
Malam hari....
"Mama susu Aurel habis," rengek Aurel.
"Itu di laci kan masih ada rasa coklat," bujuk Arin.
"Tidak mau.... Aurel mau rasa strawberry," pinta Aurel dengan wajah memelas.
"Hufttt........" Arin membuang nafas kesal.
"Ya sudah mama belikan, kamu jangan rewel ya. Di rumah saja sama nenek dan Oma," bujuk Arin.
"Siap ma...." Kata Aurel sambil memberi hormat kepada Arin.
Arin pun mengacak rambut anaknya dengan gemas.
Arin pun bergegas menuju tangga, dia berpapasan dengan Tio.
"Kak Arin kenapa terburu-buru?" Tanya Tio penasaran.
"Aurel kehabisan susu kesukaannya, jadi kakak mau ke kamar dulu ambil uang," jawab Arin tergesa-gesa.
"Tio antar ya kak," tawar Tio.
"Ya sudah kamu tunggu di luar,"
Arin pun bergegas menuju kamarnya, mengambil dompet.
Tap tap tap tap tap....
Arin berlari menuruni tangga, langkahnya terhenti saat melihat Brian sudah ada di ujung tangga.
"Brian ikut ma," kata Abrian tegas.
"Maaf sayang, ini sudah malam jadi kamu di rumah saja biar Mama di temani om Tio," bujuk Arin.
Dengan wajah cemberut Abrian pun mengangguk.
"Bunda.... Arin titip Aurel sama Abrian," pamit Arin.
Arin pun keluar, ternyata di luar sudah ada Tio yang menunggu dirinya di dalam mobil.
Mobil melaju kencang membelah keramaian kota di malam hari.
Sampailah mereka berdua di minimarket yang dekat dengan rumah nya.
"Oh ya kak, aku tunggu di mobil saja ya," kata Tio. Arin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Arin turun tergesa-gesa menuju minimarket, tanpa dia tau tanpa sengaja sepasang mata itu memperhatikan nya dari kejauhan.
Bibirnya tersenyum tipis.
"Akhirnya aku menemukan mu kucing nakal,"
"Ternyata kamu semakin cantik, aku sudah tak sabar membawamu pulang,"
"Berhenti....." Titah Abraham.
Hendra pun mengerem dengan mendadak mobil yang dia kemudikan, Hendra bernafas lega karena jalan sekitar sini sepi jadi dia tidak menimbulkan kemacetan.
Abraham bergegas turun dari mobil.
"Lho tuan mau kemana?" Tanya Hendra penasaran.
Hendra memilih mengikuti langkah Abraham menuju sebuah minimarket.
"Untuk apa tuan masuk ke sana," guman Hendra dengan rasa penasaran.
Abraham memasuki minimarket, tatapan mata nya menyapu seluruh penjuru tempat. Langkahnya dengan cepat menyusuri satu persatu rak yang ada di sana.
Senyumnya semakin mengembang kala melihat buruannya selama ini menampakkan dirinya.
"Kucing nakal, hari ini kamu tidak akan bisa lari dari ku," guman Abraham tersenyum misterius.
Sedangkan Arin fokus mencari susu strawberry kesukaan Aurel.
"Halo kucing nakal, kita bertemu lagi," bisik Abraham di telinga Arin.
Seketika Arin kaget, susu yang di pegangan nya pun terlepas. Arin di buat merinding mendengar ucapan Abraham.
"Si-siapa kamu....." Tanya Arin dengan ketakutan karena dia tak mengenal pria yang berdiri di depannya.
Aura dingin nan kejam yang terpancar dari Abraham membuat Arin ketakutan.
'Siapa dia, aku tak pernah menyinggung atau berurusan dengan nya,' batin Arin ketakutan.
"Oh sayang sekali, kamu sudah melupakanku," kata Abraham menampilkan mimik wajah sedihnya.
Arin semakin ketakutan, dia ingin meminta tolong tetapi tempat ini sepi hanya ada petugas kasir.
Arin merogoh celananya dan ternyata dia lupa membawa ponsel.
'Si*l.....' umpat Arin dalam hati.
'Apa yang harus ku lakukan, siapapun tolong aku,' batin Arin ingin menjerit meminta tolong.
Arin mengigit bibirnya karena dilanda ketakutan.
