Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 183


Akhirnya mobil yang di kendarai Abraham sampai di kediaman dokter Rian.


"Ayo sayang, kita turun," ajak Abraham kepada Arin dan kedua anaknya.


"Wah rumah om dokter bagus ya pa, ada kolam ikannya gede pa," kata Aurel dengan tatapan berbinar tak lupa tangan nya menunjuk ke arah samping di mana ada kolam berisi ikan hias warna-warni.


Abrian menepuk keningnya merasa pusing mendengar ocehan yang keluar dari mulut sang adik yang menurutnya tak penting itu.


"Dasar," guman Abrian mencibir.


"Sudah jangan ribut di rumah orang," kata Arin memperingatkan keduanya sebelum mereka adu mulut saling lempar ucapan dan berakhir dengan tangis di antara salah satu dari mereka.


"Ayo Abrian, Aurel. Apa kalian tidak ingin lihat adik bayi?" Tanya Abraham kepada kedua anaknya.


"Mau..." Keduanya mengangguk serempak.


"Let's go," seru Abraham di ikuti Arin dan si kembar.


Tok tok tok tok tok tok tok.....


Ceklek....


"Ha...." Bukannya mempersilahkan tamunya untuk masuk, justru dokter Rian di buat tak percaya kalau Abraham dan keluarga kecilnya berada di depan rumah.


"Ck ada tamu bukannya di suruh masuk, malah bengong," kesal Abraham.


"He he he he he he he, maaf!" Kata dokter Rian dengan kikuk.


"Siapa Sayang?" Terdengar suara teriak dari dalam.


"Em... Ada tuan Abraham dan keluarganya sayang datang berkunjung," sahut dokter Rian berteriak.


"Ayo silahkan masuk," ajak dokter Rian membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Keempat orang itu pun masuk ke dalam rumah, namun tak lama muncullah istri dokter Rian mengendong bayi perempuan yang lucu dan begitu cantik.


"Ayo silahkan duduk, sebentar ya saya panggil mbok Nah buat bikin minuman," kata dokter Rian.


"Wah ada adik bayi," seru Aurel bertepuk tangan dengan bahagia.


"Sayang taruh di boks bayi saja biar si kembar bisa lihat, mereka terlihat begitu antusias," kata dokter Rian kepada istrinya.


Bayi itupun di taruh di boks bayi, bayi perempuan cantik itu masih setia tidur dan tidak terganggu kehadiran orang-orang yang terlihat berisik itu.


"Wah adik bayi cantik ma," kata Aurel membuat Arin juga mendekat ke arah bayi mungil itu.


"Om nanti kalau besar, minta adik bayi buat jadi istri Abrian ya," pinta Abrian menarik baju dokter Rian.


Semua orang yang mendengar itupun tertawa melihat kelucuan mereka.


"Ha ha ha ha ha ha ha, ternyata pesona baby Kayla gak kaleng-kaleng ya," kata Arin tergelak melihat wajah Abrian yang terlihat begitu serius menatap intens wajah bayi cantik itu sedari tadi.


"Om sih terserah Kayla saja nantinya," jawab dokter Rian membuat wajah Abrian langsung cemberut.


"Pokoknya Kayla kalau besar harus jadi istri ku titik," sungut Abrian dengan tajam.


"Sudah lah nak, jangan bahas istri. Kamu itu masih kecil, nanti saja kalau sudah besar ya," bujuk Abraham.


"Ha ha ha ha ha ha, kak Abrian mau nikah sama bayi," Aurel tertawa melihat tingkah sang kakak.


Abraham mengelengkan kepalanya mendengar ucapan dari anaknya itu.


"Iya sayang," jawab istri dokter Ryan dengan tersenyum mencubit pipi Abrian yang terlihat begitu menggemaskan.


"Hore ye ye ye ye..." Teriak Abrian dengan begitu girang seraya melompat-lompat kecil.


"Ha ha ha ha ha ha ha, lucu banget sih," dokter Rian justru menertawakan tingkah laku Abrian saat ini.


"Ehemmm...." Deheman Abraham membuat dokter Rian menghentikan tawanya segera dan menatap ke arah Abraham.


"Aku ingin bicara sesuatu, bagaimana kalau kita bicara di ruang kerja saja," kata Abraham menatap ke arah dokter Rian.


"Ok," jawab dokter Rian dengan singkat.


Dokter Rian menoleh ke arah sang istri.


"Sayang, tolong kamu temani Arin dan si kembar yang kalau ada perlu apa-apa aku berada di ruang kerja," pamit dokter Ryan kepada sang istri.


Abraham beserta dokter Ryan pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja yang tak jauh dari sana.


Tinggallah Arin, Abrian, Aurel beserta istri dan anak dokter Rian yang masih bayi.


Arin pun berbincang hangat dengan istri dokter Rian, keduanya asyik membicarakan perkembangan anak-anak mereka.


Sedangkan Abrian justru terpikat dengan pesona pesona baby Kayla, Abrian berkali-kali mengecup tangan bayi itu dengan penuh kasih sayang.


...-------...


Abraham duduk menyilangkan kakinya, sedangkan dokter Rian masih berdiri di dekat jendela mata nya menatap lurus keluar jendela.


"Bagaimana semua nya di sana?" Tanya Abraham memastikan.


"Ternyata sulit juga untuk memberantas penghianat itu sampai ke akarnya," jawab dokter Rian.


"Terus perusahaan milik istrimu perkembangan nya bagaimana?" Tanya Abraham khawatir.


"Semua sih sudah lancar, ya meskipun uang yang mereka gelapkan tidak bisa mereka kembalikan dan hal itu sempat membuat perusahaan di ambang kebangkrutan," jelas dokter Rian.


"Thank berkat suntikan dana dari perusahaan milik mu, perusahaan istriku sekarang baik-baik saja," kata dokter Rian dengan tulus.


"Ck itu hal kecil," jawab Abraham dengan enteng nya.


"Bagaimana dengan peluncuran produk baru kita?" Tanya Abraham.


"Emmm.... Semua berjalan dengan lancar," jawab dokter Rian.


"Bagaimana apa kamu sudah menyelidiki nya sesuai perintah ku?" Tanya Abraham terus terang.


"Hmm.... Sudah! Tetapi aku kehilangan jejaknya lagi,"


Keduanya pun membahas tentang tugas yang di berikan Abraham untuk dokter Rian, dan juga membahas mengenai kerjasama yang akan mereka lakukan.


Bruaaaaakkkk....


Tanpa di duga pintu ruang kerja tempat di mana Abraham dan dokter Rian sedang berdiskusi terbuka dengan keras.


"Abrian...." Kata Abraham.


B E R S A M B U N G....