Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 102


Amanda berlari menuju taman rumah sakit. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi taman di bawah pohon yang rindang.


"Hiks hiks hiks hiks kenapa dia tak pernah sekali pun melihat ke arahku," lirih Amanda terisak mengingat Tio yang selalu cuek bahkan tak segan-segan berkata pedas saat dia menyatakan cintanya.


Amanda berfikir apa karena dia jelek sehingga Tio tak pernah memandang dirinya sekalipun, dia selalu memberi perhatian kepada Tio namun semua itu berakhir sia-sia, apakah tidak ada tempat untuk dirinya. Amanda pun merasa lelah, dia ingin menyerah.


"Aku ingin menyerah, mungkin dia bukan untukku," lirih Amanda melepas kaca matanya yang sudah basah terkena air mata.


"Jangan menangis, malu di lihat orang," kata pria tampan itu memberi Amanda sapu tangan.


Amanda mendongak menatap ke atas, untuk melihat siapa yang memberikan sapu tangan itu karena Amanda seperti mengenal suara itu. Amanda merasa lega karena lelaki itu ternyata sahabat nya.


"Maafkan saudara kembar ku, dia hanya belum bisa melihat ketulusan mu karena dia baru saja patah hati," jelas Rio merasa tak enak atas sikap kembarannya itu kepada gadis baik nan polos di depan nya.


"Hiks hiks hiks hiks kenapa dia tidak bisa ramah seperti kamu," lirih Amanda membandingkan Tio dengan Rio.


"Hiks hiks hiks hiks hiks kalian begitu berbeda, dia dingin tak tersentuh sedangkan kamu begitu hangat," Amanda sesenggukan mengungkapkan isi hatinya.


"Ha ha ha ha ha ha," Rio tergelak mendengar ucapan dari wanita polos itu.


"Ish kenapa kamu tertawa," kesal Amanda mendengar Rio tertawa.


"Karena kamu lucu, kamu ingin Tio seperti ku? Kenapa harus susah-susah mengejar dia, jadi pacar ku saja gampang," kata Rio membuat Amanda mendelik sebal.


"Ish kamu ngeselin," Amanda kesal memukul lengan pria itu berkali-kali.


"Aduh aduh aduh sakit," Rio berpura-pura mengaduh kesakitan.


"Kalau aku sama kamu nanti Renata marah sama aku," cebik Amanda.


"He he he he he he he," Rio terkekeh.


"Kapan Renata pulang?" Tanya Amanda mengalikan pembicaraan.


"Mungkin 6 bulan lagi," jawab Rio menerawang.


"Renata beruntung banget ya punya pacar setia seperti kamu," Amanda tersenyum tipis.


"Justru aku beruntung bisa dekat dengan nya, mungkin setelah dia pulang aku akan memperkenalkan Renata ke keluarga ku," kata Rio tersenyum mengingat gadis cantik berhijab itu.


"Sudah-sudah ayo ku antar pulang nanti kita buat rencana untuk menaklukkan saudara kembar ku yang keras kepala itu," ajak Tio mengungkapkan rencana yang ada di otak nya.


"Lho bukannya kamu baru datang?" Tanya Amanda yang heran.


"Kenapa kamu tahu kalau aku baru datang?" Tanyanya memicingkan matanya.


"He he he he kamu lupa ya kalau aku sudah hafal seluk beluk rumah sakit ini, ini bagian depan rumah sakit dan kalaupun kamu mau pulang juga bukan lewat sini tetapi kamu harus memutar ke sana," jelas Amanda menunjukkan ke arah pintu keluar yang terhubung dengan parkiran.


"He he he he he iya iya mentang-mentang ayah kamu dokter senior di sini," kata Tio terkekeh.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di otaknya.


"Aku punya rencana, sini ku bisikan ke telinga kamu," pinta Rio menyuruh wanita di depannya itu mendekat.


Dengan wajah penasaran Amanda mendekatkan telinganya ke Rio.


