
Meskipun wajah Tio saat ini lelah terlihat kuyuh namun akhirnya dia sampai di depan perusahaan milik Abraham. Sesekali dia menyeka keringat yang mengalir di keningnya dengan tisu basah untuk mengurangi rasa tak nyaman itu.
"Fyuuhhhh.... Akhirnya aku sampai juga," guman Tio sambil menghela nafas panjang dengan perasaan yang begitu lega.
"Selamat siang pak Tio?" Sapa salah satu satpam yang sedang berdiri di depan nya sambil membuka pintu untuk Tio.
Tio hanya mengangguk saja sebagai jawaban, setelah itu dia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan milik Abraham tanpa membalas sapaan satu orang pun yang melewatinya.
Tok tok tok tok tok tok....
Tio berkali-kali mengetuk pintu karena dia tak mungkin bertindak sesuka hati nya seperti yang di lakukan oleh Abraham, mengingat sang kakak ipar yang sibuk dan tak ingin di ganggu kalau sedang bekerja. Dia tak ingin membuat kakak iparnya itu marah karena kelancanga nya.
"Masuk,"
Mendapat lampu hijau, Tio pun segera masuk ke dalam.
Abraham sedang duduk di depan meja, matanya masih fokus membaca beberapa laporan yang ada di depannya. Abraham melepaskan kaca mata baca nya, dia pun melirik ke arah Tio, Abraham mengerutkan keningnya kala melihat sang adik iparnya itu terlihat lelah terlebih lagi wajahnya sedikit pucat.
"Kenapa dengan wajah kamu? Apa terjadi sesuatu dengan mu tadi?" Tanya Abraham penasaran saat melihat wajah sang adik yang terlihat kelelahan.
"Tadi aku sempat mengikuti orang yang bernama Wilson itu," jawab Tio sambil mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Abraham.
Abraham terdiam, dia pun bangkit menghampiri Tio.
"Apa kamu berantem dengan dia?" Tanya Abraham karena itulah yang dia pikirkan.
"Bukan,"
Tio pun menyandarkan tubuhnya, kepalanya mendongak ke atas menatap langit-langit ruangan itu. Tio menerawang jauh mengingat kejadian yang tadi dia alami.
Abraham pun duduk di depan Tio, pembawaan Abraham yang tenang menandakan kalau dia tengah fokus, Abraham bersiap untuk mendengarkan cerita dari mulut Tio saat ini.
"Aku tadi sempat mengikuti dia sampai ke rumah tua yang ada di jalan anggrek, di sana dia tengah berbicara dengan beberapa orang berbadan besar dengan otot-otot yang terlihat sangat kekar. Kalau tidak salah mereka berjumlah 15 orang mungkin, aku cuma melihat jumlah segitu karena aku sempat ketahuan karena kursi yang ku pijak itu rapuh, sontak hal itu membuat mereka tahu keberadaan ku dan langsung mengejar ku. Untung saja aku bisa lolos karena tak mungkin menang melawan 15 orang berbadan kekar itu sendirian," jelas Tio dengan meringis membayangkan kalau dia sampai tertangkap dan bertarung dengan mereka, bisa-bisa wajah tampan nya kena bogem mentah karena dipastikan dia tidak akan menang.
"Aku juga sudah dapat informasi dari anak buah ku," kata Abraham membuat Tio langsung menatap sang kakak ipar dengan raut penasaran.
"Apa motif dia ingin mengusik kita?" Tanya Tio tanpa basa-basi.
"Dia itu adalah adik angkat Wiliam," jawab Abraham memejamkan matanya.
Deg...
"Ka-k William..." Tio membeku sesaat setelah Abraham mengucapkan dengan jelas nama tu.
"Kak William yang dulu sempat dekat dengan kak Arin?" Tanya Tio memastikan kalau dia orang yang sama.
"Hmmm...." Jawab Abraham dengan deheman, karena dia malas mengingat William sempat suka dengan istrinya.
Tio membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar nama itu meluncur bebas dari mulut Abraham. Ingatan langsung berputar ke sosok William yang dulu sering bersamanya saat dia masih menjadi pelanggan tetap toko kue sang kakak. Hal itulah yang menjadi awalnya kedekatan sang kakak dengan William, mulai saat itu William gencar datang mencari perhatian Arin karena ternyata William menyukai kakaknya waktu itu dan sempat ingin menikahi sang kakak namun semua itu gagal karena kemunculan Abraham.
"Tolong awasi kakak mu, aku takut orang itu merencanakan hal jahat ke Arin dan si kembar," pinta Abraham.
"Baik kak," jawab Tio singkat karena dia juga binggung harus berbicara apa, nama itu cukup membuat rumit kisah mereka.
Kring...
Kring...
