
"Alhamdulillah kenyang," kata bocah kecil itu dengan riang mengusap perutnya yang terasa kenyang.
"Ma bagaimana adik Andra, apa dia tidak mencari kita?" Tanya Aurel teringat adiknya yang masih kecil itu.
"Adik pasti lagi bobok di temani sama mbak nya," lirih Arin menatap ke arah pergelangan tangan nya. Jam menunjukkan kalau saat ini pasti Andra sedang tertidur.
"Oh..." Aurel mengangguk setuju.
'Nak semoga kamu tidak rewel di sana,' batin Arin memikirkan anaknya yang masih kecil.
"Sudah ma, jangan mikirin adik karena ada Aurel sama kak Abrian. Lagian pasti adik sedang di gendong oma," kata Aurel mengelus perutnya yang terasa penuh.
Jangan lupakan senyum manis yang menghiasi wajah Aurel karena merasa puas setelah memakan Ayam goreng kesukaan nya tadi. Mata Aurel terasa berat, berkali-kali dia mempertahankan matanya agar tak tertutup namun semua sia-sia saja.
"Ma ngantuk," lirih Aurel berkali-kali menguap membuat Abrian menghembuskan nafas kesal melihat kelakuan Aurel yang begitu menjengkelkan di mata Abrian.
Arin tersenyum membelai rambut sang putri manja nya itu.
'Andai adik bisa di pilih tentu aku tidak akan memilih adik cerewet seperti dia,' batin Abrian melirik sang adik dengan malas.
'Dasar, habis makan langsung ngantuk,'
'Ck tuh anak gak ada takut-takut nya, apa dia tidak sadar ya kalau di culik,'
Tak henti-hentinya Abrian sang saudara kembar itu mencibir Aurel sang adik dengan kesal
Aurel menguap berkali-kali tanpa dosa dan dengan entengnya dia merebahkan tubuhnya di pangkuan Arin karena matanya sedikit mengantuk.
"He he he he he he," Arin tak bisa menahan untuk tertawa melihat tingkah anaknya itu.
'Kenapa kelakuan anak perempuan ku tidak ada sopan nya, apa mungkin aku terlalu memanjakan nya sampai saat ini,' batin Arin menatap lekat wajah sang anak.
"Kenapa ma?" Tanya Abrian yang melihat sang mama tertawa namun tidak dengan suara keras.
Arin menoleh saat mendengar suara dari anak laki-laki nya.
"Tidak sayang, ma cuma heran bagaimana bisa adik kamu tidur dan seperti tidak takut berada di sini," Jawab Arin mengelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak.
"Entahlah ma mungkin Aurel berfikir kita sedang piknik," jawab yang keluar dari mulut kecil itu sontak membuat Arin tak percaya, kecerdasan sang di atas anak kecil pada umum nya saat ini.
"Ha ha ha ha ha ha ha, untung dia tidak tahu kalau ini kita masih di culik kalau dia tahu bisa cerewetnya itu semakin membuat kita berdua akan semakin pusing saat ini," jawab Arin di sertai tertawa untuk menenangkan hati nya yang sedang takut. Ucapan Arin pun diangguki oleh Abrian.
Namun tanpa Arin duga, mata kecil itu terbuka lebar. Dia mencerna ucapan yang keluar dari mulut sang mama.
"Jadi kita di culik ma?" Tanya Aurel dengan polosnya.
"Iya nak kita sedang di culik," ceplos Arin tak sadar kalau yang sedang bertanya saat ini adalah Aurel.
Deg....
Arin menatap Abrian dengan seksama namun untuk sesaat langsung keduanya tersadar, mata Arin melotot kaget ke arah Aurel karena tak percaya ternyata Aurel yang dia kira tidur ternyata masih belum tidur.
Mata kecil itu berkaca-kaca ingin menangis namun bibir itu masih bertanya.
"Terus nanti kita bagaimana ma? Hiks hiks hiks hiks hiks hiks Aurel kangen Oma, om Tio, om Rio sama papa. Hiks hiks hiks hiks..... Apa nanti kita tidak akan bertemu dengan mereka lagi?" Mulut kecil Aurel begitu takut tidak bisa bertemu dengan mereka lagi jangan lupakan isakan tangis dari mulut kecil itu.
"Sttt..... Tenang sayang, papa akan segera datang jemput kita," bujuk Arin dengan lirih meskipun Arin juga tidak yakin sang suami akan tahu keberadaan mereka.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, Ma.... Aurel takut," akhirnya tangis bocah itu pecah meskipun tidak begitu keras seperti tadi.
Arin hanya bisa mendekap erat sang anak dan mulut Arin tak berhenti untuk membujuk sang anak agar segera berhenti menangis.
Arin yakin pasti sang suami akan segera datang untuk menyelamatkan dari tempat ini.
'Sayang cepat datang,' guman Arin di dalam hati menunggu kedatangan suami tercintanya saat ini.
☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di tempat berbeda.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, kamu harus menderita dengan kehilangan anak dan istrimu," kata Wilson tertawa begitu senang.
"Bos setelah ini kita apakan mereka? Mana anak perempuan nya cerewet banget, pusing aku dengar nya," kata pria botak itu menyampaikan keluh kesahnya.
Brakkkk....
Wilson mengebrak meja dengan keras membuat ke 5 anak buahnya itu ketakutan.
"Kamu jaga mereka dengan baik-baik, karena aku punya rencana buat mereka setelah ku habisi tuan Abraham yang terkenal kejam itu," kata Wilson dengan jumawa.
Wilson masih percaya diri karena dia belum tahu Abraham yang sebenarnya.
"Baik bos," jawab mereka dengan patuh.
"Bos, perempuan itu cantik dan kalau kita habisi sayang. Bagaimana kalau perempuan itu jadi istri saya?" Tanya salah satu pria yang menjadi bawahannya dengan berani.
Mendengar itu Wilson melotot.
Brakkk....
Brakk...
Wilson mengebrak meja dengan keras membuat pria tadi kaget dan langsung terdiam ketakutan, wajah Wilson langsung mengelap seketika.
Tak ingin membuat bos mereka murka, pria tadi memilih diam menunduk tanda dia menyesali ucapannya tadi.
'Kenapa nih mulutku lemes, sudah tahu kalau bos itu orangnya keras. Dasar mulut ember,' batin pria itu menggerutu di dalam hati menyesali mulutnya yang salah berbicara tadi.
"Diam, jangan lakukan apapun. Tunggu perintah saya," kata Wilson menatap tajam ke arah pria tadi.
"Siap bos," jawabnya.
Setelah itu Wilson beranjak dari tempat itu menuju kamar yang tersedia di sana.
Meskipun bangunan itu terlihat tak terawat di luar namun di dalam semua masih bagus dan cukup bersih.
" Dasar anak buah mata keranjang, lihat perempuan cantik saja tuh mata langsung hijau," grutu Wilson karena ulah anak buahnya yang sudah masuk ke pesona Arin.
"Ck memang tuh perempuan cantik, sampai-sampai kakak William jadi korban dan gelap mata ingin memiliki cinta wanita. Tetapi semua ini bukan salah perempuan itu ataupun kak William, yang salah adalah Abraham itu, dia dengan kejam memisahkan perempuan itu dengan kak William padahal kak William sudah kenal begitu lama dengan perempuan itu sampai keluarga mereka sudah setuju dengan kak William. Dasar Abraham saja yang egois tiba-tiba muncul dan merebut perempuan itu dari kak William," grutu Wilson mengingat kisah cinta sang kakak yang dramatis.
Bersambung....