
Arin memandang nanar deretan kursi di depan nya, pemandangan yang menyayat hatinya.
" Sehat terus ya nak karena Abi sudah tidak sabar melihatmu," kata suami itu mengelus perut besar istrinya.
'Alangkah bahagianya sepasang suami istri di depan ku,' batin Arin.
Pemandangan yang membuat iri hati, suami yang begitu perhatian yang sedang mengelus perut besar istrinya dengan kasih sayang serta senyum yang selalu mengembang.
'Ah andai dia punya suami pasti juga akan perhatian seperti lelaki tadi,' batin Arin
"Nak......"
Seakan mengerti perasaan anaknya.
"Nak jangan sedih. Lihatlah ke samping mu, wanita itu datang sendiri tanpa di dampingi siapapun," perkataan sang bunda menyadarkan Arin bahwa dirinya tidak sendiri. Arin lebih beruntung meskipun tidak memiliki suami tetapi Arin masih memiliki bunda dan nek Ijah.
Arin pun tersenyum, mengengam tangan sang bunda dan nenek Ijah. Arin bersyukur dirinya masih di kelilingi orang yang menyayanginya.
"Nyonya Arininda Putri," teriak suster memanggil nama Arin.
"Iya...." Jawab Arin.
"Silahkan masuk," kata suster mempersilahkan Arin masuk ke dalam poli kandungan.
Arin, bunda dan nenek Ijah pun beranjak dari tempat duduknya memasuki ruangan dokter spesialis kandungan itu.
"Silahkan duduk Bu Arininda," sapa dokter ramah.
Arin melihat nama yang tertera di meja dokter. ARIESTA LARASATI itulah dokter yang menangani Arin saat ini.
Arin pun duduk di samping nenek sedangkan bunda berdiri di belakang Arin
"Wah ternyata Bu Arin masih muda ya?" Tanya dokter dengan di sertai candaan untuk mencairkan suasana.
Arin hanya tersenyum.
"Ada keluhan apa Bu?" Tanya dokter Esta ramah.
"Saya ingin memeriksakan kondisi kandungan saya," jawab Arin.
"Dokter saya sudah tak sabar ingin melihat wajah cucu saya di layar tipi, apa itu namanya," celetuk nenek Ijah.
Arin maupun bunda hanya tersenyum, mendengar nek Ijah begitu antusias ingin melihat bayi di dalam kandungan Arin.
Dokter pun ikut tersenyum mendengar permintaan nenek Ijah.
"Nanti setelah saya periksa mbak Arin, kita lihat wajah cucu nenek melalui alat USG ini ya," jawab dokter dengan ramah.
"Suami mbak kemana?" Tanya dokter. Karena biasanya pasangan ibu muda lebih suka mengajak suaminya.
"Su-suami saya ....." Arin tak tahu harus menjawab apa.
"Suaminya sedang bekerja dok," saut bunda cepat.
"Oh pantas, ya sudah silahkan mbak Arin naik ke ranjang biar saya periksa," perintah dokter.
Arin pun menuruti keinginan dokter, dia naik dan berbaring di ranjang.
Dokter memeriksa tekanan darah Arin. Setelah memeriksa kondisi Arin yang ternyata kondisinya bagus.
"Tidak ada keluhan lain Bu seperti mual atau tidak nafsu makan?" Tanya dokter memastikan.
"Alhamdulillah dok, tidak ada. Nafsu makan saya masih seperti biasanya," jawab Arin.
"Tidak dok," Jawab Arin.
"Oh mungkin suami ibu yang mengalaminya," saut dokter.
Arin pun tertegun sesaat, sedangkan bunda maupun nek Ijah saling berpandangan.
Dokter mengoleskan gel ke perut Arin, gel yang terasa dingin. Setelah itu dokter mengambil alat USG memastikan kondisi janin nya.
Nenek dan bunda pun ikut melihat kearah alat USG, ke empat orang di sana matanya fokus menatap layar.
"Wah selamat Bu Arininda akan mempunyai bayi kembar," kata Dokter tersenyum lebar.
Deg....
Arin tertegun sesaat.
"A-apa dokter katakan tadi, bayi kembar?" Tanya Arin yang kaget belum percaya.
"Mungkin di keluarga bu Arin atau suami nya ada keturunan kembar, biasanya seperti itu," jawab dokter.
Mendengar itu bunda maupun nek Ijah kaget bercampur bahagia, sungguh mereka tak menyangka akan semua ini.
'Ayah andai kau masih di sini, lihatlah cucumu kembar dan sebentar lagi aku akan jadi nenek,' batin bunda teringat sang suami.
"Apa Bu Arin tidak ingin tahu jenis kelamin anak nya?" tanya dokter penasaran pasalnya pasien di depannya hanya terdiam.
Mendengar pertanyaan itu dokter, Arin pun mengeleng.
"Biarlah ini jadi kejutan untuk kami nanti," jawab Arin.
Setelah selesai di periksa, Arin pun turun lalu duduk di depan dokter.
Dokter pun menjelaskan semuanya, tentang makanan apa saja yang harus banyak di konsumsi serta apa saja yang harus di lakukan Arin.
Setelah itu dokter mencatat semuanya ke dalam buku kehamilan Arin.
Arin pun mengambil buku beserta resep vitamin yang harus dia konsumsi nanti .
"Terimakasih banyak dokter," kata Arin menjabat tangan sang dokter.
Ketiganya keluar dari ruangan dokter itu dengan bahagia.
Arin duduk berserta nek Ijah di bangku dekat apotik, sedangkan bunda mengantri untuk menebus resep di apotik rumah sakit tersebut.
Nek Ijah tak henti-hentinya memandang foto USG bayi Arin dengan binar bahagia.
"Ayo nak pulang," ajak bunda.
Ketiganya pulang menuju rumah nek Ijah.
Bersambung....
Maaf ya update telat karena kesibukan emak-emak. Update 1 bab ya meskipun dikit efek ngantuk🙈
Maaf kalau ada typo.
Jangan lupa seperti biasa.
Setelah membaca biasakan like dan komen.
Terimakasih.