Abraham memandang Arin yang sedang ketakutan. Ingin rasanya Abraham mencium bibir tipis itu.
"Aku masih ingat setiap des***n yang kamu teriakkan waktu itu, ah rasanya aku ingin mengulanginya lagi," bisik Abraham dengan senyum menyeringai.
Wangi tubuh Arin membuat Abraham begitu terhanyut dalam pesona Arin.
'Kamu semakin cantik, ingin rasanya aku menerkam mu lagi,' batin Abraham.
Deg ... Deg ... Deg...
Ingatan Arin berputar saat dirinya tersadar di pagi hari.
"Ka-kamu......" Arin semakin ketakutan tubuhnya menggigil.
"Jangan takut kucing manis ku," kata Abraham membelai rambut Arin.
Arin menepis kasar tangan Abraham.
"Apa maumu....." Bentak Arin.
Abraham memandang susu kemasan yang terjatuh di lantai.
"Bagaimana kabar anakku?" Tanya Abraham.
"Itu bukan urusan mu," ketus Arin.
"Ah kamu semakin membuatku penasaran, mari kita ulangi malam panas itu lagi," kata Abraham membelai wajah cantik Arin.
Arin menepis tangan Abraham dari wajahnya.
"Dalam mimpi mu tuan," ketus Arin.
Arin dengan cepat melangkah menghindari Abraham.
Abraham pun berlari segera menarik pinggang Arin dengan cepat.
"Lepaskan aku....." Teriak Arin.
Abraham pun memanggul Arin seperti karung beras. Arin meronta-ronta mencoba melepaskan diri.
Sedangkan sang kasir terdiam karena dia tahu siapa yang sedang dia hadapi.
Hendra terdiam sedari tadi di belakang Abraham, dia terkejut menyaksikan semuanya.
"Cepat kamu bawa mobil ke sini," bentak Abraham.
Plak.... Abraham memukul pantat Arin dengan keras.
"Diamlah kucing nakal, atau aku akan memakan mu di sini," kata Abraham.
"Hiks hiks hiks hiks... Lepaskan aku, apa yang kamu mau," tangis Arin pecah.
"Tenanglah sayang, aku hanya ingin berbicara denganmu," kata Abraham dengan santai.
Hendra membuka pintu minimarket dengan cepat.
"Tio tolong....." Teriak Arin saat di luar minimarket.
Tio yang sedari tadi asyik bermain game pun menoleh saat mendengar suara sang kakak. Tio pun turun menoleh mencari keberadaan Arin.
"Tio tolong....."
Tio terbelalak kaget saat melihat sang kakak tengah di gendong paksa seseorang pria.
"Hei lepaskan kak Arin," teriak Tio.
Abraham tak menggubris, dia masuk dengan cepat ke dalam mobil.
"Hendra jalan...." Titah Abraham.
"Tio... Tolong kakak...."
"Lepaskan aku," kata Arin kesal memukul Abraham.
Dengan kesal Abraham menahan tangan Arin. Wajah Abraham mendekati wajah Arin, dengan cepat dia mel***t bibir tipis itu.
Hendra memilih melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Abraham.
'Nona... Saya kasihan dengan nasib anda. Maafkan semua ini salah saya,' batin Hendra merasa kasihan dengan Arin.
"Kak Arin......"
"Si*l....."
Dengan kesal Tio menendang tempat sampah.
Tio bergegas menuju mobilnya, dia berusaha mengikuti mobil yang membawa sang kakak.
"Tuan.... mobil di belakang mengikuti kita," lapor Hendra.
"Kamu tambah kecepatan, jangan sampai dia bisa mengejar kita," jawab Abraham.
Sedangkan Arin mengusap bibirnya kasar.
Hendra pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan mobil Tio di belakang.
"Apa maumu, kenapa kamu menculik ku," bentak Arin.
'Nona kalau menjadi anda, aku lebih memilih diam,' batin Hendra.
"Aku hanya ingin bernegosiasi dengan mu itu saja," jawab Abraham.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....
Setelah membaca biasakan like untuk mendukung karya author.
Bonus ya say karena besok libur sehari ya say....
Maaf kalau ada typo bertebaran, tolong di komen biar segera di perbaiki. Maaf cerita tidak sesuai dengan keinginan kalian🙏.
Jangan lupa:
~Like
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.