
Belum sampai Aurel mendekat ke arah Tio, wanita muda itu dengan cepat tangan nya segera menarik tangan Aurel agar tidak mendekati Tio.
"Aahhh tangan ku Tante jahaaat...." Aurel memekik kesakitan saat tangannya di cengkram oleh wanita tadi.
"Apa lihat-lihat! Pergi semua, jangan pernah ikut campur kalian. Cepat bubar," teriak wanita itu dengan nada membentak untuk mengusir kerumunan orang yang tengah memperhatikannya dia, wanita itu begitu kesal saat melihat banyak pengunjung yang melihat dirinya dengan tatapan kesal.
Mereka semua menatap wanita itu dengan sinis setelah itu mereka pun bubar karena mereka tak berniat ikut campur atau berurusan dengan wanita itu, mereka memilih segera pergi dari tempat itu.
Wanita itu menatap Aurel lagi dengan tatapan garang.
"Hei sana, kamu jangan dekat-dekat. Mimpi kamu ya ngaku-ngaku dia om kamu," bentak wanita itu menjauhkan Aurel dari Tio secepatnya, wanita itu masih tak mempercayai bahwa anak perempuan itu kenal dengan pemuda tampan itu.
"Om..." Aurel memanggil Tio dengan tatapan memelas.
"Hei pasti kamu salah orang, mana mungkin dia om kamu secara...." Kata wanita itu menatap Aurel dari atas ke bawah seolah menilai tampilan Aurel saat ini.
Memang Aurel belum sempat untuk berganti baju, pakaian yang dia pakai tampak sedikit kotor dan kusut.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, om Tio..." Rengek Aurel meminta bantuan Tio.
Tio mengeram kesal melihat pemandangan di depannya saat ini juga, tangannya terkepal merutuki wanita muda di depannya, namun saat mau menghampiri Aurel ternyata Aurel di didorong oleh wanita itu sampai terjatuh.
Bruakkkk....
Aurel terjatuh....
Wanita itu masih menyangkal "Kamu jangan mimpi," kata wanita menatap sinis ke arah Aurel.
"Heiiii....." Tio berteriak kencang kepada wanita itu. Tangannya terangkat menunjuk ke arah wanita itu.
Wanita itu langsung menoleh menatap Tio dengan tatapan meremehkan.
Tio mendekat ke arah wanita itu dengan dada yang terbakar api kemarahan.
Plakkkk....
Wanita itu terbelalak kala tangan Tio mendarat di pipi mulus wanita itu, Tio mengusap tangannya dengan saputangan yang dia bawa setelah itu Tio membuang saputangan itu di lantai seolah-olah jijik.
Tio memberikan wanita itu pelajaran dengan hanya menamparnya saja.
Sebenarnya Tio tidak suka berurusan dengan wanita atau melakukan kekerasan kepada wanita namun Tio tak mampu membendung amarahnya, melihat wanita itu memperlakukan Aurel dengan begitu.
"Ini balasan untuk kamu, karena mulut dan tangan kamu begitu lancang menyakiti kesayangan ku sampai membuatnya menangis," kata Tio dengan geram menatap wanita itu tajam.
"Kalau kamu bukan wanita, sudah ku buat kau masuk rumah sakit sekarang juga," ucap Tio tajam seolah memperingatkan wanita di depan nya kalau dia salah mencari gara-gara dengan nya saat ini.
Wanita itu terdiam sesaat dirinya mematung di tempatnya, tangan nya memegang pipinya yang terasa kebas, sakit dan panas, wanita itu masih belum percaya, apa yang dia alami saat ini. Dia menatap Tio dengan marah bercampur benci, tangannya terkepal erat telinganya seolah tertutup amarah dan 5ak memperhatikan peringatan dari Tio tadi.
"Ha ha ha ha ha ha ha, kamu berani menamparku," wanita itu tersenyum mengejek tak mengenal rasa takut.
"Siapa kamu? Jangan mentang-mentang kamu pria bisa menindas ku saat ini. Kamu tidak tahu siapa aku, aku adalah anak dari wakil direktur mal ini dan ku pastikan kamu akan bersujud meminta maaf di kaki ku," kata wanita itu dengan percaya diri.
Wanita itu dengan cepat mengambil ponsel di dalam tas miliknya. Menghubungi seseorang dengan gaya lebai menangis mengeluarkan air mata palsu nya seolah dia baru saja tertindas saat ini.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, tunggu sebentar! Kamu tidak akan berani berbicara sombong atau menantang ku. Kamu justru akan mengemis-ngemis meminta maaf kepada ku," kata wanita itu dengan jumawa.
"Kita lihat saja," jawab Tio acuh semakin membuat wanita itu geram.
Tio cuek tak menanggapi wanita itu, dia fokus menghampiri Aurel. Tio memastikan tidak ada yang luka, Tio membolak-balikkan tubuh gadis itu menatap tangan dan kakinya memastikan tidak ada yang lecet.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, om Tio.... Tante jelek itu jahat," kata Aurel menunjuk ke arah wanita muda itu dengan sesenggukan.
Tio pun dengan cepat mengendong Aurel dan mengusap rambutnya untuk menenangkan dan memberi rasa aman kepada Aurel.
Wanita itu mengeram kesal ketika mendengar ucapan dari Aurel yang mengatakan bahwa dia jelek.
'Cantik begini di bilang jelek, apa tuh bocah gak lihat wajah ku yang putih dan kulitku yang mulus ini, dia tidak tahu sebulan bisa berapa juta uang untuk perawatan ku, dasar miskin terlihat dari pakaiannya yang kusut dan kotor itu,' batin wanita tadi menatap sinis.
"Dasar gadis miskin, tidak bisa membedakan wanita cantik," kesal wanita itu menatap Aurel.
Tanpa wanita itu sadari Tio menghubungi para bodyguard bayangan yang berada di luar tempat ini, Tio begitu malas berurusan dengan rubah betina di depan nya saat ini. Dia tak ingin bertindak di luar batas dan membuat Aurel takut dengan nya. Ya Tio bisa saja menghajar wanita itu tetapi dia takut Aurel melihat sifatnya yang sedang marah nantinya, Tio juga tak ingin nama baiknya tercoreng.
Tio ingin mengikuti rencana wanita rubah itu, Tio ingin melihat sampai di mana dia melakukan drama tak jelas ini.
Tak lama muncullah pria berbadan gemuk menghampiri Tio dan wanita itu.
"Miranda sayang, kamu kenapa nak? Siapa yang berani menyakiti mu anak katakan sama papa?" Kata pria itu menatap putri nya dengan khawatir apalagi melihat pipi sang anak terdapat cap 5 jari.
"Dia pa yang telah menamparku," jawab wanita yang tak lain bernama Miranda itu, tangannya dengan cepat menunjuk ke arah Tio yang justru melangkah menjauhi wanita itu.
"Hei kamu, berani-beraninya kamu menampar putri ku," kata papa Miranda begitu murka.
Dia tak rela putri kesayangannya menangis di depan nya saat ini, baginya kebahagiaan sang putri adalah nomor 1 meskipun itu harus merampas kebahagiaan orang lain.
Tio berbalik, menatap sinis ke arah pria tua berbadan gemuk itu.
"Sebelum anda berteriak tak jelas, sebaiknya anda mencari tahu terlebih dahulu alasan apa yang membuat saya dengan malas menampar mulut dia," jawab Tio melirik ke arah Miranda sinis.
"Pa, aku ingin dia berlutut meminta maaf pada ku," kata Miranda dengan gaya sombongnya menunjuk ke arah Tio.
B E R S A M B U N G....