Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 63


Mendengar ucapan Arin, bunda pun terdiam.


Bunda yakin anaknya itu mempunyai alsan khusus.


"Terserah kamu saja nak, bunda ingin kamu bahagia," lirih bunda.


"Terima kasih bunda," kata Arin berkaca-kaca langsung memeluk sang bunda.


Arin bersyukur memiliki bunda yang baik seperti bunda nya yang selalu ada untuk anaknya meskipun dalam keadaan terpuruk sekalipun. Bunda yang senantiasa menghapus air mata nya.


Di tempat yang berbeda...


Tut.... Tut...Tut... Tut...


"Halo bos!" Sapa orang di sebrang dengan nada berbisik.


"Kenapa suara mu berbisik hah?" Tanya William.


"Maaf bos, kami berada di warteg sedang memantau di dekat mansion milik tuan Abraham tetapi di dekat saya ada beberapa bodyguard nya," jelas orang itu masih berbisik.


"Jadi Arin sendirian di rumah?" Tanya William dengan berbinar, terus terang William sudah tak sabar ingin bertemu dengan Arin tetapi Arin di jaga ketat oleh orang kepercayaan Abraham.


"Iya bos, non Arin berada di mansion di temani ibunya. Bagaimana kalau bos menjebak tuan Abraham dengan wanita dan membuat renggang pernikahan mereka," jelas orang itu, dia juga memberikan saran untuk William.


"Bagus juga ide kamu, nanti saya transfer bonus buat ide bagus kamu," jawab William dengan senyum misterius.


"Terima kasih bos," jawabnya dengan girang.


Tut... Panggilan itu pun terputus, William tersenyum misterius.


William mengotak-atik ponsel nya mencari nomor Tomi.


Tut.... Tut... Tut... Tut...


William kembali menghubungi seseorang yang dia percaya untuk memata-matai keluarga Abraham dari dalam.


"Halo bos," Tomi menjawab sambungan telepon dari William.


"Ada perkembangan apa? Bagaimana perkembangan di sana, apa ada sesuatu yang menarik?" Tanya William.


"Ha ha ha ha ha.... Bos tahu saja kalau ada berita menarik," jawab Tomi terkekeh.


Mendengar perkataan Tomi membuat kening William mengerut, namun beberapa detik kemudian William tersenyum lebar.


"Waaooo... Sungguh kebetulan sekali, cepat katakan?" Perintah William dengan tak sabar.


"Ha ha ha ha ha... Sabar bos. Ternyata pengasuh si kembar berusaha mencari perhatian tuan Abraham terlihat dari gerak-gerik nya beberapa hari ini," jawab Tomi dengan kekehan.


"Ha ha ha ha ha ha.... Berita bagus, ternyata pesona Abraham tak main-main sampai baby sitter itu pun mabuk dengan pesona nya," William begitu bahagia dengan kabar ini, baginya itu adalah kabar baik buat dirinya.


"Awasi semua nya, jangan sampai ketahuan," pesan William setelah itu dia menutup panggilan itu.


'Maafkan saya tuan Abraham,'batin Tomi.


Tut....


William duduk melipat kaki nya, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk itu, kepalanya mendongak ke atas menatap langit-langit kantor itu.


Dirinya menerawang bagaimana awal mula dia bertemu dengan Tomi, orang yang diam-diam membantu William tanpa siapapun yang mengetahuinya.


# Flashback #


William menaiki motor sport nya menuju ke rumah, sepulang dari kampus William memang mencari jalan memutar yang di rasa cukup dekat meskipun dia harus melewati gang sempit.


Seseorang lari dari kejaran para penagih hutang...


Brukk....


Tanpa sengaja pria SMA itu menabrak motor sport milik William.


Ckiit....


Karena kaget William pun mengerem dadakan motornya.


Beberapa orang yang mengejar pria remaja itu pun memilih pergi meninggalkan tempat itu, mereka mengira remaja itu meninggal karena mereka tak melihat pergerakan sama sekali.


William kaget, tangannya gemetar menatap pria remaja itu tergolek tak bergerak di depan motor miliknya.


William memberanikan diri mengoyakkan tangan remaja itu.


"Hei bangun," William pun menepuk pipi nya berkali-kali.


Lima menit tak kunjung ada pergerakan dari remaja itu membuat William di landa kebingungan.


Remaja pria itu mengintip dengan mata menyipit, di rasa keadaan aman dia pun membuka matanya dan bangun menepuk sisa-sisa debu yang menempel di baju nya.


"Adek tidak apa-apa?" Tanya William dengan nada khawatir.


"Tidak apa-apa, terimakasih karena kamu akhirnya aku bisa bebas dari mereka," lirih remaja itu.


