Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 167


Saat ini di tempat berbeda, Arin mendekap erat kedua permata hati nya. Arin mengelus rambut Abrian yang bersandar ke Arin.


Aurel melepaskan pelukannya, dia berdiri berjalan mengamati ruangan yang asing di matanya saat ini.


"Ish tempat ini bau nya gak enak, kasurnya jelek pasti banyak iler nya tuh," grutu Aurel mengelilingi kamar yang di tempatnya.


Kasur busa yang tergeletak di lantai dan sedikit usang, membuat Arin lebih memilih duduk di lantai bersandar di tembok beralaskan tikar.


"Ma kenapa kita harus di sini sih?" Tanya Aurel dengan polosnya.


"Kita lagi nunggu papa jemput kita nak," jawab Arin merasa sesak di dada karena menahan air mata yang sedari tadi ingin meluncur bebas.


Sedangkan Abrian memilih diam, dia seakan paham kalau sang mama sedang cemas di dalam hati nya.


'Pa kapan papa datang selamatkan kami,' guman Abrian di dalam hati nya saat ini berharap penuh kepada Abraham.


Krukkkk....


Krukkk....


Bunyi perut Aurel terdengar cukup keras. Arin dan Abrian menoleh ke arah Aurel.


"He he he he he he, Aurel lapar ma," kata Aurel menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ma, Aurel ingin makan ayam goreng," rengek Aurel menggoyangkan tangan Arin.


"Iya nak nanti yah," bujuk Arin dengan lembut.


'Maaf nak, mungkin mama tidak tahu kapan kita bisa pulang ke rumah. Kita hanya bisa berharap papa segera datang menjemput kita,' batin Arin penuh harap.


"Ck dasar adik nyusahin," grutu Abrian dengan suara pelan agar tak terdengar oleh Aurel karena takut kalau sampai adiknya itu mendengar ucapannya bisa-bisa mulut nya semakin cerewet tak jelas membuat dia pusing di buatnya.


"Huaaa hiks hiks hiks hiks hiks, Aurel lapar, Aurel mau ayam goreng," bibir mungil itu berteriak meraung tak jelas.


Penjaga yang berjaga di depan pintu kamar yang mendengar teriakkan dari dalam pun segera membuka pintu, karena penasaran siapa yang membuat gaduh.


Ceklek...


"Hei jangan berisik, buat telingaku sakit saja," bentak pria berkepala plontos berbadan kekar berkulit hitam itu.


Arin yang melihat itupun semakin mendekap erat kedua buah hatinya, Arin takut pria itu berbuat nekad dan melukai anaknya.


"Huaa huuaa hiks hiks hiks huaaa..." Tangis Aurel semakin kencang karena di bentak.


"Hei cepat kamu suruh anak mu berhenti menangis," perintah pria itu menunjuk ke arah Arin.


"Sayang jangan menangis ya, nanti kalau sudah pulang kita makan ayam goreng sepuasnya," bujuk Arin mengelus rambut bocah itu dengan penuh kasih sayang.


Arin berusaha menenangkan Aurel namun malah Aurel semakin keras menangis dan meraung.


"Tidak mau ma... Huaaaa Aurel sekarang lapar ma, Aurel mau makan ayam goreng sekarang tidak mau nanti," pinta bocah itu terus merengek.


"Aah kenapa kamu semakin kencang sih nangis nya," kata pria itu mengacak rambutnya karena frustasi mendengar rengekan bocah kecil itu yang tak kunjung berhenti.


"Tinggal belikan adik saya ayam goreng saja om, ngapain sih pusing-pusing. Adik saya kalau nangis bisa lama kadang 2 jam lebih, om mau telinga om budek di buatnya," kata Abrian menatap sinis pria itu.


Pria itu mendelik menatap Abrian.


'Ha nih anak, kenapa tidak ada takut-takut nya sama aku ya,' grutu pria itu di dalam hati menatap wajah Abrian dengan sinis.


