
Tio pun melangkah kan kakinya menuju ke kamar miliknya. Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri untuk mengurangi rasa lelah yang menderanya. Beberapa hari berbaring di rumah sakit membuat tubuhnya terasa kaku.
Baru saja Tio ingin membuka pintu kamar nya. Terdengar langkah kaki dari arah belakang, membuat Tio langsung memutar arah tubuhnya dengan cepat.
"Tenang saja, aku sudah menyuruh beberapa anak buah kita berjaga di sekitar rumah pak Rendi. Kamu bisa tenang malam ini," ucap Doni menepuk pundak Tio.
Doni sudah tahu semuanya dari Bimo.
"Terimakasih bang," lirih Tio kepada Doni.
"Sama-sama," jawab Doni berlalu.
Belum ada 5 menit, Doni pun berbalik menatap ke arah Tio.
"Oh ya, Abang sampai lupa mengucapkan selamat kepada mu, kalau ada apa-apa jangan lupa mintalah bantuan kita," ucap Doni dengan tulus.
"Siaaap," jawab Tio seperti hormat. Setelah itu Tio pun masuk ke dalam kamar miliknya.
"He he he he he he, dasar bocah," Doni terkekeh melihat kelakuan Tio yang masih sama seperti dulu.
Sekilas Doni mengingatkan saat dia pertama kali Abraham mengantarkan bocah remaja itu untuk belajar bela diri dengannya.
Tio pun melangkahkan kaki nya menuju kamar, rasa nyeri masih menyelimuti tubuhnya.
Doni menatap pintu kamar Tio yang tertutup.
"Aku akan selalu membantumu meskipun kamu tidak meminta," lirih Doni, setelah itu dia pergi meninggalkan kediaman Abraham.
Di dalam kamar....
Tio membersihkan wajah dan berganti pakaian.
Luka tembakan itu masih sedikit terasa sakit, dengan hati-hati Tio merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang jauh.
Trink...
Bunyi pesan masuk ke ponselnya membuat Tio harus bangun dan mengambil ponsel nya yang tergelatak di atas meja.
"Aku tak tahu kenapa kamu tiba-tiba muncul di rumah ku, apa mungkin kamu punya Indra ke 6 yang membuat mu bisa membaca isi hati ku saat itu. He he he he.....!! Aku sempat takut akan kehilangan mu namun semua itu sirna karena kedatangan mu. Jujur aku sempat beberapa kali mengharapkan kehadiran mu di sana, tetapi aku bersyukur karena Allah mengabulkan isi hati ku, kamu hadir tepat waktu. Terima kasih I love you,"
Tio terkekeh, melihat isi pesan dari Amanda itu.
"Terimakasih karena mengingatku saat diriku tak ada di sampingmu. Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah. Aku beruntung memiliki bidadari seperti mu, I love you too,"
Tio membalas pesan dari Amanda di sertai emoticon cinta.
Sedangkan di sebrang sana, Amanda membaca balasan pesan dari Tio dengan tersenyum lebar, pipinya langsung merona di buatnya. Sungguh Amanda hari ini begitu bahagia. Meskipun jawaban Tio tak ada kata yang romantis namun hal itu saja cukup membuat Amanda terbang melayang di buatnya. Mengingat sifat Tio yang dingin dan terkesan datar.
Berbeda dengan Tio saat ini......
Tio bisa membayangkan bagaimana wajah Amanda saat ini.
"Ah pasti wajahnya begitu mengemaskan," guman Tio mengingat wajah Amanda yang malu-malu.
Trink...
Pesan masuk dari anak buahnya.
"Ahhh kenapa aku bisa kecolongan seperti ini," guman Tio kesal.
Tio tak percaya, dengan cepat pak Rangga menghubungi beberapa temannya untuk menarik saham yang ada di perusahaan milik pak Rendi.