"S s s s s s ......" Amanda manggut-manggut mendengar bisikan dari Rio.


"Apakah kamu yakin berhasil?" Tanya Amanda yang tak begitu yakin.


"Percaya deh sama aku, pokoknya besok aku jemput kamu ke kampus," Rio berkata penuh percaya diri.


"Ayo ku antar pulang," ajak Rio, Amanda masih terdiam.


"Ck sudah jangan banyak mikir, aku tahu pasti kamu tadi naik taksi," tebak Rio dan benar saja Amanda pun mengangguk.


"Ayo...." Rio menarik tangan Amanda, dia tak tega melihat gadis itu pulang dengan keadaan seperti itu.


Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang mengepalkan tangannya dengan perasaan tak karuan.


"Dasar cewek, kemarin saja ngikuti aku ke mana-mana sekarang pindah ke saudaraku, ck dasar plin-plan," guman Tio meninggalkan tempat itu, dia pun berjalan menuju kamar sang kakak.


Entah apa yang ada di pikiran Tio saat ini, melihat Amanda yang dekat dengan saudaranya hatinya pun tak rela padahal dia begitu membenci wanita itu.


***


Tio pun dengan malas mengetuk pintu ruangan Arin.


Tok tok tok tok...


"Masuk,"


"Bunda ayo kita pulang?" Ajak Tio.


"Kenapa buru-buru sih dek," Arin heran melihat wajah Tio yang murung tak seperti biasanya yang cerah dan suka iseng.


"Ada tugas dari dosenku yang belum ku kerjakan kak," bohong Tio.


"Bunda di sini saja menemani Arin," pinta Abraham karena dia sedikit takut untuk mengendong Andra.


"Iya benar kata mas Abraham, bunda di sini saja takutnya kalau malam Andra rewel," Arin setuju dengan usulan sang suami.


"Bagaimana Bun?" Tanya Tio.


"Bunda di sini saja menemani kakak mu," jawab bunda.


"Tio menginap saja di rumah kita sayang, untuk menjaga Aurel dan Abrian takutnya mereka rewel," pinta Arin karena kedua anaknya dekat dengan Tio.


Sedangkan Rio sering sibuk menjaga toko miliknya.


"Tio kamu dengar kan kata kakak mu, bagaimana menurut mu?" Tanya Abraham.


"Iya nanti Tio akan menginap di sana sampai kak Arin pulang dari sini, sekarang Tio mau pulang dulu ambil baju buat ngungsi ke rumah kak Arin," kata Tio pasrah.


"Nanti kamu pakai mobil ku saja kalau ke kampus," Abraham pun melempar kan kunci mobil sport miliknya.


"Jangan lupa kamu sering-sering ke perusahaan biar nanti Hendra mengajari mu," perintah Abraham.


Tio pun mengangguk setuju.


Abraham ingin Tio belajar berbisnis karena Rio kemarin menolak, dia ingin fokus menjalankan usaha kue milik Arin.


"Bunda , Tio pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu untuk kak Arin maupun bunda bisa minta tolong sama Tio kalau kak Abraham tidak bisa," kata Tio mencium tangan sang bunda.


"Iya nak..... Langsung pulang, jangan keluyuran," nasehat bunda.


"Siap Bu," jawab Tio ceria.


"Kak.... Aku pulang dulu ya?" pamit Tio kepada Arin dan Abraham.


"Ini buat jajan kamu," Abraham menyerahkan 10 lembar uang berwarna merah kepada Tio.


Tio berbinar mendapatkan uang dari kak iparnya itu.


"Terimakasih ya kak," jawabnya.


"Di tabung jangan buat beli aneh-aneh," peringatan bunda karena tak enak hati kepada menantunya.


"Siap bunda, lagian ini buat tambahan beli laptop baru," jelas Tio.


"Cepat pulang," usir bunda.


Tio pun pulang menuju rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa baju dan keperluan lainnya, yang akan dia butuhkan nanti.


B E R S A M B U N G....