
Di kediaman Abraham....
"Ck kamu pikir kamu siapa? Apa dengan ini kamu pikir berani mengusik ku, kamu salah memilih lawan bung, aku tidak akan membiarkan mu membuat adikku patah hati, jangan harap," ucap Abraham menatap foto seorang dengan sinis, apalagi melihat laporan yang di berikan oleh anak buahnya.
Abraham pun merogoh ponselnya, dia menekan nomor seseorang.
"Cepat kamu bersiap-siap, kamu masih bisa jalan kan?"
"Bisa,"
"Tak sia-sia dokter memberikan obat terbaik buat mu, cepat kamu bersiap-siap. Bimo akan ke sana sebentar lagi,"
"Kemana?"
"Sudah jangan banyak tanya, sebentar lagi Bimo ke sana mengantarkan baju yang akan kamu pakai nanti.
"Hmm... Ok," .
Klik.... Panggilan itu pun terputus.
Setelah itu Abraham menghubungi Doni meminta Doni untuk menjaga di kembar, sedangkan untuk baby Andra mereka sudah tak perlu lagi khawatir karena sudah ada baby sister yang menjaga. Untuk si kembar memang 1 baby sitter pun tak cukup karena itu Rio dan Doni ikut menjaga mengingat si kembar cukup aktif, banyak bertanya.
Abraham pun beranjak menuju ke kamarnya.
"Sayang, ayo kita bersiap-siap jangan lupa ajak bunda," pinta Abraham kepada sang istri.
"Ya sudah tunggu sebentar, aku persiapkan anak-anak dulu ya," kata Arin hendak berlalu keluar kamar.
"Jangan, biarkan mereka semua di rumah. Ini sudah jam setengah 7 malam, takutnya mereka nanti rewel," bujuk Abraham tak ingin kerepotan membawa 3 anaknya terlebih lagi si kembar yang selalu buat ulah di manapun dia berada.
"Sebenarnya kita mau ke mana, aku tahu pasti ada sesuatu yang licik di otak mu itu," tuduh Arin dengan tatapan penuh selidik ke arah suaminya.
Arin tahu betul bagaimana lelaki yang sudah menjadi suaminya.
"Ha ha ha ha ha ha, kamu memang istriku yang paling pengertian," jawab Abraham terkekeh karena pemikiran nya sudah bisa di tebak sang istri.
"Sini," pinta Abraham kepada sang istri untuk mendekat.
Arin pun mendekati Abraham, dengan senang hati Abraham memberitahu kan rencana itu kepada sang istri.
"Ha benar, ini tidak salah kan!" Tanya Arin memastikan langsung yang di dengarnya.
"Ck sejak kapan Abraham dapat berita abal-abal," Abraham berdecak sebal kala istrinya meragukan informasi yang dia dapat.
"Aduh bagaimana ini, jadi mereka pasti sudah di sana," Arin panik dia langsung berganti baju.
"Mirna... Tolong kasih tahu bunda bersiap cepat, pakai baju terbaik karena kita akan mengajak bunda ke pertemuan bisnis dengan suamiku," perintah Arin kepada salah satu art nya.
Dengan patuh art itu pun mengangguk dan segera ke kamar bunda.
"Sayang bagaimana ini, aku belum beli apa-apa buat kita nanti ke sana," Arin panik.
"Sudah jangan panik, semua sudah beres kalian bersiap saja setengah jam lagi kita berangkat," jelas Abraham.
****
Sedangkan di kediaman Amanda...
Semua sudah selesai menikmati makanan malam.
"Sayang ajak Denis ngobrol ke taman, biar kalian bisa enak berbicara. Papa dengar Denis juga kuliah di tempat mu namun berbeda jurusan," kata Pak Rendi membuat Amanda membulatkan matanya.
Amanda menatap sang bunda meminta pertolongan, namun bunda juga binggung terlebih lagi tatapan mereka semua mengarah kepada sang anak.
Bunda pun mengangguk, agar sang anak menurutinya namun bunda masih berfikir mencari cara untuk menyelamatkan cinta sang anak. Karena Bunda sudah bisa menebak ke mana arah pemikiran sang suami.