"Kak sepertinya itu dari ponsel kak Abraham," kata Tio.
Lamunan Abraham buyar saat mendengar ucapan Tio.
Abraham mengerutkan keningnya kala melihat nama Doni tertera di sana. Tangannya dengan lincah mengulir tombol hijau dengan cepat.
"Halo..."
"Tuan maaf...." Kata Doni dengan nada sedikit takut.
"Cepat katakan, apa yang terjadi," bentak Abraham dengan cepat karena dari nada bicara Doni saat ini terlihat kalau sedang ada masalah besar.
"Nyo-nya Arin dan si kembar di culik tuan," jawab Doni dengan takut-takut.
"Apa? Arin dan si kembar di culik," Teriak Abraham begitu kaget mendengar kabar yang disampaikan oleh Doni saat ini.
Tio yang mendengar nama kakaknya di sebut langsung menoleh.
"Bagaimana kalian bisa kecolongan? Kenapa kamu begitu ceroboh sampai mereka bisa di culik," teriak Abraham dengan begitu murka membuat Doni di sebrang sana ketakutan.
"Maaf tuan, tadi saya tinggal ke toilet sebentar namun saat saya kembali si kembar dan nyonya sudah tidak ada di sana. Saya sudah tanya satpam di sana namun dia bilang kalau ada seseorang menghampiri nyonya, setelah saya cek cctv ternyata nyonya di tarik masuk ke dalam mobil mereka," jelas Doni merasa bersalah.
"Cepat kamu cari keberadaan mereka, laporkan kepada ku dalam 15 menit kalau tidak, kamu akan ku hukum," perintah Abraham di sertai dengan ancaman.
Klik...
Belum sempat Doni menjawab, panggilan telepon itu terputus sepihak.
Bruaaaaakkkk.... Pyarrrr...
Tumpukan berkas itu meluncur bebas, tak lama vas bunga pun tak luput dari amukan Abraham saat ini.
"Aaah... Sial bagaimana Doni bisa kecolongan seperti itu," teriak Abraham mengacak rambutnya frustasi.
"Kak tolong tenang," Tio berusaha menenangkan kakak iparnya itu agar tak terbawa emosi.
"Bagaimana aku bisa tenang, kakak kamu di culik saat ini," jawab Abraham dengan frustasi.
"Apa kak Abraham lupa kalau kak Abraham pernah memberi kak Arin, kalung dan cincin yang di dalamnya terdapat alat pelacak," kata Tio mengingatkan Abraham saat ini.
Abraham menoleh, wajah yang tadi begitu tak bersemangat seketika langsung berbinar. Dengan cepat Abraham duduk di kursi kebesaran nya, tangan nya dengan lincah mencari titik di mana Arin saat ini.
Sepuluh menit kemudian, bibir Abraham melengkung dengan sempurna.
"Ketemu..." Sudut bibir Abraham menyeringai lebar.
"Ternyata Arin dan si kembar berada di tempat yang tak jauh dari sini," kata Abraham menunjukkan dimana titik yang menandakan keberadaan Arin saat ini kepada Tio.
"Ayo kita ke sana sekarang, kamu hubungi yang lainnya," perintah Abraham kepada Tio.
"Kita bawa 20 orang atau berapa orang kak," tanya Tio saat ini mengingat tadi jumlah mereka yang mengepung dia tadi sekitar 15 orang tadi.
"Pasti mereka bukan 15 orang, jumlah itu terlalu kecil bagaimana kalau kamu bawa 100 orang dan kepung tempat itu sebelum dia bisa kabur," jawab Abraham penuh pertimbangan.
Tio pun mengangguk setuju saja.
Tio segera merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam sana, dengan lincah tangannya bergulir mencari nama Bimo untuk mengatur semua anak buahnya. Tio tak bisa datang langsung ke markas karena Tio tak bisa meninggalkan Abraham saat ini, Tio terlalu takut kalau sang kakak ipar melakukan hal-hal yang di luar kendali atau melakukan sesuatu tanpa pemikiran yang matang. Apalagi sang kakak ipar nya ini sedang kalut karena istri tercintanya sedang berada jauh di sana, keadaan nya pun tidak ada yang bisa menebaknya.
Abraham memilih mengendarai mobil sports dengan kecepatan yang cukup cepat agar segera sampai di titik di mana sang istri dan anaknya.
Abraham tengah mengendarai mobil yang lama tak pernah dia pakai, untung saja mobil itu berada di area parkir pribadi miliknya, memang di perusahaan ini Abraham memiliki tempat parkir sendiri dan tak ada yang berani memasukinya kecuali Hendra dan Red yang bertugas untuk mengecek mobilnya secara berkala agar tak mengalami kerusakan.
B E R S A M B U N G....