Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 156


Melihat tuan Lee yang masih terdiam, Tio pun mengeluarkan senyum jahatnya.


Tio sudah menyusun berbagai rencana untuk membuat tuan Lee mangaku. Karena pria tua di depan nya itu begitu sulit dan kekeh


Dia mengarahkan lagi pisau itu ke wajah tuan Lee, Tio bermain-main dengan mulai menelusuri hidung, mata dan mulutnya. Pisau itu seakan menari-nari di wajah tuan Lee dan siapa yang melihatnya akan di buat ketakutan.


Di pikiran Tio ini adalah cara terampuh untuk menakut-nakuti tuan Lee sehingga dia dengan lancar membuka mulutnya.


"Bagaimana kalau mata ini ku ambil, lumayan untuk mainan Lea, ah pasti Lea ku begitu senang," kata Leo menyeringai mempermainkan perasaan tuan Lee mencampur aduk emosinya sehingga membuat dirinya dilanda trauma yang begitu mendalam.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha," semua yang melihat ekspresi wajah tuan Lee bukannya simpati justru mereka menertawakan nya, sungguh miris itulah yang dirasakan tuan Lee saat ini.


'Gara-gara aku serakah karena uang sampai aku menerima tawaran dari pria itu, sekarang aku justru berada di sarang harimau ini dan tidak bisa menikmati uang itu, miris sekali nasibku. Apa aku jujur saja ya tetapi bagaimana nasibku? Karena pria itu juga mengancam ku?' Guman tuan Lee di dalam hati memikirkan nasibnya yang serba salah, maju mundur sama saja itulah yang di rasakan tuan Lee saat ini.


'Aku takut karena dia mengancam akan menyakiti kedua anakku,' batin tuan Lee memejamkan mata karena dilanda kebimbangan.


Melihat lelaki di depan nya itu masih setia bungkam, Tio pun mengeram kesal.


'Pasti ada yang membuat pria tua ini tidak mau mengaku,' guman Tio dalam hati menatap wajah tuan Lee dengan seksama.


"Ck baiklah kalau itu mau mu dan tenang saja nanti aku akan bawakan Theo sebagai teman kamu di sini biar tidak bosan," kata Tio menakut-nakuti tuan Lee karena rencananya sedari tadi tidak berhasil, tuan Lee masih saja terdiam.


"Ja-ngan ganggu anakku," tuan Lee semakin frustasi mendengar nama anaknya di sebutkan.


"Ha ha ha ha ha, siapa yang menganggu? Justru aku ingin mempertemukan kalian berdua," jawab Tio terkekeh.


"Ba-ik akan aku katakan," akhirnya mulut tuan Lee pun terbuka meskipun, meskipun dia masih dilanda keraguan.


Akhirnya Tuan Lee menyerah juga, tuan Lee tidak takut apapun terjadi dengan dia, namun yang paling dia takutkan justru tak bisa melindungi keluarganya.


'Aku harus meminta dia untuk melindungi keluargaku,' batin tuan Lee.


"Se-sebe-narnya tuan Denis yang menyuruhku," jawab tuan Lee tergagap.


'Akhirnya pak tua ini bicara juga, fyuuuh kalau aku kejam mungkin sudah ku lenyapkan dia sedari tadi,' batin Tio.


Tio bersungut-sungut kesal di dalam hatinya. Apalagi dalang di balik semua ini adalah Denis.


''Ck tidak anak, tidak bapak sama-sama buat masalah," sungut Tio begitu kesal.


Tio menghela nafas lelah, dia pun beranjak dari tempat itu tanpa sepatah kata pun.


"Tolong lindungi keluarga ku," teriak tuan Lee penuh permohonan.


"Hmmm....." Jawab Tio mengangguk dengan dingin berbalik, dia ingin segera meninggalkan tempat ini.


Tuan Lee yang melihat itupun hanya bisa pasrah. Lelaki tua itu hanya bisa beharap dalam hati kalau Tio akan membantu dirinya untuk melindungi keluarganya, meskipun kenyataannya begitu sulit.