"Ajak ke ruang tengah saja nak, di sana bunda sudah siapkan puding dan jus buat kalian berdua," bunda menatap sang putri dengan senyuman manis.
'Fyuuu untung saja bunda ngedukung aku dengan Tio, lihatlah si Denis ini tatapan mata nya buat ku risih. Andai bukan anak dari teman Papa, sudah ku colok tuh mata,' guman Amanda di dalam hati.
Amanda pun mengangguk.
"Emmm... Ayo Denis kita ngobrol di sana saja," tunjuk Amanda ke meja yang tak terlalu jauh dari mereka.
Amanda pun memilih duduk di depan Denis, dia sebenarnya begitu malas namun untuk menghargai rekan sang Papa.
'Tio andai kamu berada di sini,' batin Amanda.
'Ah tetapi Tio sedang sakit, tidak mungkin dia berada di sini,' batin Amanda lesu.
Denis coba meraih tangan Amanda namun dengan cepat, Amanda menarik tangan nya.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa keluarga ku ke sini," kata Denis membuat Amanda mendongak menatap wajah pria di depannya.
Pria di depannya cukup tampan namun bagi Amanda Tio lah yang paling tampan di mata nya.
Amanda mengelengkan kepalanya sebagai tanda tak mengerti.
"Orang tua kita berencana menjodohkan kita," jawab Denis tersenyum dengan manis membuat Amanda lemas seketika.
"Kamu sekampus dengan ku kan, pasti kamu tahu aku mencintai Tio," kata Amanda dengan percaya diri menatap sebal pria di depannya.
Denis terdiam menatap wanita cantik di depan nya itu dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Lihatlah mereka terlihat sudah akrab," kata Bu Rita menatap anaknya dengan bangga.
"Ayo jeng Rita di makan puding nya," kata bunda mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya jeng,"
Ting tong....
Ting tong...
Ting tong...
Bibik tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu, dengan cepat dia membuka pintu depan.
Bibik mengerutkan keningnya, melihat tampilan tamu di depan nya terlebih lagi mereka membawa beberapa barang mewah.
"Maaf pak Rendi nya ada?" Tanya Bimo dengan sopan mewakili keluarga tuan nya.
"Silahkan masuk," bibik mempersilahkan tamu masuk karena tak mungkin membiarkan mereka menunggu di luar terlebih lagi bawaan mereka yang cukup banyak.
Terlebih lagi bibik mengira Tio adalah Rio.
Abraham pun masuk, dia langsung duduk di sofa berdekatan dengan sang istri.
"Sayang apa kita belum terlambat ya," kata Arin saat melihat di sini terlihat sepi.
"Mereka masih di dalam, dengarkan mereka sedang berbincang," jawab Abraham.
"Ck muka mu tegang begitu," kata Abraham meledek adik iparnya itu.
"Kak Abraham bilang terlalu dadakan sih," grutu Tio.
"Iya nak, Bunda juga binggung kenapa dadakan begini," bunda juga masih binggung karena dia di suruh berdandan untuk diajak bertemu dengan rekan bisnis sang menantu namun ternyata mereka suka datang ke rumah Amanda untuk bertemu, ah lebih tepatnya bukan bertamu namun melamar.
"Aku juga baru tahu," jawab Abraham cuek.
"Kak Abraham memang suka seenaknya," grutu Tio namun dengan suara kecil.
"Sudah jangan protes terus kalau mau, kamu mau di tikung? Ok kita pulang saja biar Amanda menikah dengan orang itu," Kata Abraham terlihat tenang namun mampu membuat Tio kelabakan.
"Jangan..." Tolak Tio.
"Ehemm..."
Deheman pak Rendi membuat Tio langsung menoleh ke arah sumber suara, Tio pun menatap ke arah papa Amanda itu.
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana tuan Abraham," kata Pak Rendi merendah, dia tahu kalau di depan nya ini adalah pria yang berkuasa apalagi perusahaan milik Abraham ada di beberapa negara.
B E R S A M B U N G....