
Heh... Berlutut katamu? Meminta maaf?" Ulang Tio dengan nada mencemooh membuat wanita itu meradang menahan amarah karena Tio berani melawannya.
"Heiii cepat berlutut minta maaf," bentak orang tua itu kepada Tio dengan nada menggebu-gebu penuh perintah.
Tio acuh hanya menatap mereka datar.
"Cih itu tidak akan pernah terjadi, mungkin itu semua cuma dalam mimpimu," tolak Tio dengan nada begitu sinis.
Tio pun melanjutkan langkahnya.
"Hei..."
Tio menoleh sekilas dan menatap datar ke arah lelaki tua gendut itu. Dia pun berhenti berjalan.
"Hei kamu belum tahu siapa aku, aku adalah..." Belum selesai pak tua itu berbicara, Tio dengan lantang memotong ucapan nya itu.
"Cih kamu membanggakan diri hanya karena tempat ini, cih kamu bertindak seolah-olah kamu adalah pemiliknya," sinis Tio menatap ke arah pria tua yang tak lain adalah orang tua dari wanita sombong di depan nya.
Tap tap tap tap tap tap tap tap tap...
Muncullah beberapa pria berbadan kekar dan bertubuh tinggi, mereka mengelilingi Tio saat ini membuat Miranda dan papanya mengerutkan keningnya binggung.
'Siapa dia?' batin laki-laki yang tak lain papa Miranda itu bertanya di dalam hati nya.
Papa Miranda begitu heran, melihat banyaknya orang mengelilinginya, dari tampilan mereka seperti nya mereka seorang bodyguard. Pria itu menghela nafas panjang, padahal dia tidak memanggil bodyguard karena dia tidak pernah menggunakan jasa mereka.
'Apa papa yang mendatangkan mereka untuk membantuku?' guman Miranda bertanya-tanya di dalam hati nya sat ini.
'Apa pemuda ini yang memanggilnya, aku tak percaya namun dari penampilannya seperti nya dia orang yang berada. Tetapi saat melihat pakaian si kecil yang lusuh itu? atau semua ini hanya modus dia, ya supaya dia terlihat keren dan menggaet cewek-cewek cantik dan kaya,' batin papa Miranda memikirkan tentang Tio tentunya di dalam hati.
"Papa, apa pria-pria ini orang suruhan papa?" Tanya Miranda berbisik memastikan semuanya.
Jujur Miranda awalnya kaget kemunculan mereka semua,namun dia berfikir positif bahwa mereka semua adalah orang suruhan papanya untuk menjaga dia dan menakuti pemuda itu.
"Tidak, bayaran mereka itu tidak sedikit jadi mana mungkin papa buang-buang uang begitu banyak untuk 10 bodyguard itu. Kamu tahu kan gaya hidup kamu dan mama mu saja sudah menguras dompet papa jadi mana mungkin papa buang-buang uang untuk sewa jasa mereka," jawab papa Miranda mengelengkan kepalanya dengan berbisik agar tak ketahuan oleh semua orang terlebih lagi oleh pemuda tampan di depan nya saat ini.
"Benar pa? Ah papa pasti bohong," bisik Miranda memastikan apa yang di dengarnya.
"Iya, mana mungkin papa bohong," jawabnya.
Wajah Miranda memucat seketika.
"Ja-ja-di mereka itu suruhan pria itu pa," kata Miranda dengan bisik kepada sang papa karena dia begitu terkejut.
'Jadi apa yang dikatakan oleh nya tadi benar semua, gawat.....' Batin Miranda ketar-ketir.
Tio menatap mereka dengan tatapan meremehkan.
Aurel masih meluk Tio dengan erat, dia melingkarkan tangannya begitu kuat memeluk leher Tio saat ini seolah engan melepaskan nya.
Karena penampilan dari Aurel mungkin mereka menganggap bahwa Aurel adalah gadis kecil yang bukan dari kalangan atas.
