Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 67


Di ruang kerja milik Abraham.


Abraham menatap langit-langit kamarnya.


"Aku cuma kasih peringatan kecil karena kamu adalah pengasuh anakku, semoga setelah ini kamu sadar," lirih Abraham.


Kalau tidak memandang sang istri dan anaknya, pasti nasib mbak Tina akan lebih mengenaskan di tangan dirinya langsung.


Seketika Abraham teringat dengan Arin dan kedua anak nya.


"Apa yang akan ku bilang sama Arin?" Guman Abraham memikirkan apa yang akan di katakan dengan istrinya nanti.


Abraham pun mengetikkan pesan kepada Bimo. Dia telah menyusun berbagai rencana di pikirannya.


Sedangkan di kamar Bimo masih merenung.


"Tumben tuan Abraham berlaku biasa saja, biasanya perempuan yang sengaja menyinggung dia akan berakhir di tempat mami Sarah atau paling tidak dia akan berakhir di rumah sakit jiwa karena perusahaan miliknya bangkrut," lirih Bimo dengan menjadikan tangannya sebagai bantal kepalanya.


Tring.... Bunyi pesan masuk dari ponsel milik Bimo.


Bimo menyergit kala membaca pesan tadi.


"Katakan kepada Doni supaya pagi-pagi buta dia mengajak pergi mbak Tina, aku tidak ingin istri dan kedua anakku curiga. Tenang saja karena aku sudah siapkan hunian untuk mereka tinggali dan kamu tekankan kepada Doni, agar istrinya itu sadar dan tidak berani berbuat macam-macam atau aku tidak akan berbelas kasih lagi," isi pesan dari Abraham.


Glekk.... Bimo menelan ludah melihat bagaimana isi pesan itu. Tubuhnya langsung merinding karena dia tahu bagaimana kejamnya Abraham, dia tahu tuannya tidak akan berbelas kasihan kepada musuh-musuh nya.


Tetapi sejak ada istrinya, tuan Abraham seolah berubah lebih baik atau lebih manusiawi dari biasanya.


"Ah sudahlah lebih baik aku tidur lebih awal," guman Bimo cuek terus memejamkan mata nya menuju alam mimpi.


☘️☘️☘️


Sedangkan Arin baru saja turun dari mobil, Arin aneh melihat suasana mansion mewah ini sepi tidak seperti biasanya.


Arin melihat pergelangan tangan nya.


"Baru jam 20.00 kenapa sudah sepi," guman Arin tetapi masih di dengar oleh bunda.


"Kemana perginya semua orang?" Tanya Arin menyorot satu persatu ruangan.


"Entahlah nak, mungkin mereka sudah pergi tidur, atau nak Abraham belum pulang," jawab bunda.


"Bunda ngantuk," kata Abrian berkali-kali mengucek mata nya.


"Hoaaammm..." Aurel menguap berkali-kali.


Tap tap tap tap tap tap.... Terdengar langkah kaki menggema ke arah mereka.


"Maaf nona saya tidak tahu kalau nona sudah datang," kata pak nan menunduk.


Arin sengaja tak ingin di panggil nyonya, dia merasa masih muda tak pantas panggilan itu.


"Bunda ke kamar dulu," pamit Bunda kepada Arin. Bunda kasihan melihat kedua cucunya sudah mengantuk.


"Ayo cucu-cucu Oma kita ke kamar," ajak bunda ke pada kedua bocah kembar itu.


Abrian maupun Aurel mengangguk patuh, mereka mengikuti langkah sang Oma menuju kamar nya.


"Pak nan kenapa sepi?" Tanya Arin pasalnya tak melihat siapa pun, bahkan mbak Tina tak menyambut kedatangan mereka.


"Tuan ada di ruang kerjanya, sedangkan yang lain ada di paviliun belakang sedang beristirahat," jelas pak nan.


"Oh saya kira suami saya masih belum pulang," guman Arin.


"Bagaimana kalau saya bawakan belanjaan anda," tanya pak nan.


"Oh ini," tunjuk Arin kearah barang belanjaannya.


"Iya nona," jawab pak nan.


"Ini tolong taruh di dapur," Arin memberikan 2 kantong plastik besar berisi kebutuhan dapur.


Setelah itu Arin menuju ruang kerja sang suami yang berdekatan dengan kamar pribadi milik mereka.


"Mbak Tina kemana?" Tanya bunda saat berpapasan dengan Arin di tangga.


