
Keesokan harinya....
Pagi-pagi Tio sudah berada di dalam markas, dia langsung berjalan menuju ke ruangan di mana tempat Wilson berada.
Tap tap tap tap tap tap....
Mendengar suara langkah kaki membuat wilson mendongak menatap kearah tio berada.
"Cih mau apa kamu datang ke sini," sinis Wilson menatap kesal ke arah Tio.
"Ha ha ha ha ha ha ha, aku datang ke sini ingin melihat mu saja. Apakah kamu nyaman berada di sini?" Kata Tio menatap Wilson dengan mengelengkan kepalanya.
"Jangan banyak omong," bentak Wilson penuh emosi.
Beberapa anak buah tio hanya memantau mereka dan tak berani ikut campur, mereka memilih diam.
"Apa yang membuatmu tega menculik kakakku dan anaknya?" Bentak Tio.
"Semua ini karena Abraham itu," jawab Wilson meluapkan emosi nya.
"Ck apa maksud mu? Kenapa kamu melibatkan kakak ku?" Kata Tio kesal.
'Apa orang ini musuh lama keluarga kak Abraham,' batin Tio bertanya-tanya.
"Ha ha ha ha ha ha ha, kamu bisa tanyakan mengapa aku menculik mereka kepada tuan Abraham, kamu jangan lupa tanyakan juga pada tuan mu itu alasan apa yang membuat dia tega membunuh teman atau sahabat nya sendiri yang tak lain adalah kakak angkat ku," jawab Wilson di awali tawa namun dengan di akhiri dengan raut wajah sedih.
Tio melotot, dia menatap ke arah Bimo yang tak jauh dari sana untuk mencari jawaban namun Bimo terdiam tak menjawab. Tio pun kembali menatap ke arah Wilson.
"Siapa kakak angkat mu itu? Terus apa hubungannya dengan kak Arin?" Bentak Tio karena kesal pria di depannya seolah-olah bermain teka-teki. Dia pun mencengkram erat kera baju Wilson namun Wilson bukannya menjawab justru dia tertawa, menertawakan tingkah Tio saat ini.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha,"
Tio mengerutkan keningnya kala melihat pria itu justru terus tertawa.
'Apa pria ini tidak waras,' batin Tio.
"Aku beritahu kamu, dengarkan aku baik-baik. Nama kakak angkat ku adalah Wiliam!! Kamu pasti kenal nama itu kan? Tentu saja kamu pasti kenal? Dia adalah kakak angkat ku dan asal kamu tahu kalau kakak ipar mu itu telah membunuh kakak angkat ku yang tak lain adalah kekasih istrinya yang dulu. Berkali-kali dia telah merebut pacar kakak ku, dia kedua kaki merebut kebahagiaan Kakak ku, dulu dan setelah itu dia merebut kakak mu dari kakak ku, harusnya kak William yang menikah dengan Kakak mu dan hidup bahagia tetapi justru dia tewas dengan mengenaskan dan semua itu ulah Abraham," jelas Wilson panjang lebar dengan berteriak meluapkan semua yang ada di hati dan pikirannya saat ini.
Setiap kali mengingat semuanya, Wilson selalu sedih, Wilson masih ingat semua perkataan kakaknya waktu itu. Ya meskipun dulu dia masih anak SMA yang tak pernah ikut campur urusan kakak nya namun dia ikut sedih mengetahui semua cerita dari William.
Degh...
Degh...
Tio mundur beberapa langkah ke belakang, tubuhnya terhuyung tak kuat menerima kabar itu, dia tak menyangka. Ya William... Tio cukup akrab dengan nya dulu, namun tiba-tiba alasan apa yang membuat William meninggal Tio tak tahu.
'Apa benar kak Abraham membunuhnya?' batin Tio bertanya pada dirinya sendiri.
"Bos....."
Salah satu anak buahnya menangkap tubuh Tio yang hampir terjerembab ke lantai.
"Bos..." Ucap nya lagi karena tak mendapatkan respon dari Tio.
Tio masih bergeming, dia menatap ke arah Bimo namun Bimo mengelengkan kepalanya ke arah Tio.
"Ha ha ha ha ha ha, aku tahu kamu pasti bohong. Kamu ingin mengadu domba keluarga ku kan, ck sungguh aku tak menyangka kamu berbicara bohong seperti itu hanya ingin membuat ku benci dengan kakak ipar ku. Asal kamu tahu kalau kak Abraham tidak akan berbuat seperti itu tanpa ada alasan," kata Tio menatap iris mata Wilson dengan tajam.
