
Setelah membaca budayakan tekan like ya say, buat dukung author supaya lebih semangat menulis.
#Selamat membaca#
Empat tahun kemudian......
Brukkk.....
"Aduh..... mama pantat Aurel sakit," Tubuh kecil itu terpental ke lantai. Gadis kecil itu mengerang kesakitan, dia mendongak menatap kesal kepada seseorang yang menyebabkan dirinya jatuh.
Abraham yang sedang menelpon seseorang terpaksa menoleh ke bawah karena dirinya seperti menabrak sesuatu.
"Hei gadis kecil kalau jalan hati-hati," bentak Abraham.
Gadis kecil itu pun mengusap bokongnya yang terasa sakit. Tatapan matanya menyorot Abraham penuh kebencian.
"Yang salah itu om tua, kalau telephon itu diam duduk manis seperti mamaku bilang, bukannya jalan-jalan begini kan jadinya. Aduh.... Aku sudah tak tahan," kata anak itu segera berlari menuju toilet terdekat yang sedari tadi menahan pipis.
Kejadian itu tak luput dari perhatian para pengunjung mal yang sedang berlalu lalang. Mereka berbisik menatap sinis Abraham.
"Hei bubar semua, apa yang kalian lihat hah...." Bentak Abraham kepada segerombolan orang yang berhenti di depan nya.
Orang-orang pun bubar, mereka pergi meninggalkan Abraham yang terlihat kesal.
Sedangkan Abraham masih tak percaya perkataan anak kecil tadi, antara kesal dan malu.
"Apa dia bilang tadi, om tua?? Enak saja bilang tua, padahal umurku baru 30 tahunan," sungut Abraham tak terima di katakan tua oleh gadis kecil itu.
"Dasar gadis kecil tak punya selera bagus, apa dia tak tahu kalau aku ini tampan," sungut Abraham.
"Phuffff......" Hendra di belakang menahan tawa.
"Diam kamu Hendra, atau ku suruh kamu pulang jalan kaki," ancam Abraham.
"He he he he ampun tuan," pinta Hendra memelas, bisa copot tulang-tulang nya kalau harus pulang berjalan kaki.
"Oh ya tuan gadis kecil tadi cantik ya, wajahnya sedikit mirip dengan tuan," celetuk Hendra.
"Mata kamu rabun ya, mana ada miripnya gadis kecil tadi arogan seperti itu," elak Abraham dirinya tak terima di katakan mirip gadis kecil tadi.
"Mata saya masih normal tuan, mungkin tuan tuh yang harus periksa. Apa tidak lihat tadi tatapan mata gadis itu sama arogannya dengan tuan," ceplos Hendra.
Abraham pun berhenti menoleh ke arah Hendra.
"Aduh keceplosan," runtuk Hendra kesal dengan mulutnya yang suka lupa di rem.
"Kamu mau jadi asisten ku atau jadi kepala pelayan di mansion ku," ancam Abraham.
"Maaf tuan, saya akan tutup mulut," kata Hendra menunduk ketakutan.
'Apa benar gadis kecil tadi mirip denganku, ah mana mungkin,' batin Abraham.
Abraham memilih pergi menuju restauran, dirinya tak punya waktu untuk mengurus gadis kecil tadi.
Sedangkan Hendra sang asisten pribadinya memukul bibirnya pelan karena kesal.
'Aduh kenapa nih mulut lemes amat, untung tuan tidak melaksanakan perkataannya,' batin Hendra bergidik ngeri.
Hendra membayangkan dulu, dirinya membuat Abraham marah dan hasilnya dia di suruh menguras kolam renang menggunakan ember, sampai seharian penuh dia tak bisa melakukannya dan Abraham menyuruh nya berhenti kalau tidak bisa tiga hari tiga malam dia melakukannya.
"Cepat jalanmu jangan sampai Tuan Willy menunggu kita terlalu lama," bentak Abraham.
Hendra pun tersadar dari lamunannya, dia mempercepat langkahnya mengikuti tuannya.
Sedangkan di mal yang sama tetapi berbeda tempat.......