Memang setelah kejadian penculikan itu, baju Aurel terlihat kusut dengan beberapa kotoran mengenai pakai sekolah Aurel.
"Maaf bos, kami terlambat datang," jawab salah satu dari mereka dengan menunduk.
Miranda dan papanya tercengang, mulut mereka menganga lebar mendengar ucapan dari para bodyguard tadi, mereka berdua masih engan untuk percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Aku bisa saja dengan muda memecat pak tua sepertimu dari sini," tunjuk Tio ke arah papa Miranda.
"Hei kamu jangan asal berbicara, kamu tahu saat ini berbicara dengan siapa? Berani kamu memecat ku, memang kamu siapa?" Kata papa Miranda seolah menantang Tio saat ini juga.
"Ha ha ha ha ha ha, aku Tio adik ipar dari tuan Abraham selaku pemilik tempat ini," kata Tio dengan tenang namun bisa membuat kedua manusia sombong di depan nya itu syok tak percaya.
Deg...
Papa dan anak itu mematung di buatnya, tubuhnya terasa lemas tak berdaya saat ini. Seakan ada palu besar menghantam kepalanya saat ini.
"Ka-kamu pasti bercanda," kata papa Miranda menolak percaya apa yang di dengar nya saat ini juga.
"Ha ha ha ha ha ha ha, bercanda? Memang kalian berdua sepenting itu," sinis Tio menatap remeh keduanya.
Papa Miranda langsung tertunduk lemas, sedangkan Miranda mengelengkan kepalanya masih tak percaya dengan apa yang di kata kan Tio saat ini.
Namun beberapa saat Miranda pun menegakkan badannya kembali, dia menatap Tio dengan angkuh.
"Cih mana buktinya kalau tuh anak, anaknya tuan Abraham yang terkenal sebagai pengusaha kaya raya, ck kamu pasti hanya membual saja kan" kata Miranda penuh dengan tantang saat ini.
Mendengar ucapan dari sang anak, pria paru baya itu itu pun mengangguk setuju mendengar penuturan dari anaknya.
"Ha ha ha ha ha ha ha, dasar wanita angkuh sombong, kita lihat saja sampai di mana kesombongan mu itu," sinis Tio.
Tak berapa lama, Tio pun mengeluarkan ponsel mahalnya dari saku celana.
Tit tit tit tit tit...
Setelah mencari nomor seseorang yang penting, dengan cepat Tio menyunggingkan senyum penuh cemooh kepada kedua manusia yang begitu sombong di depan nya.
Tut... Panggilan pun tersambung dari orang di sebrang sana.
"Halo om Hendra," ucap Tio dengan santainya kepada seseorang di sebrang sana.
Mendengar nama Hendra, papa Miranda melotot, dia begitu kaget di buatnya.
Glekkk....
"Pak Hendra?" Guman papa Miranda.
'Ah mana mungkin dia benar tuan Hendra, pasti pemuda itu coba menipuku,' batin papa Miranda mengelengkan kepalanya.
'Apa benar yang dikatakan pemuda tampan itu, kalau benar? Apa yang akan terjadi kepada ku dan papa nanti? Apa aku harus segera meminta maaf?'Guman Miranda di dalam hati nya penuh kebimbangan.
Miranda sadar ternyata pemuda di depan nya saat ini bukan pria biasa, dia harus berfikir cepat agar bisa selamat dari sini kalau benar apa yang dikatakan pemuda tadi. Miranda tidak ingin mengambil keputusan yang salah untuk kedua kalinya karena memprovokasi orang yang salah.
Miranda merutuki mulutnya yang telah salah memaki gadis kecil tadi.
'Apa aku harus merayu pria tampan itu dan anak kecil tadi?' batinnya mencari solusi yang paling tercepat.
'Ah aku harus coba, mengingat tidak ada pemuda yang bisa menolak pesona kecantikan ku,' sambungnya di dalam hati.
B E R S A M B U N G....
๐๐