
Veli memandang wajah Andi yang terlihat berkeringat, Veli tahu pasti pemuda di depannya itu kelelahan akibat ban motornya yang bocor, Veli pun berinisiatif.
Veli mengambil tisu dan mengelap kening Andi sontak hal itu membuat Andi kaget.
Andi tersenyum melihat Veli dengan telaten membersihkan wajah nya.
"Terimakasih," kaya andi sedangkan Veli tersenyum sebagai jawaban.
"Maaf ya karena aku tidak bisa menjemputmu karena tadi aku harus mengantar koran sebentar," lirih Andi merasa bersalah.
Veli mengelengkan kepalanya sebagai tanda Andi tidak perlu meminta maaf, beli tahu bagaimana Andi bekerja keras. Tiap pagi dia akan sibuk mengantarkan koran dan siang ataupun malam dia akan bernyanyi di cafe.
"Aku tahu kamu sibuk, justru aku merasa tak enak hati kalau kamu harus mengeluarkan uang untuk sekedar ngajak aku makan di tempat ini," lirih Veli merasa tak enak hati pasalnya Veli tahu tempat yang dia masuki bukanlah tempat dengan harga murah.
"Aku justru senang bisa mengajak kamu makan di tempat ini," jawab Andi tersenyum manis.
'Terimakasih, karena engkau menghadirkan Andi di hidupku ini. Saat aku terpuruk dia datang sebagai obat penyembuh semua luka ku, dia menarik ku dari jurang penyesalan,' batin Veli memandang Andi dengan penuh dengan kata terima kasih.
"Em aku ada sesuatu untuk kamu," kata Andi menyodorkan sebuah kotak kecil.
"Maukah kamu menikah dengan ku?" Tanya Andi membuat jantung Veli bedetak kencang.
Deg...
"Sebenarnya aku sudah jatuh cinta saat pertama melihat wajah sedih mu itu, wajahmu membuatku tergerak untuk melindungi mu. Lama kelamaan perasaan ku semakin tak menentu, aku begitu ingin selalu berada di dekat mu, melihat senyum dan tawamu. Aku sadar aku sudah jatuh cinta dengan mu jadi aku tak ingin kehilanganmu, maukah kamu menua bersama ku," jelas Andi mengungkapkan isi hatinya.
'Apa Andi melamar ku,' batin Veli.
"Apa kamu tidak suka? Aku ikhlas kalau kamu menolak ku karena perasaan tak bisa di paksakan tetapi selama beberapa bulan ini kita sering bertemu dan hal itu membuatku nyaman," jelas Andi mengutarakan perasaannya tetapi wajah Andi terlihat sendu pasalnya dia melihat Veli bukannya bahagia justru dia menangis.
Veli masih terdiam, dia begitu terharu baru kali ini dia bertemu dengan lelaki baik seperti Andi. Justru disaat dia susah, Andi selalu ada untuknya. Veli tak ingin kehilangan kesempatan berharga ini, dia juga ingin di cintai bukan mencintai saja.
"Kalau kamu menolak ku, aku ikhlas dan kalaupun kamu tidak suka dengan cincin ini, maaf hanya ini yang bisa ku berikan. Semua keputusan ada kepada mu, kalau kamu menolak ku juga tidak apa-apa karena jodoh sudah ada yang menentukan dan aku pun ikhlas," lirih Andi.
Melihat Veli yang tak bereaksi apapun, dengan cepat tangan Andi pun bergerak meraih kotak kecil itu, dia berusaha mengengam kembali kotak itu dan menariknya pelan untuk dia masukkan ke dalam saku celananya.
Andi berusaha menguatkan dirinya, dia berfikir kalau penolakan yang akan dia dapat saat ini karena melihat reaksi wanita di depannya.
Grep...
Dengan cepat tangan Veli mencekal tangan Andi, membuat Andi mendongak menatap Veli penuh tanya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks aku suka cincin nya, aku juga mau menerima kamu, aku menangis bukan tidak mau tetapi aku begitu terharu, hiks hiks hiks hiks terimakasih telah hadir di saat aku terpuruk, terimakasih telah mencintaiku," jawab Veli sambil terisak mengutarakan semua yang tengah ada di pikirannya.
"Ja-di kamu menerimaku?" Tanya Andi dengan tergagap. Dia masih belum percaya apa yang di dengarnya.
Veli mengangguk sebagai jawaban.
"Benar kan kamu tidak bercanda?" Tanya ulang Andi.
"Iya, terimakasih juga telah mencintaiku," lirih Veli dengan bahagia.
B E R S A M B U N G....