
Doni mengandeng mesra tangan sang istri, dia memilih diam meskipun mengetahui apa yang terjadi. Doni berlapang dada karena sang istri sudah mau menerima dirinya meskipun dengan keadaannya yang begini, ya dengan keadaan fisik yang mengerikan.
Sudut bibirnya tersenyum kecil saat tak sengaja mendengar kata istrinya tadi.
Meskipun pernikahan mereka di awali dengan keterpaksaan namun sang istri mau menerima dirinya dengan sepenuh hati, istrinya itu mau mencoba mencintai dirinya dengan tulus.
Ah ingin rasanya Doni berterima kasih kepada tuan Abraham nya itu, secara tak sengaja karena dialah yang menyuruh untuk menikahi wanita di sampingnya itu.
"Aku takut," cicit mbak Tina membuat Doni menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang istri.
"Kenapa?" Tanya Doni dengan kening mengkerut.
"Apa nyonya Arin dan tuan Abraham mau menemui ku," lirih mbak Tina.
Doni menghela nafas panjang, dia mengerti ketakutan sang istri.
"Jujur, nyonya Arin sama seperti Tio juga belum tahu kalau kita menikah terlebih lagi yang sudah kamu lakukan untuk menjebak tuan Abraham. Semuanya masih tertutup rapat seperti yang ku ucapkan dulu kalau kamu hanya pamit untuk pulang kampung karena orang tua mu menyuruh kamu menikah, itu saja jadi kamu jangan takut nyonya Arin tak akan bertanya macam-macam. Ingatlah ada aku yang akan selalu menemani mu," jelas Doni panjang lebar menjelaskan semuanya supaya sang istri berani.
"Terimakasih," mbak Tina berhambur memeluk Doni secepatnya, dia berfikir kalau dia begitu beruntung memiliki Doni meskipun tegas namun penuh pengertian dan kasih sayang.
Bagi mbak Tina fisik tak masalah karena selama ini Doni selalu bersikap baik, tak pernah sekalipun membentaknya.
"Sudah jangan nangis lagi, ayo kita segera bertemu dengan nyonya Arin dan setelah itu kita pulang karena sebentar lagi keluarga mu di kampung akan datang ke rumah," kata Doni mengingatkan wanita cantik itu.
Mbak Tina mengusap air matanya, dia tersenyum kala mengingat orang tua yang telah lama tak bertemu dengan nya.
"Nah gini kan cantik," kata Doni tersenyum genit.
"Ih genit," senyum malu mbak Tina saat mencubit tangan Doni.
"Biarin genit sama istri," jawab Doni seenaknya.
"Ayo," dengan segera mengandeng tangan Doni meskipun wajahnya tersipu malu, mbak Tina tak ingin suaminya itu terus menggoda dirinya.
Tap tap tap tap tap...
Keduanya pun meninggalkan lorong itu dengan tangan saling bertautan.
Tanpa keduanya sadari, mata penuh amarah menatap tajam dengan sorot penuh kekecewaan.
Nyuut.... Hatinya begitu perih, melihat interaksi keduanya, tanpa terasa tangannya terkepal erat.
Cinta pertama nya itu hilang menyisakan luka yang teramat perih. Membuat nya membenci sosok wanita. Ya dia adalah Tio yang sedari tadi bersembunyi di sudut tempat, meskipun tak mendengar pembicaraan mereka tetapi melihat kemesraan itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata nya.
"Kenapa aku harus menangisi wanita seperti mu," Tio mengusap wajahnya kasar sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Arin dan Abraham duduk berdua menikmati makanan yang tersaji di sana, Abraham dengan telaten menyuapi sang istri.
"Ck bikin iri saja," cibir Bimo yang melihat kemesraan mereka.
"Kenapa muka paman jelek begitu?" Tanya Aurel saat melihat wajah masam Bimo.
'Anak sama tuan sama-sama bermulut pedas,' batin Bimo.
"Muka paman ini ganteng begini di bilang jelek," grutu Bimo.
"Ganteng dari mana? Ya kan Bu dokter, muka paman Bimo jelek," kata Aurel bertanya kepada dokter Esta yang berada di samping Aurel.
