Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 74


Arin pun terbangun terlebih dulu, Arin mengeliat melepaskan tangan Abraham yang masih memeluk erat dirinya.


Arin tak menyangka sang suami membelikan dirinya baju kurang bahan seperti itu. Arin menghela nafas panjang, melihat suami nya masih tertidur pulas.


"Dasar pak tua mesum, bisa-bisa nya dia membelikan aku baju sekodi model seperti itu semua," sungut Arin kesal saat melihat isi paper bag yang berjejer di kamarnya.


Sedangkan Abraham sudah terbangun tetapi dia diam saja ketika mendengar sang istri menggerutu kesal.


Arin pun mengerakkan tubuhnya untuk turun dari ranjang.


"Mau kemana sayang," suara Abraham membuat Arin terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Mas lepasin, aku mau mandi," kata Arin saat Abraham yang menarik tangannya dengan cepat sehingga Arin ambruk di pelukan Abraham lagi.


"Tidak, aku masih ingin seperti ini," bisik Abraham dengan suara seraknya. Abraham mengeratkan pelukannya.


"Tetapi mas, ini sudah pagi dan aku harus masak. Aku tak ingin tidur lagi bisa-bisa aku encok tak bisa bangun karena kelelahan," kesal Arin mengigat kegiatan semalam.


"Sayang pikir, aku mau ngapain?" Tanyanya kepada sang istri.


"He he he he he ku kira mas ngajak bercocok tanam lagi," cengir Arin merasa malu memalingkan wajahnya.


Pletak.....


"Aaauhhhh sakit mas," lirih Arin mengusap keningnya yang sakit akibat di sentil sang suami.


"Siapa yang ngajak bercocok tanam, eh kalau sayang masih mau lagi, aku siap kok," kata Abraham dengan senyum mesum nya menarik turunkan alisnya.


"Dasar mesum," cibir Arin setelah itu dengan cepat dia turun dari ranjang.


"Mau kemana?" Tanya Abraham memastikan.


"Mandi," jawab Arin singkat.


Abraham melompat dari ranjang, dengan cepat dia mengendong Arin, sontak Arin mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Kita mandi bersama," bisik Abraham.


Arin memutar bola matanya malas, dan benar saja setelah sampai di kamar mandi semua sesuai dengan pikiran Arin.


***


Setengah jam kemudian...


Arin sudah siap di meja makan, dia mengambil makanan terus di taruh di piring milik Abraham.


"Terimakasih sayang," kata Abraham tersenyum manis.


"Jangan senyum-senyum nanti semua art terpesona," cibir Arin kesal melihat Abraham tersenyum saat lima art masih berada di sana.


Abraham memberi kode untuk menyuruh semuanya pergi, sedangkan para art tersenyum melihat nyonya mereka cemburu.


"Aduh manis nya istriku kalau cemburu," kata Abraham menggoda Arin.


Arin berpura-pura cuek untuk mengurangi rasa malunya, dia asyik menikmati makanan nya, Abraham memandang wajah cuek istrinya yang merajuk karena nya.


"Sayang nanti siang, kamu ke kantor ya bawakan aku makan siang," pinta Abraham.


Arin mendongak menatap Abraham setelah itu dia mengangguk.


Biar nanti Bimo yang antar kamu kesana, Arin pun mengangguk untuk kedua kalinya karena mulutnya masih mengunyah makanan.


Baik Abraham maupun Arin pun selesai sarapan pagi, Abraham pun berpamitan dengan sang istri untuk berangkat bekerja.


Abraham mengecup kening Arin cukup lama, entah kenapa dirinya engan berpisah dengan sang istri. Setelah itu Abraham memasuki mobil, setelah itu mobil meninggalkan kediaman mereka.


Deg...


Entah kenapa tiba-tiba perasaan Arin tak enak.


Arin memandang ke arah mobil yang telah menghilang dari pandangannya, ada kata yang tak bisa dia jabarkan, entahlah tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang akan menjauhkan diri nya dari sang suami.


Arin pun masuk ke dalam menepis semua perasaan tak enak di hatinya.


Di luar gerbang mansion.


"Target berada di rumah sendirian, satpam 2 dan 6 art , 1 kepala pelayan dan 3 bodyguard termasuk saya," lapor orang itu kepada seseorang di sebrang sana.


"Kita bergerak nanti siang setelah target keluar rumah, karena kita tak mungkin bergerak sekarang, aku tak ingin mengambil resiko, terus pantau dan laporkan ke pada ku," jawab seseorang di sebrang sana.


