
"Hiks hiks hiks hiks hiks.... Papa," teriak Aurel mengetuk pintu kamar milik Abraham.
"Sstt jangan nangis sayang, papa pasti sudah tidur. Ini sudah malam, ayo kita balik ke kamar lagi kasihan Abrian tidur sendirian," bujuk mbak Tina karena sedari tadi Aurel rewel meminta tidur dengan papa dan mama nya.
Aurel berlari menuju kamar Abraham, dia begitu ingin tidur dengan sang papa tetapi mbak Tina sedari tadi melarangnya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks," Aurel masih menangis.
Ceklek....
Abraham keluar dari kamar mandi, samar-samar mendengar tangisan sang putri.
Abraham pun bergegas menuju lemari, dia mencari pakaian untuk dirinya kenakan.
Ceklek.....
"Ada apa ini," suara berat Abraham terdengar tegas penuh penekanan.
Glekk...Mbak Tina begitu ketakutan.
"Hiks hiks hiks hiks papa...." Aurel berlari masuk memeluk kaki Abraham dengan erat.
"Em-mm... Non Aurel rewel minta di tidur dengan tuan," jawab mbak Tina menunduk.
"Tinggalkan Aurel di sini, kembalilah ke kamar temani Abrian takutnya dia mencari kalian," perintah Abraham.
Mbak Tina mengangguk, dia segera pergi meninggalkan Aurel.
Abraham pun meraih tangan Aurel, dia berjongkok mensejajarkan diri nya dengan sang anak.
"Kenapa Aurel menangis?" Tanya Abraham menghapus sisa air mata di pipi sang anak.
"Hiks hiks hiks hiks hiks.... Aurel ingin tidur dengan papa dan mama seperti teman Aurel," jawab gadis kecil itu dengan sesenggukan.
Deg ...
Abraham begitu kaget dengan jawaban sang anak. Abraham sadar kalau anaknya mungkin kekurangan kasih sayang karena tidak ada kehadirannya selama ini.
'Maafkan papa nak, papa terlambat datang,' guman Abraham di dalam hati.
Bibirnya terasa keluh untuk berbicara.
Abraham pun membawa bocah kecil itu dalam pelukannya.
"Ssttt jangan nangis lagi sayang, nanti mata nya jelek seperti panda," bujuk Abraham supaya Aurel berhenti menangis.
Gadis kecil itu menerjab polos, dia mengangguk setelah itu dengan cepat Aurel mengusap kedua mata nya.
"Ayo papa gendong, kita bobok di kamar," ajak Abraham mengendong tubuh gadis kecil itu ke dalam kamar nya.
Brakk .... Pintu pun tertutup.
Abraham menepuk keningnya saat melihat Arin tertidur pulas di dalam balutan selimut tebal.
'Haduh gawat, kenapa bisa lupa kalau Arin belum memakai baju,' guman Abraham dalam hati dilanda kebingungan.
"Emm.... Kita cuci muka dulu ya, biar wajah Aurel cantik lagi," bujuk Abraham.
Di kecil itu pun mengangguk saja.
Abraham pun menaruh tubuh kecil itu ke dalam kamar mandi.
Dengan cepat Abraham keluar, dia mencoba membangunkan Arin.
"Sayang bangun," Abraham menggoyangkan tubuh Arin dengan cepat.
"Emmm.... " Arin engan membuka mata hanya menyahuti malas karena di dera rasa kantuk yang hebat.
"Aduh bagaimana ini," Abraham kesal mengacak rambut nya frustasi.
"Cepat bangun, ada Aurel," Abraham tak patah semangat, dia membangunkan Arin lagi.
Arin pun kaget, dengan cepat dia bangun. Arin clingak-clinguk mencari keberadaan Aurel.
"Mana?" Tanyanya lagi.
"Tuh di kamar mandi," tunjuk Abraham.
"Bagaimana ini?" Arin kebingungan.
Dengan cepat dia bangkit menarik selimut tebal itu. Dia mondar-mandir tak jelas.
"Cepat kamu masuk ke sana," tunjuk Abraham keruang kerja milik nya, dengan pintu yang masih terhubung.
Arin masih diam karena panik bercampur kaget.
"Cepat ke sana, sekalian bawa baju dan mandi di sana. Biar aku ganti sprei nya, cepat jalan sebelum Aurel selesai," perintah Abraham.
Arin pun menurut dia bergegas ke sana.
Abraham Menganti sprei dengan cepat sebelum sang anak kembali.
Ceklek...
"Lho pa kenapa sprei nya di ganti? Mana mama?" Tanya Aurel yang baru keluar dari kamar mandi.
Abraham bernafas lega karena mereka sampai tak terpegok oleh sang anak.
Sedangkan Arin yang berada di dalam ruang kerja Abraham juga merasa lega.
"Untung tuh pak tua cepat tanggap, kalau tidak bisa-bisa Aurel tanya macam-macam. Kan tuh anak tingkat penasaran sama bawel nya minta ampun," guman Arin.
"Aku harus bergegas sebelum tuh anak tanya macam-macam," guman Arin.
Arin pun bergegas berjalan menuju kamar mandi, Arin bernafas lega karena di sini juga terdapat kamar mandi meskipun tak sebesar di kamar milik Abraham.
Selesai mandi Arin mematut dirinya di cermin, dan betapa kagetnya saat dia melihat banyak nya tanda kemerahan yang di tinggalkan oleh Abraham di tubuhnya.
"Ck dasar pak tua mesum, gara-gara dia tubuhku jadi seperti macam tutul," Arin berdecak kesal memandang ke leher dan dada nya.
Dengan wajah cemberut Arin memakai baju, meskipun tak bisa menutupi leher nya.
"Awas saja, besok aku tidak mau di ajak beginian lagi," guman Arin.
Setelah selesai Arin memakai baju, dia pun berjalan menuju pintu penghubung ke kamar nya.
Dengan wajah cemberut menahan kesal Arin berjalan membuka pintu.
Ceklek.....
Aurel berhenti memanjat kasur milik Abraham, Aurel menoleh ke arah sumber suara pintu terbuka itu.
"Mama dari mana?" Tanya Aurel menatap penuh selidik.
"Tadi Aurel lihat mama sedang tidur, kenapa sekarang bisa dari sana, terus Papa ganti sprei kenapa?" Mulut bocah kecil itu tak henti-hentinya mempertanyakan semua hal, padahal pertanyaan tadi belum di jawab oleh Arin.
Arin menghela nafas panjang, mulut anak perempuan ini begitu cerewet. Sedangkan Abraham terkekeh melihat Arin kebingungan menghadapi mulut cerewet putrinya.
"Mama dari kamar mandi," jawab Arin santai.
"Iya sayang, tadi kan di dalam kamar mandi ada Aurel jadi mama pakai kamar mandi di sana," jelas Abraham.
"Oh...." Bocah kecil itu mengangguk-angguk kepalanya.
"Mama ngompol ya jadi sprei nya di ganti," tanya Aurel dengan polosnya.
"Pffffff...... Ha ha ha ha ha ha ha ha ha..." Abraham tergelak mendengar perkataan Aurel, dia tak bisa menahan tawanya.
B E R S A M B U N G....
LIKE, KOMEN, FAVORIT ๐