
Abraham pun pulang dengan wajah lesu. Setelah memarkirkan mobilnya diapun masuk menuju kamar miliknya. Di sepanjang jalan beberapa orang art heran melihat tuan nya yang tak seperti biasanya. Mereka hanya diam menunduk tak berani menegur Abraham.
Pak nan yang melihat Abraham dari kejauhan pun merasa ada sesuatu yang sudah terjadi kepada tuannya itu, pak nan yakin itu bukan sesuatu yang kecil karena dia sudah tahu bagaimana Abraham perangai sedari dulu.
Ya pak nan sudah bekerja di sini dan ikut merawat Abraham sedari Abraham masih sekolah kelas 4 SD. Pak nan juga tahu bagaimana sedih dan terpukulnya Abraham sewaktu di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya.
"Tuan apa ada yang membuat mu sedih," guman Pak Nan memandang dari jauh ketika Abraham berjalan menaiki anak tangga.
Pak Nan menatap punggung kekar itu menjauh darinya dengan pandangan sedih.
Pak nan pun menuju ke dapur, dia berdoa semoga tuannya itu baik-baik saja dan bisa mengatasi semuanya.
Tap tap tap tap tap....
Langkah kaki Abraham begitu berat menapaki tangga satu persatu.
Ceklek.....
Abraham menatap sang istri yang terlelap tidur dengan mendekap baby Andra.
Abraham pun menuju kamar mandi, menguyur tubuh lelahnya dengan air hangat.
Di dalam kamar mandi, Abraham menumpahkan tangis kesedihannya di bawah guyuran shower.
"Hah kenapa aku bisa lupa kalau kemarin aku sudah menerima semua hasil laporan dari Danu, ya aku harus mencari amplop coklat itu," guman Abraham teringat sesuatu yang di berikan oleh anak buahnya.
Dengan cepat Abraham menyelesaikan mandinya, dia melilitkan handuk di pinggang. Wajah nya sudah terlihat lebih segar.
Ceklek....
"Sayang baru pulang?" Tanya Arin sambil mengucek mata nya.
Berkali-kali Arin menguap tanda dirinya masih mengantuk. Arin melirik jam yang ada di dinding menunjukkan pukul 11 malam.
"Kenapa kamu bangun? Apa aku menganggu tidurmu?" Bukannya menjawab justru Abraham malah bertanya kepada sang istri.
Abraham mengusap lembut rambut sang istri.
"Tidak, sana ganti baju dulu biar tidak masuk angin," Arin mendorong kecil Abraham untuk segera berganti baju.
Abraham berjalan cepat menuju ruang ganti, dia memilik kaos oblong dan celana pendek. Setelah itu dia kembali menemui sang istri.
Abraham duduk di ranjang dekat sang istri. Tiba-tiba Abraham menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri.
Arin kaget, namun dengan cepat dia memahami kalau sang suami tak baik-baik saja. Arin mengelus kepala sang suami dengan penuh kelembutan, Arin memilih diam, dia tak ingin mendesak berbagai macam pertanyaan kepada sang suami, dia hanya ingin suaminya itu nanti berbicara sendiri sendiri kepada nya.
Biarlah Abraham merasa tenang terlebih dahulu, Arin bisa melihat begitu rapuhnya suaminya itu saat ini.
"Apakah dia tak sayang kepada ku," racau Abraham.
Deg...
'Apa maksud suamiku?' batin Arin.
Arin masih diam tak menyahut, dia terus membelai rambut Abraham dengan lembut. Abraham mendekatkan wajahnya ke perut Arin seolah sedang mencari kenyamanan.
"Saat aku akan lulus kuliah, aku tahu kedua orang tua ku kecelakaan rasanya dunia ku seakan runtuh. Aku berusaha tegar dan hidup dengan tertatih-tatih berdiri di kaki ku sendiri, menjadi anak tunggal membuatku tak bisa berbagi kesedihan dengan siapapun. Keluarga Papa dan mama telah tiada semua, aku sebatang kara di dunia ini. Cuma pak nan yang dari dulu menemaniku," Abraham dengan jelas menceritakan kehidupan nya dulu.
