingin membuat ulah dan membuat kekasihnya sedih.


'Kenapa mata itu begitu menakutkan, lutut ku serasa lemas tak bertenaga,' batin pria bertubuh tinggi.


'Ha Tio, gawaaat Tio kan dari keluarga Abraham. Bisa bahaya kalau berurusan dengan dia,' batin pria berkulit putih teringat saat dirinya diajak ke acara perusahaan milik tuan Abraham oleh orang tuanya.


'Siaaaaaal.... Gara-gara mulut Rudi nih aku kena imbasnya,' grutu pria berkulit putih itu di dalam hati nya.


Keduanya semakin pucat, entahlah sorot mata Tio dapat mengintimidasi keduanya sehingga tubuh keduanya gemetar ketakutan di buatnya.


Mata itu mampu membuat orang yang melihatnya ketakutan.


"Ma-af kami ti-dak akan mengulanginya lagi," kata pria bertubuh tinggi itu dengan terbata.


"Iya kami minta maaf," saut pria berkulit putih tak ingin masalah itu semakin lebar.


Tio tak menggubris permintaan maaf keduanya, dia sudah tak tahan menahan emosi nya.


Bruuuuakkkkkkk....


Tio menendang tong sampah itu dengan keras meluapkan amarahnya. Setelah selesai dia pun keluar menuju kantin di mana teman-temannya tadi berkumpul.


Tio berjalan cepat, seraya menarik nafas dalam-dalam dan membuang nya pelan-pelan untuk meredakan emosi di hatinya akibat ulah pemuda tadi.


Sampailah Tio di kantin, Tio mengedarkan pandangannya melihat ke segala penjuru arah.


Dia bisa melihat kalau Rio, Bram, Nino dan Reza masih di sana.


Brukk.... Tio menjatuhkan dirinya di kursi panjang itu.


"Nih," Rio menyodorkan kunci mobil milik Tio.


"Mereka sudah selesai dari tadi, karena kamu lama jadi mereka menitipkan nya kepada ku," jelas Rio kepada saudaranya itu.


"Hmm.... Thanks," jawab Tio singkat dengan malas.


"Eh Lo ke toilet apa mampir ke mana? Lama banget sih," grutu Nino menatap Tio.


Sedangkan Rio sudah menyadari kalau saudaranya itu sedang kesal terlihat dari wajahnya.


"Ada insiden dikit tadi jadi lama," kata Tio dengan cuek.


Rio kaget, dia pun menatap saudara dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


"Ck tuh mata biasa saja jangan melotot begitu," kata Tio melirik ke arah saudaranya.


"Sudah jangan ngeles terus, kamu pasti tahu kan arti tatapan ku ini," kata Rio.


Semuanya terdiam tidak ada yang berani bertanya, mereka tahu perasaan Tio saat ini sedang kesal.


"Sudah jangan bahas lagi, malas..." Kata Tio dengan malas.


Rio menghembuskan nafas kasar, dia tahu kalau begini Tio sedang tidak ingin membahasnya. Namun semua masih menatap Tio.


"Ck kalian seperti orang mau mengintrogasi penjahat saja. Tenang mereka masih aman belum ku apa-apain, aku cuma gertak mereka pakai omongan saja tidak lebih kok," jelas Tio akhirnya membuka mulutnya namun tak memberitahu mereka melakukan apa sehingga menyinggung perasaan Tio.


'Tumben nih orang tidak emosi,' batin Bram.


'Untung saja mereka masih selamat kalau tidak sudah di pastikan kaki mereka tidak akan berani menginjak kampus ini lagi,' batin Rio bernafas lega.


"Sudah jangan bahas lagi, aku mau balik ke kantor lagi," kata Tio hendak beranjak lagi dari tempat duduknya.


Hari ini mood nya sedang tidak bagus, jadi dia lebih baik ke perusahaan mengecek berkas-berkas yang sudah menumpuk di meja nya.


B E R S A M B U N G.....