"Aku tidak membunuh William,"
"Dia meninggal karena tertabrak mobil dan itu bukan kesalahan ku atau anak buah ku. Itu murni kecelakaan,"
Terdengar suara dengan nada berat nan dingin membuat siapapun di sana ikut menoleh.
Tap tap tap tap tap tap...
Deg...
"Kak Abraham," guman Tio dengan suara pelan.
"Aku cuma memperingatkan dia, aku tidak membunuhnya meskipun dia telah menculik Arin yang tak lain ibu dari anakku,"
Tio memilih diam tak berani ikut campur, sedangkan Wilson ingin mendengar semua ucapan Abraham
"Coba katakan apakah aku salah mempertahankan ibu dari anakku? Apakah kamu rela wanita yang telah melahirkan anak mu justru Menikah dengan pria lain? Kalau kamu rela maka akan ku carikan suami untuk istrimu itu, oh ya dan ayah baru untuk anak mu," kata Abraham menyeringai.
"Ah pasti senang mendengar kalau anak kamu memanggil pria lain dengan sebutan PAPA," kata Abraham tersenyum meremehkannya.
Wilson melotot mendengar ucapan dari Abraham.
"Tidaaaak jangan sentuh istri dan anakku, mereka tidak salah apa-apa," kata Wilson memohon. Dia meronta-ronta ingin melepaskan diri dari kursi itu.
Abraham menatap sekeliling, paham akan hal itu Bimo dengan cepat tanggap meraih kursi kayu untuk Abraham duduk.
Abraham pun mendudukkan dirinya di kursi itu, kakinya di tekuk bertumpu pada satu kaki.
"Aku tahu kakak mu tak benar-benar tulus mencintai anakku, jadi aku tidak ingin melihat anak ku menderita terlebih lagi Arin tak mencintai William jadi salah ku di mana?" Tanya Abraham dengan gaya santai nya.
"Kamu pasti bohong, aku tahu kalau kak William begitu tulus mencintai Arin dan kedua anaknya," bantah Wilson.
"Ha ha ha ha ha ha ha, kamu terlalu naif mempercayai ucapan dari Wiliam. Asal kamu tahu William, dengar baik-baik.... Orang yang kamu anggap baik itu, dia yang sudah membuat kedua orang tua mu meninggal adalah William," kata Abraham tersenyum meremehkannya.
"Tidak kamu pasti bohong. Tidak mungkin kak William berbuat jahat seperti itu,"
Wilson mengelengkan kepalanya, dia tak mempercayai ucapan Abraham saat ini. Bisa saja Abraham berbohong kepada nya.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, kamu terlalu naif atau lebih tepatnya B O D O H," kata Abraham di sertai penekanan di akhir ucapan nya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks,"
Wilson menangis, dia mengelengkan kepalanya tak percaya.
"Dulu saat kami masih SMP, kami pernah terlibat pertengkaran dengan anak sekolah lain, kami pun berlari kabur meninggalkan tempat itu karena ada petugas datang. Kami berpencar, saat kabur itulah Wiliam mengendarai motor dengan kencang dan menabrak sepasang suami istri yang sedang mengendarai motor tua, mungkin karena takut William pun kabur," kata Abraham menjelaskan kronologi kejadian waktu itu.
"Dari mana kamu tahu semua itu?" Kata Wilson.
"Aku baru tahu saat aku mencari data tentang mu," jawab Abraham cuek.
"Tetapi bagaimana bisa? Aku saja tidak tahu," Wilson masih bimbang antara percaya dengan tidak.
"Ayo Tio kita pulang, pasti kakak mu sedang masak makanan kesukaan kita," bukannya menjawab pertanyaan dari Wilson justru Abraham malah mengajak Tio yang masih terdiam menyimak untuk pulang cepat.
Abraham pun beranjak dari tempat dia duduk, dia pun berbalik hendak melangkahkan kakinya keluar.
"Hei tunggu jangan pergi, jelaskan pada ku apakah semua itu benar," Wilson berteriak memanggil Abraham.
Abraham pun berbalik menatap kearah Wilson setelah itu dia beralih menatap ke arah Bimo.
"Kamu bisa lepaskan dia, setelah ini dia tidak akan berani berbuat macam-macam kalaupun dia masih berbuat macam-macam aku tidak akan segan lagi padannya," kata Abraham di sertai ancaman.
Wilson tertegun mendengar ucapan dari Abraham.
" Jangan besar kepala aku membebaskan mu bukan karena aku berbelas kasih tetapi aku tidak ingin seorang anak kehilangan ayahnya,"
Setelah mengucapkan kata itu abraham berbalik dan memasuki meninggalkan tempat itu, di susul oleh Tio.
B E R S A M B U N G...