"Bos bagaimana dengan dia?" Teriak black bertanya ke Tio tak lupa menunjuk ke arah tuan Lee yang terlihat begitu lemah dan pasrah akan nasib nya setelah ini.


"Kalian lepaskan dia terus antar dia ke kantor polisi, jangan lupa sertakan beberapa bukti nanti pengacaraku yang akan mengurusnya," Tio menatap ke arah pria muda yang baru saja dia temui.


Tuan Lee mendongak menatap ke arah Tio, dia tak menyangka Tio melepaskan dia. Tuan Lee mengira Tio akan menyiapkan dia dalam waktu cepat.


'Ternyata dia pemuda yang baik, semoga dia bisa membantuku melindungi keluargaku. Bunda, Adik (panggilan untuk anak laki-laki nya yang masih SD), kakak (panggilan untuk anak perempuan nya yang SMP) maafkan papa telah melibatkan kalian dalam masalah ini. Semoga pemuda itu mau melindungi kalian,' batin tuan Lee.


"Aku tidak seburuk itu tuan Lee," kata Tio dengan menatap begitu tajam ke arah tuan Lee. Tio mengatakan hal itu karena Tio seolah tahu apa yang di pikirkan oleh pria tua itu, pria tua itu mungkin berfikir Tio akan langsung melenyapkan dirinya namun Tio tidak sekejam itu.


"Terimakasih, tolong jaga keluargaku," kata tuan Lee dengan penuh permohonan.


Tuan Lee menghela nafas panjang mendengar jawaban yang seperti itu keluar dari mulut Tio.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha, " tawa Tio pecah menyadari raut wajah tuan Lee saat ini yang tengah kebingungan.


Tuan Lee memutar bola matanya malas melihat tawa Tio yang terlihat begitu menyebalkan di mata nya saat ini.


"Black cepat bebaskan dia," perintah Tio dengan tegas.


Sesuai perintah dari Tio, black pun melepaskan ikatan tuan Lee saat ini. Black dan kawan-kawan mengurus semuanya tak lupa di sertai bukti yang kuat.


Tio pun merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel.


Tio mengetik beberapa pesan yang dia kirim ke asisten kepercayaan nya untuk menjatuhkan perusahaan milik keluarga Denis secepat mungkin, Tio sudah tak ingin Denis bertindak semaunya lagi, dia sudah kesal apalagi mendengar kelakuan buruk pak tua Rangga itu yang sudah berani mengusik kakak tercinta nya.


Setelah ini Tio akan menemui Abraham untuk membicarakan semuanya.


Tio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu yang lama akhirnya mobil itu sampai di depan perusahaan milik Abraham.


Tio turun dan meminta seseorang untuk memarkirkan mobilnya, Tio berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke ruangan Abraham.


Tok tok tok tok tok...


"Masuk," kata Abraham setelah tahu Tio sudah berdiri di depan ruangan milik nya.


Ceklek...


"Eh ......" Tio kaget melihat Arin duduk manis di sana.


"Kak Arin," sapa Tio.


"Kamu sudah selesai kuliah atau bolos," Arin menatap Tio dengan penuh curiga.


"Emm.... Hari ini dosen ku sedang ada urusan penting, jadi aku langsung ke sini," jawab Tio.


"Oh...." Arin mengangguk percaya.


"Sayang kamu disini dulu, aku ada urusan dengan Tio sebentar," pamit Abraham mengkode Tio untuk berbicara di ruangan Tio saja.


Tio pun langsung kabur dari tempat itu, dia tak ingin Arin bertanya macam-macam.


"Iya,"


"Kalau kamu bosen baca saja buku yang ada di sana, kamu juga bisa panggil Hendra kalau ingin sesuatu,"


Setelah berbicara seperti itu Abraham pun beranjak menuju ruangan Tio.


Di dalam ruangan Tio.


Tanpa basa-basi, Tio pun menjelaskan semuanya. Dia juga sudah membuat perusahaan milik keluarga Denis itu diambang kebangkrutan.


Abraham begitu senang mendengar semuanya.


Setelah mengatakan semuanya itu, Tio pun pamit karena dia masih ada urusan lagi.


B E R S A M B U N G....