
#Masih POV mbak Tina#
Aku begitu kaget saat tuan Abraham datang ke sekolah si kembar, tetapi aku bersyukur dengan adanya tuan Abraham di sana Aurel pun langsung berhenti menangis, ah rasain tuh dasar ibu-ibu kejam yang suka menindas non Aurel dan den Abrian kena batunya. Jujur aku merasa puas melihat mereka.
Kedatangan Tio pun membuatku semakin lega karena aku tak sendirian, meskipun ada si kembar sih.
Kami pun ikut pulang ke rumah besar nan megah milik tuan Abraham. Mereka sih menyebutnya mansion, entahlah apa itu namanya....
Aku begitu takjub saat datang ke sini.
"Ini bukan rumah, melainkan istana," guman ku saat itu.
Hari-hari pun berlalu, aku di buat terkagum dengan perlakuan manis tuan Abraham kepada Bu Arin.
Setelah itu entah apa yang terjadi aku pun tak tahu dan tak ingin mencari tahu karena aku hanya sekedar pengasuh yang tak berhak ingin tahu kehidupan bu Arin.
Setelah beberapa Minggu, Bu Arin pun menikah dengan tuan Abraham.
Bahkan di kembar pun langsung akrab dengan tuan Abraham.
Melihat kebahagiaan itu, entah kenapa terselip rasa iri di hatiku. Ku tepis semua rasa itu, aku tak pantas iri karena semua ini.
Hari-hari berlalu tetapi rasa kagum ku semakin bertambah.
Jujur wajah tuan Abraham yang begitu mempesona, apalagi kala diam-diam ku curi-curi pandang saat dia tersenyum kepada Bu Arin. Sungguh mempesona.
Tiba-tiba dalam hatiku terbesit keinginan untuk bisa memiliki suami seperti tuan Abraham, rasa iri melihat kebahagiaan mereka membuatku sering kesal.
Aku berandai-andai memiliki suami sepertinya pasti aku akan sangat bahagia.
Hari-hari ku lewati dengan mengantar sampai menunggu si kembar di sekolah, tetapi saat pulang sekolah tiba-tiba Aurel haus dan kebetulan stok minum yang ku bawa sudah habis begitupun yang ada di dalam mobil.
Aku pun meminta supir untuk mampir di minimarket terdekat.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dari belakang. Aku sempat terdiam, aku binggung karena jujur aku tak mengenal ataupun pernah bertemu dengan wanita cantik di depan ku.
Yang lebih membuatku kaget adalah dia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Obat perangsang"
Deg....
Apa maksud orang ini? Itulah yang tengah ku pikirkan, kenapa dia memberiku ini padahal aku tak mengenalnya.
Setelah itu dia membisikkan kata singkat, aku menutup mulutku tak percaya.
Apakah aku harus melakukan nya untuk bisa mewujudkan mimpiku.
Dari dalam hatiku terbesit kata untuk melakukan nya.
"Lakukan saja, setelah ini pasti dia akan menjadi milikmu dan kamu akan hidup bahagia,"
"Jangan lakukan, ingatlah semua kebaikan Bu Arin kepada mu,"
Pikiranku kacau, aku masuk ke dalam mobil dengan pikiran kosong.
Setelah itu kami pun pulang, kami pun berhenti di mansion mewah ini setelah itu kami pun turun.
Si kembar terlihat begitu ceria menyambut pelukan sang mama.
Tiba-tiba Bu Arin mendatangiku, dia memanggil namaku.
Entahlah aku pun tak tahu apa yang ingin bu Arin katakan. Tiba-tiba hatiku deg-degan, entah kenapa perasaan buruk pun datang menghantuiku. Rasa takut!!
Ku tepis semua rasa itu....
Dengan anggukan aku pun mengikuti Bu Arin. Aku pun mendengarkan Bu Arin berbicara.