"Tio cepat cari di mana Aurel, sudah lama dua berpamitan ke toilet," perintah Arin kepada adiknya.
"Tar dulu kak, nanggung bentar lagi menang ini," jawab Tio.
"Kalau di suruh pasti ada aja alasannya, Rio cepat cari Aurel," kata Arin menjewer telinga Tio karena kesal.
"Aduhhh ...... Sakit kak," rengek Tio mengusap telinganya yang sakit.
"Tenang ma, Aurel pasti baik-baik saja. Mana ada yang mau nyulik Aurel yang galak," kata sang kakak yang bernama Abrian.
"Kamu itu sama saja seperti pamanmu," kesal Arin.
"Rio kamu juga di suruh nyari Aurel, malah asyik bermain. Ingat umur," kata Arin kesal kepada adiknya.
Dengan lesu akhirnya Rio pun bangkit dari tempat nya daripada mendengarkan Omelan sang kakak, yang tak akan berhenti sebelum kemauannya di turuti.
Sosok yang sedang di bicarakan pun akhirnya muncul juga.
"Mama....." Teriak gadis kecil itu.
"Aduh sayang, mama cemas dari tadi nungguin kamu," kata Arin berlari memeluk sang anak.
"Lebay ....." Cibir Abrian.
"Brian......." Kesal Arin melotot ke arah anak nya.
"Ok ma, Brian tutup mulut," kata Abrian yang takut melihat tatapan sang Mama.
Abrian memilih fokus pada permainan nya.
Arin membuang nafas kasar.
'Tingkah acuh kamu mirip siapa sih nak,' batin Arin menatap sang anak.
"Kenapa sayang lama banget? Mama sampai khawatir," Tanya Arin memandang sang putri kesayangannya.
"Tadi aku di tabrak om tua pemarah saat sedang berjalan ke toilet ma," aduh Aurel.
"Tetapi Aurel tidak apa-apa kan?" Tanya Arin sambil memutar tubuh anaknya takut anaknya itu terluka.
"Tenang ma Aurel baik-baik, Aurel kan anak kuat," kata Aurel sambil mengangkat ke dua tangannya menunjukkan otot kecilnya.
"Benar kan kataku, dia pasti baik-baik saja ma," kata Abrian.
"Ayo kita pulang, bentar lagi sore," kata Arin yang berdiri mengandeng tangan Aurel.
"Ya Mama gak asyik," Rajuk Abrian.
"Ah kak Arin, sebentar lagi kan aku menang," keluh Tio.
"Rio seret kedua bocah nakal itu," titah Arin.
Rio pun menyeret kedua pria berbeda generasi itu untuk keluar dari arena bermain.
"Sudah besar masih saja seperti bocil," ejek Rio kepada saudara kembarnya.
Kelima orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, banyak beberapa pasang mata yang melihat takjub kearah mereka.
Arin yang terlihat cantik di usianya yang matang untuk ukuran wanita, dan jangan lupa pesona adik kembarnya yang begitu tampan.
Sedangkan Aurel dan Abrian yang terlihat tampan dan cantik untuk ukuran anak kecil.
"Ma, Aurel mau baju itu," kata Aurel berhenti di salah satu toko, dia menunjuk baju yang sedang di pajang di depan toko.
"Ok apapun untuk putri cantik mama," jawab Arin.
"Sama boneka Teddy Bear ya ma yang itu," tunjuk Aurel pada boneka berwarna pink yang letak nya tak jauh dari toko.
"Borong saja semuanya sama mal nya," ketus Abrian kesal karena adiknya yang selalu manja.
Akhirnya mereka pun menuruti permintaan Aurel.
Arin bersyukur kehidupannya lebih mudah sejak kehadiran dua buah hatinya, toko kue yang dia dirikan sudah mempunyai 2 cabang.
Nek Ijah pun ikut Arin untuk menemani Aurel dan Abrian kalau dirinya dan bunda sibuk di toko.
Bersambung.....
Maaf kalau ada typo bertebaran, tolong di komen biar segera di perbaiki.
Jangan lupa:
~Like
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.