
"Tuan bagaimana kondisi anda dan nyonya beserta si kembar?" Tanya Bimo secara beruntun karena merasa cemas.
"Kamu bisa lihat sendiri," jawab Abraham singkat.
"Bimo kamu lihat ke dalam, pastikan tidak ada satupun yang terlewat dan kamu jangan lupa bawa Wilson ke markas. Tadi aku hanya membuatnya pingsan tidak sampai bertemu William," kata Abraham menatap Bimo dengan penuh ketegasan.
"Baik tuan," jawab Bimo.
Semua anak buahnya sudah berangsur pergi, tak lupa membawa semua tawanan mereka ke markas.
"Kak Arin bagaimana? Apa tidak ada yang terluka?" Tanya Tio karena khawatir dengan kakaknya.
"Alhamdulillah kakak baik-baik saja," jawab Arin menatap sang adik dengan kasih sayang.
Tiba-tiba terdengar tangis dari bibir mungil itu membuat Abraham, Arin, Tio, dan Abrian menoleh. Arin dan Abrian menatap gadis kecil itu dengan menghela nafas panjang, keduanya ingat bagaimana kelakuan gadis kecil yang imut itu, ada juga yang menatap penuh kasih sayang dan kasihan siapa lagi kalau bukan Tio sedangkan Abraham menatap sang putri dengan sendu karena rasa bersalah, dia terlambat datang sehingga putrinya ketakutan.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks..."
'Pasti kamu tadi sangat ketakutan di kurung di ruangan tadi,' batin Abraham menatap sendu ke arah putrinya itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, om Tio...." Aurel meminta turun dan berlari ke pelukan Tio secepat mungkin.
"Cup cup cup cup cup.... Sudah jangan menangis kesayangan nya om tio, kalau urusan penjahat tadi tenang saja karena semua penjahat sudah om Tio basmi bersama pasukan pembela Putri Aurel," kata Tio mencoba menenangkan Aurel.
"Wah om Tio hebat," jawab Aurel berbinar, dia dengan cepat mengacungkan jempol nya.
"Tentu dong om Tio kan keren," jawab Tio dengan bangga.
Arin dan Abraham berjalan meninggalkan Tio dan Aurel, Arin berjalan bergandengan tangan dengan Abraham dan Abrian dengan posisi Abrian di tengah mereka.
"Pa tadi Aurel di sana buat ku malu pa," Abrian membuka mulutnya, mengadukan bagaimana kelakukan sang adiknya tadi.
"Lho bukannya Aurel menangis ketakutan?" Tanya Abraham penasaran, apa saja yang terjadi kepada ketiganya selama berada di dalam sana tadi.
"Issshhhh.... Itu tadi setelah tahu kalau dia di culik baru nangis," jawab Abrian cepat.
Abraham melirik ke arah sang istri, seolah tatapan matanya meminta penjelasan.
"He he he he he he he, mas tanya saja sama Abrian. Aku lelah," jawab Arin karena dia engan menjelaskan kejadian tadi, dia lelah berbicara panjang lebar.
Tadi malam Arin bergadang karena Andra begitu rewel tidak mau tidur dan terus mengoceh membuat Arin harus ikut bergadang, terus pagi ini dia di culik dan harus memenangkan sang putri yang merengek dan menangis membuat tubuhnya begitu lelah.
Dari belakang muncullah Tio sambil mengendong Aurel.
"Kak, Aurel minta es krim jadi biarkan dia ikut bersama ku. Aku ingin mengajaknya membeli es krim," pinta Tio kepada Abraham.
"Iya tidak apa-apa, titip Aurel! Oh ya..... Jangan lupa bilang ke Aurel untuk tidak berbicara hal ini kepada bunda, aku takut bunda cemas dan kaget," jawab Abraham tak lupa memberitahu Tio apa yang mengganjal di pikirannya sedari tadi.
"Siap kak," kata Tio singkat.
Setelah itu baik Tio maupun Abraham masuk ke dalam mobil masing-masing.
"Pa..." Panggil Abrian.
Sedangkan Arin sudah memejamkan matanya, dia sudah merasa aman sehingga dengan cepat dia sudah tertidur pulas.
"Hmmm..." Jawab Abraham sambil menatap ke arah jalanan.
"Tadi aku belum selesai cerita bagaimana kelakuan Aurel yang bikin pusing dan malu aku di sana," kata Abrian dengan cemberut.
"Ha ha ha ha ha ha, maaf papa lupa. Ya sudah jangan cemberut lagi, papa ingin dengar kamu bercerita tentang adik kamu selama di culik tadi," kata Abraham.
"Tadi Aurel ngambek nangis minta makan ayam goreng membuat om botak yang menjaga kami kesal, ha ha ha ha ha kalau papa lihat muka om botak tadi lucu sekali," Abrian tertawa mengingat wajah penjaga tadi yang kesal bercampur frustasi mendengar tangisan adiknya tadi.
"Ha masa adik kamu di sana minta makan?" Tanya Abraham memastikan kelakuan anak perempuan nya tadi.
"Iya pa benar,"
Abraham mengelengkan kepalanya mendengar kelakuan anaknya yang memalukan, menangis karena minta ayam goreng.
"Tadi itu setelah makan, Aurel kan ngantuk terus bobok di pangkuan mama tetapi saat tadi mama keceplosan bilang kalau kita di culik Aurel dengar dan menangis, huuuu.... Jadi tuh putri cerewet papa menangis lagi, untung telingaku gak sakit dengan suara cemprengnya tadi," keluh Abrian menceritakan kelakuan adiknya tadi selama di sana.
"Mama pasti capek dari tadi bujuk Aurel dari tadi," lirih Abrian menatap ke arah belakang, ke arah sang mama yang tengah tertidur lelap di belakang.
"Biarkan mama tidur, oh ya sayang nanti kalau sudah sampai rumah jangan bilang ke Oma kalau kalian di culik, papa takut Oma kaget atau langsung sakit kalau mendengar cucu kesayangan nya di culik," jelas Abraham meminta pengertian dari sang anak.
Abraham menatap ke arah sang anak meminta penjelasan.
"Iya pa, Abrian ngerti kok," jawab si kecil seolah paham apa yang di takutkan oleh sang papa.
B E R S A M B U N G....