"Aku William," kata William menjabat tangan remaja itu.


"Aku Tomi," jawab remaja manis itu.


"Ok aku panggil kamu Tomi dan kami bisa panggil aku kak William," usul William di angguki Tomi.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku, takutnya nanti mereka kembali lagi," ajak William.


Tomi pun dengan senang hati menyetujui saran dari William. Keduanya pun pergi meninggalkan gang sempit itu.


Sampailah dia di cafe yang tak jauh dari tempat itu.


"Kamu pesan apa?" Tanya William kepada Tomi yang masih tampak tidak nyaman.


Tomi tak nyaman karena penampilannya, baju lusuh dan rambut acak-acakan. Tomi pun meringis kala melihat daftar menu itu. Melihat Tomi terdiam membuat William berinisiatif untuk memesan menu yang sama dengan nya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya William.


Tomi terdiam, ragu menceritakan semua nya kepada orang asing, orang yang baru di kenalnya.


"Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak akan memaksa," kata William.


Tomi menghela nafas panjang, dia pun menceritakan semuanya. Wiliam miris mendengar cerita dari Tomi. William menyimpulkan Tomi adalah remaja yang baik.


"Akan ku bantu biaya berobat ibu mu dan untuk hutang-hutang mu, aku bisa membantunya dengan cara mencarikan kamu pekerjaan dengan gaji yang lumayan," jelas William membuat remaja itu berbinar.


William pun merekomendasikan Tomi untuk menjadi bodyguard Aruna.


Ya sampai sekarang Tomi masih bekerja sebagai bodyguard tetapi ikut Abraham, untuk itu dengan mudah Tomi bisa mendapatkan informasi tentang Abraham.


# Flashback end #


Tiba-tiba muncul ide cemerlang di otak licik milik William.


William bergegas keluar ruangan saat melihat jam tangannya.


"Pasti si kembar sudah pulang," guman William tersenyum misterius.


William berhenti di depan meja kerja Veli.


"Kamu cepat bereskan semuanya dan ikut aku," perintah William kepada Veli.


Veli masih binggung, dia masih diam di tempatnya.


"Cepat kamu ikut aku, kita mulai rencana kita," bentak William.


Veli mendengar perkataan William membuat wajah binggung itu tersenyum lebar namun penuh dendam.


"Kemana pak?" Tanya Veli penasaran.


"Sudah cepat jangan banyak tanya," bentak William.


Veli dengan cepat membereskan meja nya.


Wiliam sibuk mengotak-atik ponsel nya, dia meminta anak buahnya memantau si kembar, William tersenyum saat menemukan keberadaan mereka.


Di tempat berbeda......


Banyak siswa berhamburan keluar.....


Mbak Tina dan anak-anak sudah berada di dalam mobil, kedua bocah itu sangat antusias untuk ingin pulang ke rumah.


Di dalam mobil kedua bocah itu bercerita banyak hal.


"Mbak.... Aurel haus," lirih Aurel meminta minum.


Mbak Tina merogoh tas ternyata minumannya sudah habis, mbak Tina pun mencari di dalam mobil tetap saja tidak menemukannya.


"Maaf ya Aurel, minum nya abis," lirih mbak Tina.


"Mbak kita beli saja sebentar, Abrian juga haus," kata Abrian memelas.


"Mang, kita mampir dulu ke mini market terdekat," pinta mbak Tina.


Sepuluh menit kemudian mobil menepi ke minimarket, Aurel tersenyum senang.


"Hore... Jangan lupa snack juga mbak," Jawab Aurel riang.


"Kalian di sini saja, biar mbak belikan," kata mbak Tina ke arah Aurel dan Abrian.


Mbak Tina memasuki minimarket itu, dia menyisir mencari rak-rak itu mencari cemilan dan minuman untuk si kembar.


Pluk....


Pundak mbak Tina di tepuk seseorang dari belakang, membuat mbak Tina menoleh ke belakang.


"Maaf siapa anda," tanya mbak Tina menyipitkan matanya menatap wanita di depannya.


"Saya Veli, saya bisa membantu kamu mendapatkan keinginan mu dengan dengan mudah," bisik Veli di telinga mbak Tina.


Mbak Tina masih terdiam, binggung.


"Campurkan obat ini ke dalam minuman tuan Abraham, ingat jangan sampai ada orang yang tahu," kata Veli menyakinkan.


"Apa ini," tanya mbak Tina dengan suara bergetar memegang botol kecil itu.


"Ini obat perangsang," bisik Veli menyeringai.


Deg.....


B E R S A M B U N G.....


Nah Lo mbak Tina bimbang ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