"Hua hus hiks hiks hiks hiks hiks," Aurel masih setia menangis membuat pria tadi semakin kesal, dia melotot menatap Aurel dengan greget.


Sedangkan Arin berusaha membujuk Aurel namun gadis kecil itu masih setia menangis.


"Jangan melotot om, nanti tuh mata keluar. Sudah berikan saja ayam goreng yang banyak biar adik ku diam, telinga ku sudah sakit di buatnya," kata Abrian sambil menutup telinganya dengan kedua tangan nya.


"Biarin saja dia menangis, aku tidak perduli," kata pria itu acuh mengabaikan Aurel.


Brakkk ...


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks,"


"Huaa ayam goreng, hiks hiks hiks hiks,"


Aurel masih menangis tak jelas membuat Abrian menghela nafas jengah, sedangkan Arin sudah tak sanggup membujuk Aurel dan membiarkannya.


Benar saja, tak lama setengah jam pintu terbuka kembali.


Ceklek....


Mendengar suara pintu terbuka membuat Arin dan Abrian menatap lurus ke arah pintu.


"Nih makan jangan membuat ku pusing karena suara berisik mu itu," kata pria itu memberikan satu bungkus plastik berisi ayam goreng.


"Hiks hiks, beneran om botak ngasih ini buat aku?" Tanya bocah kecil itu yang masih sesenggukan.


"Iya sekarang buat dia berhenti menangis," kata pria itu menatap Arin.


Arin mengambil bungkusan itu, dan ternyata itu berisi ayam goreng dari kemasannya sepertinya pria itu memesan kan secara online.


"Om mana minum nya? Aurel mau Susu stroberi panas ya," kata Aurel menatap pria itu dengan polosnya.


"Aah lama-lama bisa darah tinggi aku, sudah jangan cerewet. Cepat kamu makan karena aku mau istirahat,"


Setelah mengucapkan hal itu, dia pun membanting pintu karena tak ingin berlama-lama di sini.


"Dasar pelit, om jelek," kata Aurel kesal karena keinginannya belum terpenuhi.


"Ssstttt sudah jangan berisik, ayo makan nak," bujuk Arin.


Sedangkan di luar ruangan...


"Huuu untung saja si bos bilang suruh jaga mereka baik-baik, kalau tidak sudah ku buang tuh anak perempuan di pinggir jalan," grutu pria itu dengan kesal.


****


Sedangkan Abraham masih terjebak di dalam kemacetan.


"Ah ****, kenapa aku bisa lupa kalau di sini sering macet," kesal Abraham memukul stir mobil.


"Sabar kak, sebentar lagi. Kak Abraham harus tenang supaya kita tidak mati konyol," Tio sedikit berbicara dengan keras karena takut sang kakak terbawa emosi dan keduanya berakhir sia-sia di jalan.


"Bagaimana aku bisa sabar? Di sana anak istriku sedang di culik dan kita tidak tahu bagaimana nasib mereka bertiga," jawab Abraham dengan suara bergetar.


"Kak percaya lah kalau kak Arin baik-baik saja, kak Arin adalah perempuan hebat pasti bisa melindungi mereka berdua,"


Mendengar itu Abraham pun terdiam. Dia harus bisa mengontrol emosi nya agar tidak berakibat fatal kepada nya.


Lampu lalu lintas berubah hijau membuat jalan sedikit bergerak.


Tring....


Tring....


Ponsel Tio berbunyi, Tio tersenyum saat membaca pesan itu.


Abraham hanya melirik saja ke arah Tio.


"Kak, mereka sekarang tak jauh dari sini," kata Tio menjelaskan posisi anak buah mereka yang sudah meluncur ke arah yang sudah Tio berikan.


"Kamu tidak lupa kan suruh mereka bawa senjata mereka juga," tanya Abraham penuh selidik.


"Tanpa kita minta, mereka juga membawa nya sat ini. Mereka juga membawa pistol bius untuk membius target utama kita," kata Tio menyeringai.


"Bagus kerja kalian," jawab Abraham dengan puas.


B E R S A M B U N G.....