Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 90


Pagi hari di mansion milik Abraham terdengar suara riuh yang di sebabkan oleh sang putri.


Ya pagi-pagi Aurel menangis kencang karena gigi nya terlepas. Dia masih tak rela gigi susu miliknya lepas.


"Hiks hiks hiks hiks mama, gigi Aurel copot. Hiks hiks hiks hiks kalau copot nanti Aurel jelek giginya jadi ompong hiks hiks hiks hiks hiks," Aurel masih menangis sesenggukan di pangkuan Tio.


Setelah kemarin pergi ziarah, keluarga Arin masih menginap beberapa hari di sini. Untuk urusan nek Ijah, mereka tak perlu khawatir karena ada 2 orang yang menemani nya.


Ya Arin sengaja menyewa pengasuh untuk nek Ijah, itupun dengan saran dari sang suami karena tubuh nek Ijah sudah terlalu tua untuk di tinggal maupun diajak berpergian.


"Biar Aurel jelek," kata Abrian membuat Aurel mendelik sebal.


"Ha ha ha ha ha ha Aurel ompong," ledek Abrian menertawakan sang adik.


"Huaaaa Abrian nakal ma, masa dia bilang Aurel jelek," adu Aurel karena sang kakak yang tak henti-hentinya meledek dirinya.


Sedangkan Arin menghela nafas kelakuan 2 bocah itu, Arin pun menatap tajam Abrian memberi kode untuk diam.


"Hiks hiks hiks hiks ," Aurel masih menangis sesenggukan.


"Abrian ayo cepat berangkat ke sekolah," titah Arin.


Abrian pun bergegas berangkat ke sekolah di temani pengasuh dan supir.


"Sttttt cup cup cup cup jangan nangis kesayangan nya om Tio, Aurel masih cantik kok," bujuk Tio.


"Dek titip Aurel bentar, aku mau siapin keperluan suamiku bentar," pinta Arin.


Tio pun mengangguk setuju.


"Aduh cucu Oma pagi-pagi kok menangis, kenapa sayang?" Tanya bunda yang baru saja datang dari jalan pagi.


"Ini Bun, gigi nya lepas terus pagi-pagi nangis," jelas Tio.


"Hiks hiks hiks hiks hiks oma," Aurel pun berlari memeluk Oma nya.


"Cup cup jangan nangis sayang," pinta bunda.


"Tio cepat kamu siap-siap berangkat ke toko, oh ya Rio mana?" Tanya bunda karena cuma melihat Tio saja.


"Oh Rio mah biasa sudah ku suruh berangkat duluan ke toko, aku mau nenangin nih bocil yang mewek dari tadi jadi hati ini Tio tidak ke toko biar Rio saja yang urus," jawab Tio.


"Oh ya sudah kalau begitu, Oma mandi dulu ya sayang, kamu sama om Tio ya," pinta bunda melihat ke arah Aurel.


Aurel membrengut kesal.


"Kenapa semua ninggalin Aurel sih, apa gara-gara Aurel giginya ompong ya mereka takut dan lari semua, hiks hiks hiks hiks hiks," guman Aurel menghentakkan kakinya kesal tetapi masih dengan gaya cengeng.


"Pfffffttt......" Tio menahan tawa mendengar saat melihat tingkah si kecil Aurel yang mengemaskan itu.


"Di sini kan masih ada om Tio," kata Tio membuat Aurel tersenyum kembali.


'Hadeh nih bocah, baru saja mewek-mewek gara-gara giginya copot. Eh sekarang minta belikan coklat. Ck dasar bocil,' guman Tio di dalam hati.


"Aurel sayang nanti kalau kebanyakan makan coklat giginya bisa sakit terus copot lagi," bujuk Tio membuat Aurel kaget dan mengelengkan kepalanya.


"Ish Aurel gak mau gigi nya copot lagi, ya sudah deh om yuk main rumah-rumahan boneka yuk," pinta Aurel.


'Ha main Boneka, untung sayang kalau tidak sudah ku cubit,' batin Tio.


Dengan langkah malas Tio pun menuruti permintaan Aurel. Untuk membuat gadis kecil itu ceria lagi.


Sedangkan di dalam kamar.


"Sayang kenapa Aurel menangis?" Tanya Abraham kepada sang istri.


"Oh tadi giginya lepas jadi dia menangis dan bilang tidak mau ompong, ada-ada saja ya putri kita," jelas Arin.


"Terus sekarang bagaimana?"


"Lagi di urus sama Tio,"


"Sini biar aku benerin dasi kamu,"


Abraham pun menurut, sedangkan Arin dengan telaten memasangkan dasi untuk sang suami. Abraham tersenyum melihat wajah Arin yang serius membenarkan dasi nya.


Cup...


Setelah selesai, Abraham mendaratkan ciuman manis di dahi sang istri.


"Ayo kita turun," ajak Abraham mengandeng tangan sang istri.


Abraham dengan hati-hati menuntun sang istri turun dari tangga.


"Mas jangan lebay deh, aku seperti orang sakit saja di tuntun," Arin berusaha menepis tangan Abraham.


"Sudah jangan bawel seperti Aurel, aku ngeri saja lihat perutmu itu," jelas Abraham.


"Ish mas ini baru 5 bulan, belum begitu besar ,"


Sesampainya di rruang makan.


"Mana Aurel?" Tanya Abraham mengedarkan pandangannya ke ruangan tengah.


Ha ha ha ha ha ha..... Tawa Aurel dan Tio bersamaan, entah apa yang mereka tertawakan.


Abraham pun memandang ke arah ruang bermain, ternyata Aurel berada di sana bersama Tio, Abraham sengaja mendesain dinding ruang bermain itu dengan kaca sehingga semua kegiatan bermain dapat terlihat. Hal itu memudahkan untuk Arin mengawasi mereka.


B E R S A M B U N G.....


LIKE LIKE LIKE LIKE