"Maaf mbak, mulai besok saya tidak bisa memperkerjakan mbak Tina di sini," kata Bu Arin,
Dia masih menatap ku, entahlah mungkin dia ingin mengetahui ekspresi wajah ku saat ini.
Deg ....
Aku menatap Bu Arin dengan pandangan tak suka.
Entah apa yang merasuki ku, sehingga niat buruk pun muncul di otakku. Aku pun berusaha mengiyakan saja permintaan Bu Arin.
Rupanya tuhan berpihak kepadaku saat ku lihat Bu Arin pergi dengan anak-anak keluar. Tak berselang lama muncullah tuan Abraham dengan wajah letih nya baru pulang bekerja.
"Ini kesempatan ku," guman ku saat itu.
Aku pun melancarkan aksiku saat ku lihat tuan Abraham meminta kopi kepada salah satu art di sana.
Aku pun berpura-pura menumpahkan minuman kepada art itu, awalnya melihat wajah art itu kesal sempat terbesit rasa takut di hatiku tetapi aku lega saat dia menghela nafas dan tak marah padaku.
Mungkin dia takut dia akan telat mengantarkan kopi itu.
Dengan memasang wajah bersalah, aku berpura-pura menawarkan dia bantuan. Ku lihat dia berfikir cukup lama dan akhirnya dia mengangguk.
Yes....
Aku bersorak dalam hati.
Setelah kepergian art itu. Aku pun menoleh ke kanan dan kiri memastikan aksiku tak di lihat siapapun.
Aku dengan hati-hati memasukkan obat itu, aku membelakangi cctv berpura-pura mengaduk kopi itu dengan santai.
Aku mengetuk pintu ruang kerja milik tuan Abraham, awalnya dia tak melirikku sama sekali. Tetapi aku masih setia menunggu.
Tuan pun meminum kopi tadi, ah aku tersenyum manis karena rencana ku sebentar lagi akan berhasil.
Tanpa di duga setelah dia meminum kopi, tuan Abraham malah menyemburkan kopi itu.
Dia mendongak menatapku..
"Kamu ...."
Kata itu mampu membuatku ketakutan, aku binggung tiba-tiba pikiranku kosong aku tak mendengar perkataan tuan Abraham dengan jelas.
Aku ketahuan, ternyata tuan Abraham tak seperti yang ku kira, dia dulu seperti malaikat berubah menakutkan.
Dia memanggil beberapa bodyguard masuk, tubuhku menggigil ketakutan.
Apa yang akan terjadi kepadaku, aku tak bisa membayangkan nya.
Aku pun di paksa minum kopi tadi oleh Bimo dan bodyguard lainnya.
Setelah itu pun aku tak ingat kejadian selanjutnya.
Aku kira rencana ku berhasil saat pertama kali ku buka mataku yang terasa berat, bagian bawahku terasa nyeri tak terkira. Aku kira rencana ku berhasil ternyata semua itu harus ku bayar mahal.
Aku di nikahkan dengan Doni, awalnya aku tak terima. Aku takut Doni bertindak jahat terhadap ku tetap Doni bersikap baik tak seperti pikiranku.
Apalagi saat Doni menceritakan mami Sarah, membuat tubuhku merinding.
Aku kapok dengan semua ini.
Aku di ajak Doni keluar dari mansion ini, aku tercengang saat melihat begitu banyak deretan mobil mewah itu.
Doni memakai mobil mewah itu, ah aku jadi bertanya-tanya siapakah Doni ini. Apa gaji bodyguard sangat banyak sehingga mempunyai mobil mewah seperti ini.
Tuan Abraham juga memberikan kami rumah untuk tempat tinggal.
Sekarang aku di sini menjadi istri Doni, bodyguard dengan wajah buruk rupa.
Ya suamiku bodyguard buruk rupa.
Mungkin ini takdirku, aku mencoba ikhlas. Aku bersyukur ternyata tuan Abraham masih baik kepadaku.
#Pov. Mbak Tina end#
B E R S A M B U N G.....