"Lho biasanya juga di kamar si kembar," jawab Arin. Bunda menjawab dengan gelengan kepala.


"Tidak ada, ahhh.... Mungkin ada di di kamar nya Bun," jelas Arin tak menaruh curiga pasal nya hari sudah malam, Arin berfikir mbak Tina sedang tertidur pulas.


"Kalau begitu biar bunda temani anak-anak takut mereka rewel karena lelah," kata bunda, setelah itu bunda kembali ke kamar cucunya.


Arin pun sampai di depan pintu kamar nya.


Ceklek...


Arin pun membuka pintu kamarnya, dia menaruh tas di atas kasur, dia berjalan menuju kamar mandi.


Arin menguyur tubuh nya dengan air hangat untuk meredakan rasa lelah di tubuhnya.


"Na na na na na na na na....." Arin bersenandung kecil sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.


Sedangkan di ruang kerja, Abraham samar-samar mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.


"Akhirnya kamu pulang sayang," lirih Abraham girang.


Abraham tersenyum menyeringai. Dengan semangat Abraham berdiri dari kursi kerja nya, dia bergegas menuju kamar mandi. Abraham tersenyum senang karena pintu penghubung tak di kunci Arin.


'Yes akhirnya bisa masuk juga,' guman Abraham dalam hatinya. Dia sudah tak sabar ingin mendekap Arin.


Ceklek...


Abraham memasuki kamar, wangi sabun sampai tercium dari kamar mereka.


Dengan cepat Abraham melepaskan pakaiannya.


Abraham menuju pintu kamar, dia berharap pintu tak di kunci Arin dari dalam. Wajah Abraham harap-harap cemas, memikirkan nasib alat bercocok tanam nya.


Ceklek.... Wajah Abraham langsung cerah saat mengetahui kalau pintu tak di kunci.


Greepp...


Abraham langsung memeluk Arin, Arin tersentak kaget saat tiba-tiba dirinya di peluk seseorang dari belakang.


Deg...


Arin menoleh cemas takut orang lain masuk ke dalam kamarnya.


"Ish kirain tadi siapa sayang?" Rajuk Arin saat mengetahui ternyata Abraham yang ada di belakangnya.


Abraham tersenyum hangat saat melihat Arin kaget karena ulahnya.


Abraham pun memeluk Arin.


"Lepasin, aku mau mandi," kesal Arin karena Abraham menempel padanya tak membiarkan dia mandi dengan tenang.


"Sayang ayo kita buat adik buat si kembar," bujuk Abraham.


"Dasar mesum," kesal Arin karena tangan nakal milik sang suami.


Tiba-tiba Arin pun teringat sesuatu.


"Oh ya sayang, mbak Tina kok tidak ada biasanya dia selalu menemani anak-anak tidur," tanya Arin.


Abraham pun menghentikan aksinya, dia menoleh ke arah sang istri.


"Oh dia tadi pamit pulang kampung," jawab Abraham membuat Arin menyergit heran, karena mbak Tina tadi siang tidak berbicara apapun.


"Kenapa? Aneh aja tiba-tiba pulang," tanya Arin sekali lagi membuat Abraham mendengus kesal pasalnya istrinya cerewet seperti sedang mewawancarai nya.


"Dia sih bilang di suruh pulang untuk menikah dan baju-baju nya belum di bawa semua. Biar nanti anak buah ku yang mengantarkan nya," jelas Abraham.


Abraham menjelaskan dengan ekspresi datar.


"Terus gajinya bagaimana?" Arin masih terus saja bertanya membuat Abraham kesal.


"Gampang, biar nanti di urus anak buah ku," jawab Abraham lagi dengan wajah kesalnya.


"Tetapi...." Perkataan Arin terpotong karena bibir nya di bungkam oleh Abraham.


"Sudah jangan bicara terus. Diam dan ini sudah malam ayo kita selesaikan mandi kita terus tidur dan jangan bahas macam-macam," kata Abraham membopong tubuh Arin untuk di pindahkan ke kasur.


"Aaahhh....." Arin kaget saat tubuhnya melayang berpindah ke dalam kamar.


Setelah itu Arin maupun Abraham berganti baju tidur. Abraham dan Arin pun langsung tidur meskipun berbagai pertanyaan muncul di benak Arin.


B E R S A M B U N G....


Bonus malam..


Like, Vote gaes.