Arin masih diam mendengarkan Abraham meluapkan isi hatinya. Dia akan menjadi pendengar yang baik untuk sang suami.
"Kemarin anak buahku memberi kabar telah melihat mama berada di salah satu pusat pembelajaan di kota ini, awalnya aku ragu namun setelah ku suruh menyelidiki semuanya ternyata yang di makamkan dulu itu bukan Mama. Sekarang kenyataan kalau mama masih hidup membuatku senang sekaligus sedih," Abraham menerawang ingatannya kembali saat bertemu dengan sang mama tadi.
Mendengar cerita sang suami, Arin mengerutkan keningnya, dia binggung.
"Mama tak mengenaliku lagi," lirih Abraham membuat Arin ikut merasakan kesedihan.
Arin tak tahu harus berbicara apa, dia hanya bisa menghibur sang suami.
"Ssstttt.... Sekarang aku ada di sini bersama mu," Arin mengengam tangan sang suami dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih sayang," lirih Abraham.
Deg... Arin kaget dia tak menyangka sang suami yang biasanya terlihat tegas berwibawa saat ini begitu terpukul.
Abraham meneteskan air matanya. Arin tersentak ketika merasakan paha miliknya basah.
"Hiks hiks hiks hiks hiks jangan pernah tinggalkan aku," lirih Abraham mendongak menatap wajah cantik istrinya, wajah yang memberikan dia kedamaian, kasih sayang dan ketulusan.
Arin mengelengkan kepalanya, dia tersenyum manis. Arin menghapus sisa air mata di pipi Abraham.
"Aku akan selalu ada di sisi mu, di mana pun kamu berada,"
Abraham begitu lega setelah meluapkan isi hatinya kepada sang istri.
"Ayo kita tidur, ini sudah malam," ajak Arin.
Arin pun berdiri, dia berniat memindahkan baby Andra dari ranjang ke tempatnya, dia tak ingin baby Andra terusik tidurnya. Tak lupa Arin memasang kelambu.
Arin pun naik ke ranjang, dia merapikan selimut sang suami setelah itu dia berniat menutup matanya untuk tidur.
"Sayang..." Panggil Abraham.
"Hmm...." Arin menyahut dengan mata masih terpejam.
"Aku ingin berbicara satu hal penting lagi, tetapi ku mohon jangan marah kepadaku karena aku binggung harus berbicara jujur atau menyimpan nya sendiri karena aku takut kesehatan mu terganggu karena kabar ini," jelas Abraham.
Deg...
'Apa yang di katakan suamiku, kenapa aku menjadi takut' batin Arin.
Arin membuka matanya, mendengar ucapan sang suami membuat pikiran buruk langsung muncul di benaknya.
'Apakah suamiku selingkuh atau mencintai wanita lain,'
Arin menoleh menatap wajah sang suami.
"Katakan lah..... Aku tak akan marah justru meskipun pahit tetapi aku hargai kejujuran mu ini, aku siap mendengarkan nya," jawab Arin mantap.
"Se-sebenarnya Tio ada di rumah sakit," Abraham mengengam tangan sang istri, dia ingin melihat reaksi sang istri.
Deg...
"Ha kenapa Tio bisa di rumah sakit?" Ternyata firasat Arin dan bunda sedari benar, sesuatu telah terjadi dengan Tio.
"Tadi aku mendapat telephon dari Bimo kalau Tio tertembak dan dia sedang di operasi...." Belum selesai berbicara Arin sudah menyela.
Arin langsung duduk dan menggoyangkan lengan Abraham.
"Hiks hiks hiks hiks hiks bagaimana bisa? Terus sekarang bagaimana kondisi Tio?" Arin menangis membayangkan sang adik terbaring tak berdaya karena tertembak.
"Ssttt ... Sekarang dia baik-baik saja, tenang jangan menangis, besok kita akan menjenguk dia di rumah sakit, sekarang ada Rio yang menemani dia di sana," bujuk Abraham.
B E R S A M B U N G...