"Siap bos, beres," setelah itu panggilan pun terputus.


Orang itu memandang ke arah jendela.


Prok prok prok prok prok prok....


Mendengar tepuk tangan dari belakang membuat pria tampan itu menoleh.


"Tak ku sangka kamu bergerak cepat, ku kira kamu lupa dengan wanita murahan itu," ejek Veli.


"Tutup mulut kotor mu itu, daripada kamu ikut campur urusanku lebih baik kamu urusi saja rumah tangga mu dengan Jo," sindir William.


Sejak rencana kemarin gagal, William pun memecat Veli karena William semakin muak dengan Veli yang terus merayu nya dan menjelekkan Arin di depan nya. Apalagi pekerjaan Veli tak ada satu pun yang beres.


"Aku ke sini ingin melihat dirimu, bagaimana kabar mu sayang," kata Veli mencoba mendekati William.


"Berhenti di sana," ancam William.


"Apa hak mu melarang ku," tantang Veli.


"Hei kamu lupa, aku sudah memecat mu dari sini.... Kenapa kamu kembali lagi ke sini?" Sinis William.


Veli tak menghiraukan ucapan William, dia tetap mencoba mendekati William.


Tit....


"Cepat kamu suruh satpam ke sini, usir wanita yang ada di ruangan ku," perintah William kepada sekertaris baru nya melalui sambungan telepon.


Tak lama satpam pun muncul di ruangan William, mereka menyeret Veli keluar.


"Hei lepaskan aku,"


"Awas kamu William,"


"Tunggu pembalasanku,"


Tak henti-hentinya Veli berteriak histeris di seret paksa.


Siang hari.....


Arin sedang berdiri di depan cermin memandang baju dan riasan wajahnya. Arin ingin tampil cantik di depan sang suami.


Arin pun turun ke bawah, menuju dapur. Arin mengambil kotak makan dan menghias nya begitu cantik.


Arin tersenyum keluar menuju garasi dengan menenteng bekal untuk Abraham.


"Mari nyonya saya antar," tawar Bimo.


Arin mengangguk, dia masuk ke dalam mobil.


"Bimo apa ada air putih di sini, tiba-tiba aku haus," tanya Arin kepada Bimo. Sedangkan Doni tak melirik ke belakang, dirinya fokus menyetir.


"Ini nyonya," Tomi dengan cepat memberikan air mineral yang kemasannya masih tertutup.


Arin meneguk minuman itu dengan cepat untuk menghilangkan dahaga.


Arin menyandarkan kepalanya di kursi, entah kenapa kepalanya terasa pusing setelah meminum pemberian Tomi.


Bimo terdiam, dia berfikir istri tuannya itu hanya mengantuk.


Citttt..... Doni mengerem mendadak membuat Bimo kaget.


"Hei kamu bisa tidak bawa mobil," bentak Bimo kesal karena kaget.


Arin masih tertidur, untung saja Arin tak terbentur.


"Diam Lo, lihat depan seperti nya kita di kepung," kata Doni melihat depan dan di belakang sudah di kepung 3 mobil.


"Kalian jangan sampai keluar dari mobil, kalian tenang saja mobil kita anti peluru," perintah Bimo.


Tanpa di duga Tomi membuka pintu depan.


"Hei Tomi..." Teriak Bimo tak di hiraukan nya. Bimo maupun Doni saling berpandangan memberi isyarat.


Prok prok prok prok prok


"Keluar kalian," titah Tomi.


Bimo maupun Doni menyergit heran, keduanya tiba-tiba mempunyai firasat tak enak.


"Kalian rusak mobil itu dan lawan mereka berdua," perintah Tomi kepada semua anak buah yang dia bawa.


Bruk....


Brakkk...


Pyarrr....


Doni maupun Bimo pun akhirnya paham, ternyata selama ini Tomi berpihak kepada William.


Mobil di rusak oleh orang suruhan William, sedangkan Doni dan Bimo bertarung melawan 12 orang.


Bug bug bug bug bug...


Hos hos hos hos...


Bimo dan Doni kalah jumlah membuat keduanya ambruk meskipun begitu keduanya berhasil melumpuhkan 8 orang. Kalau saja Tomi tidak memukul punggung mereka berdua tentu mereka bisa menang.


Bimo maupun Doni sudah terkapar pingsan di jalan.


B E R S A M B U N G....


LIKE LIKE