"Segitu cepat nya pak tua itu bertindak, bahkan ini masih malam tetapi kamu sudah menghubungi beberapa teman mu. Dasar licik," Tio mengeram kesal. Ingin rasanya Tio memukul wajah jelek pria itu.
"Kamu sudah berani mengusik ku, tunggu kehancuran mu," guman Tio tersenyum licik, mata nya menatap lurus ke ponsel. Seperti seekor elang yang bersiap memangsa buruannya.
Tio pun meminta asisten pribadi miliknya untuk mengurus masalah ini. Tio berencana menggagalkan semua rencana licik pak Rangga untuk menjatuhkan perusahaan milik pak Rendi.
Tio tidak mungkin membeli semua saham itu, dia sadar kalau keuangan milik nya tak mungkin bisa, karena Tio juga masih memperbesar usaha milik nya itu.
Trink....
Baru saja Tio berfikir cara untuk meminta bantuan sang kakak ipar, namun pesan dari gio sang asisten kepercayaan miliknya, membuat Tio tersenyum lebar. Tio bernafas lega karena keberuntungan masih berpihak kepada nya jadi dia tak perlu bersusah paya memikirkan kata untuk berbicara dengan Abraham kakak iparnya itu.
"Ternyata keberuntungan masih kepada ku. Ha ha ha ha ha ha ha, akan ku buat kamu menangis pak tua," kata Tio begitu senang melihat isi pesan itu.
Ya isi pesan dari gio adalah, memberitahu kalau beberapa orang yang dihubungi oleh pak Rangga ternyata perusahaan mereka masih di meminta bantuan kepada perusahaan milik Abraham.
"Ternyata pesona kakak ipar di dunia bisnis gak kaleng-kaleng," Tio begitu takjub dengan sang kakak ipar, ya meskipun dia sudah tahu namun dia masih saja di buat kaget.
Tio pun mematikan ponselnya, dia merebahkan tubuhnya yang lelah. Tio mencoba menutup mata nya berharap mimpi indah datang menyapa nya.
Sedangkan di kamar Abraham dan Arin...
Abraham dan Arin, keduanya masih belum tidur. Arin masih menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Abraham. Sedangkan Abraham masih setia memeluk sang istri.
"Sayang terimakasih, kamu selalu ada untuk ku dan keluarga ku. Berkat mu... Tio tidak jadi kehilangan cinta pertamanya," lirih Arin masih berada di dalam dekapan hangat sang suami.
"Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu sayang," jelas Abraham mengusap lembut pipi sang istri tak lupa sesekali mendarat kan kecupan manis di rambut sang istri.
"Aku beruntung punya suami tampan, kaya dan perhatian seperti mu," goda arin menaik turunkan alisnya.
"Ck dasar gombal," jawab Abraham seolah Arin tengah membuat dirinya hebat dengan memuji, apalagi kata tampan membuat Abraham tersenyum sendiri.
"He he he he he he he he," Arin terkekeh melihat wajah Abraham memanas karena ulahnya.
"Sudah jangan banyak berfikir, ayo tidur rasanya mata ku sudah mengantuk," ajak Abraham karena hari ini tubuhnya benar-benar terasa lelah.
Arin pun merubah posisi tidurnya, dia mendaratkan kepalanya di atas bantal empuk itu seraya menghadap kearah wajah Abraham.
Wajah keduanya saling bertatapan.
"I love you," kata Abraham mengecup kening Arin.
"Too..." Jawab Arin setelah itu keduanya pun telah dalam hangatnya cinta mereka.
Di saat semua sedang terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Denis, dia menatap gelas kosong di depan nya dengan pandangan sulit di artikan.
Entahlah, namun saat ini Denis tengah meluapkan emosi nya di sebuah klub malam.
Denis tak henti-hentinya meracau tak jelas. Beberapa teman mencoba membujuk dia untuk pulang namun usahanya gagal. Denis terus saja menyebutkan nama Amanda seolah Denis adalah kekasih nya.
B E R S A M B U N G....