Deg...
Bimo pun menoleh tanpa sadar dia melihat dokter Esta duduk di dekat Aurel, sungguh Bimo merasa malu. Andai ada lubang semut pasti dia akan bersembunyi di dalam nya.
"He he he he he Aurel bisa saja," jawab dokter cantik itu dengan canggung.
Mata nya menatap ke arah dokter Rian dengan sendu.
"Tuh kan gara-gara paman Bimo, Bu dokter ikutan pasang muka jelek," kata Aurel menatap ke arah Bimo dengan sinis.
"Sayang Tante tersenyum lihatlah," kata dokter Esta seolah mengerti keinginan gadis kecil.
Senyum itu mampu membuat seseorang terpanah.
"Cantik," gimana Bimo tanpa sadar.
"Ayo bu dokter kita pergi dari sini saja jangan duduk dekat dengan paman Bimo biar tidak ketularan muka jeleknya itu," gadis kecil itu menuntun dokter Esta meninggalkan Bimo.
Dokter Esta pun menunduk sebentar sebagai permintaan maaf kepada Bimo karena perkataan Aurel tadi.
Sedangkan Doni pun mencari keberadaan Arin dan Abraham.
"Nah itu tuan Abraham," tunjuk Bimo.
Keduanya pun berjalan menghampiri meja tuan nya.
"Tuan," panggil Doni dengan menunduk.
"Ada apa Don?" Tanya Abraham. Sedangkan Arin tak menyangka bisa melihat mantan pengasuh anaknya itu terlebih lagi mengandeng Doni.
"Saya dan istri saya ingin mengucapkan selamat kepada nyonya Arin," kata Bimo.
Arin kaget mendengar Doni mengatakan kalau mbak Tina adalah istri nya.
"Ka-kalian sudah menikah?" Kata itu meluncur dari mulut Arin.
"Iya Bu," jawab mbak Tina malu-malu.
"Jadi ini alasanmu pergi waktu itu tanpa pamit," kata Arin membuat mbak Tina terdiam, mbak Tina pun melirik ke arah sang suami.
"Iya nyonya," jawab Doni.
"Kata suami saya, kamu pulang kampung di suruh menikah. Ini yang benar bagaimana?" Tanya Arin memastikan.
Abraham dan Doni saling berpandangan memberi kode.
"Saya pulang kampung karena ibu saya meminta saya menikah dengan orang pilihannya tetapi saya tidak mau jadi memilih menikah dengan mas Doni," kata mbak Tina mengarang bebas dengan lancar agar tak membuat Arin curiga.
"Oh begitu, selamat ya buat kalian berdua," jawab Arin tersenyum.
Abraham, Doni dan mbak Tina pun lega. Arin pun mengulurkan tangannya untuk memeluk mbak Tina.
"Terimakasih Bu Arin, maaf saya tidak sempat berpamitan dengan bu Arin," kata mbak Tina membalas pelukan hangat dari Arin. Arin mengusap punggung Mbak Tina.
Akhirnya semuanya pun bahagia, rasanya perasaan bersalah mbak Tina pun menguap dengan kebaikan yang Arin berikan.
Doni tersenyum senang melihat sang istri yang begitu bahagia.
Semuanya tengah berbahagia, berbeda dengan seorang laki-laki yang tengah duduk di taman belakang dengan termenung.
Pluk.... Seseorang menepuk pundaknya dari belakang membuat nya menoleh.
"Sudah jangan sedih, mungkin dia bukan terbaik buat Lo," kata Rio sang saudara kembar.
Ya tadi Rio sempat melihat Tio mengobrol dengan mbak Tina dan dia pun berinisiatif untuk menguping.
Sebagai saudara dia juga sedih melihat saudaranya terpuruk dalam kesedihan.
"Kenapa dia lebih memilih Doni itu daripada aku, apa kurangnya aku," lirih Tio.
"Mungkin dia bukan jodoh kamu," kata Rio menguatkan Tio setelah itu dia memilih pergi.
B E R S A M B U N G....